Konten dari Pengguna
Semua Bisa Berdaya
28 Desember 2025 14:14 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Semua Bisa Berdaya
Pendidikan bisa menjadi jalan bagi setiap anak bangsa untuk berdiri tegak, percaya diri, dan berdaya, apa pun latar belakangnya.Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul “Semua Bisa Berdaya” terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Buku ini bukan sekadar laporan kinerja tahunan administrasi pemerintahan, melainkan narasi tentang perubahan arah pendidikan vokasi, pendidikan khusus, dan pendidikan layanan khusus di Indonesia. Buku “Semua Bisa Berdaya” berkisah tentang bagaimana negara hadir, bukan hanya untuk mereka yang sudah siap berlari, tetapi juga untuk mereka yang tertinggal, terpinggirkan, dan membutuhkan dukungan afirmatif. Menyimak Buku, pembaca diajak memahami satu pesan kunci, yakni pendidikan harus memberdayakan semua, tanpa kecuali.
Disusun dengan alur yang runtut, dimulai dengan prolog dan dipungkas dengan epilog sehingga buku ini mampu memotret secara lebih utuh transformasi dan arah baru Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) di bawah payung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Lahirnya Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK melalui Perpres Nomor 188 Tahun 2024 menjadi tonggak penting. Untuk pertama kalinya, pendidikan vokasi, pendidikan khusus, dan pendidikan layanan khusus berada dalam satu atap kebijakan. Hal ini bukan sekadar penataan organisasi, melainkan pernyataan sikap bahwa layanan pendidikan harus inklusif sekaligus relevan dengan dunia kerja.
Pada bagian awal, buku ini menjelaskan mandat besar Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK. Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Sekolah Luar Biasa (SLB), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) disatukan dalam satu visi besar membangun manusia Indonesia yang berdaya. Makna “berdaya” di sini terasa luas dan insani karena tidak berhenti pada keterampilan kerja, tetapi juga mencakup kemandirian, inklusivitas, dan kemampuan bertumbuh sepanjang hayat. Pendidikan diposisikan sebagai jalan untuk mengubah nasib, membuka peluang, dan menumbuhkan harapan sekaligus memanusiakan manusia.
Bab tentang Tujuan Mulia Presiden dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) memperlihatkan bagaimana kebijakan nasional diterjemahkan ke dalam program konkret. Pidato Presiden Prabowo Subianto pada 15 Agustus 2025 menjadi penunjuk arah yang tegas bahwa pendidikan vokasi merupakan poros utama pembangunan sumber daya manusia (SDM). Buku ini menunjukkan bahwa arah tersebut tidak berhenti di ranah wacana, tetapi dijalankan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan pemenuhan gizi anak sekolah.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dituturkan dengan memikat karena tidak hanya bicara soal bangunan fisik, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi. Renovasi ruang kelas, laboratorium, dan sarana praktik di ribuan SMK, SLB, PKBM, dan SKB digambarkan sebagai upaya menghadirkan ruang belajar yang aman, ramah, dan bermartabat. Lebih dari itu, program ini menciptakan efek ekonomi berlapis karena menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal dan melibatkan ribuan UMKM. Pendidikan, dalam narasi buku ini, bukan hanya soal mencerdaskan, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.
Selanjutnya, Bagian tentang digitalisasi pembelajaran menjadi salah satu yang paling hidup. Kehadiran papan interaktif digital (PID) atau interactive flat panel (IFP) digambarkan bukan sebagai simbol kecanggihan teknologi, melainkan alat transformasi pedagogi. Di SMK, PID mendukung pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan simulasi industri. Di SLB, teknologi ini membuka akses belajar yang lebih inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas. Sementara di PKBM dan SKB, digitalisasi menjadi jembatan bagi pendidikan sepanjang hayat. Buku ini berhasil menunjukkan bahwa teknologi, ketika dirancang dengan niat yang tepat, dapat menjadi alat pemerataan, bukan sumber kesenjangan baru.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menambah dimensi penting dalam cerita besar pendidikan. Buku ini dengan apik menautkan gizi, kesehatan, dan pembelajaran. Anak yang sehat menjadi prasyarat anak yang siap belajar. Integrasi MBG dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga melalui praktik hidup sehari-hari. Dampak ekonominya pun terasa, dengan pelibatan petani, nelayan, UMKM, dan koperasi lokal dalam rantai pasok.
Sementara, Bab Menyemai Akses Pendidikan yang Setara menyentuh sisi emosional buku ini. Data tentang Angka Partisipasi Kasar dan jutaan anak usia sekolah yang belum bersekolah dipaparkan apa adanya. Namun buku ini tidak berhenti pada angka. Kisah Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), termasuk uji terap di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, menghadirkan wajah manusiawi dari kebijakan. Cerita orang tua pekerja migran yang berharap anaknya memiliki masa depan lebih baik membuat pembaca menyadari bahwa pendidikan benar-benar soal harapan lintas generasi.
Pendidikan inklusif juga mendapat ruang yang layak. Buku ini menegaskan bahwa pendidikan bermutu untuk semua bukan slogan kosong. Layanan bagi penyandang disabilitas, anak di daerah 3T, hingga warga belajar di jalur nonformal diposisikan setara. Negara hadir melalui kebijakan afirmatif, inovasi layanan, dan pendekatan yang menghormati keragaman.
Tentu, sebagai buku yang merekam kinerja dan kebijakan, "Semua Bisa Berdaya“ tidak lepas dari gaya narasi yang formal dan padat. Namun justru di situlah kekuatannya karena mampu memberi gambaran utuh tentang kerja besar di balik layar pendidikan di tanah air. Buku ini layak dibaca oleh pendidik, pengambil kebijakan, pegiat pendidikan, dan siapa pun yang percaya bahwa pendidikan adalah alat paling ampuh untuk memberdayakan manusia.
Pada akhirnya, “Semua Bisa Berdaya” merupakan ajakan optimistis bahwa dengan kebijakan yang inklusif, kolaboratif, dan berpihak pada manusia, pendidikan bisa menjadi jalan bagi setiap anak bangsa untuk berdiri tegak, percaya diri, dan berdaya, apa pun latar belakangnya.

