Konten dari Pengguna

Ventrilokuis untuk Terapi Kreatif Kesehatan Mental

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
12 Desember 2025 20:43 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ventrilokuis untuk Terapi Kreatif Kesehatan Mental
Selama ini seni ventrilokuis lebih dikenal sebagai hiburan, terutama bagi anak-anak. Tapi rupanya ada potensi yang jauh lebih dalam dari kemampuan ini. #userstory
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ventrilokuis untuk Terapi Kreatif Kesehatan Mental Foto: Tatang Muttaqin
zoom-in-whitePerbesar
Ventrilokuis untuk Terapi Kreatif Kesehatan Mental Foto: Tatang Muttaqin
Dalam pengantar buku anyar bertajuk “Seni Ventrilokuis: Mengoptimalkan Alter Ego sebagai Terapi Kreatif untuk Kesehatan Mental” karya Habib Prastyo, psikolog Prof. Dr. Seto Mulyadi yang beken dipanggil Kak Seto menekankan bahwa dunia anak dan kesehatan mental membutuhkan lebih banyak pendekatan kreatif yang ramah jiwa. Ia menyebut buku ini sebagai salah satu terobosan unik yang menggabungkan seni, psikologi, dan permainan imajinasi. Buku ini dapat membantu seseorang berdialog dengan dirinya sendiri melalui karakter alter ego. Menurut Kak Seto, ventrilokuis bukan hanya pertunjukan panggung, tetapi juga jembatan untuk memahami emosi secara lebih aman dan menyenangkan.
Buku “Seni Ventrilokuis“ memang terasa seperti membuka jendela baru dalam terapi kreatif. Selama ini, seni ventrilokuis lebih dikenal sebagai hiburan, terutama bagi anak-anak. Namun Habib Prastyo melihat potensi yang jauh lebih dalam, yaitu kemampuan untuk menghidupkan suara kedua sebagai sebuah alter ego yang mampu mengekspresikan apa yang sulit kita ucapkan secara langsung.
Sebagai pembaca, kita diajak secara perlahan menjelajahi konsep bahwa setiap orang memiliki “suara tambahan” dalam dirinya. Bukan dalam arti patologis, tetapi sebagai representasi dari sisi diri yang ingin didengar. Melalui boneka, karakter, atau bahkan tangan kosong yang diberi peran tertentu, Habib menunjukkan bagaimana teknik ventrilokuis bisa menjadi ruang aman untuk mengekspresikan stres, kecemasan, dan konflik batin dengan cara yang ringan namun tetap terapeutik.
Buku ini tidak terjebak dalam bahasa teknis atau teori yang kompleks. Justru penulis yang biasa dipanggil Kak Tyo dalam setiap pertunjukannya menggunakan contoh-contoh nyata dari praktik pendampingan anak, remaja, hingga dewasa. Ada cerita tentang anak pemalu yang akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya lewat boneka kecilnya. Ada pula kisah orang dewasa yang menghadapi trauma masa kecil, lalu menemukan keberanian berbicara setelah memberi “suara” pada tokoh imajinernya. Semua kisah disampaikan hangat, membuat pembaca merasa bahwa terapi bisa hadir dari hal-hal sederhana dan menyenangkan.
Secara struktur, buku "Seni Ventrilokuis" dirancang dengan sangat rapi dan mengalir secara metodis, memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang untuk mengikuti setiap tahapan yang disajikan. Pada bagian awal, fokus utama diletakkan pada penguasaan dasar-dasar teknis ventrilokuis. Pembaca akan dibimbing untuk menguasai elemen-elemen fundamental, seperti teknik vokal yang penting untuk menghasilkan suara "tanpa gerakan bibir", pelatihan pernapasan untuk daya tahan, serta panduan praktis dalam membangun karakter alter ego yang kuat dan konsisten.
Beranjak dari dasar teknis, bagian berikutnya beralih menyorot secara mendalam aspek psikologis dan terapeutik dari seni ini. Bagian ini menjelaskan kerangka teoritis bagaimana alter ego bekerja dalam pikiran bawah sadar, mengapa teknik ventrilokuis ini dapat menjadi katarsis (pelepasan emosi) yang efektif, dan langkah-langkah konkret bagaimana membangun dialog internal yang sehat dan produktif menggunakan karakter boneka.
Ventrilokuis untuk Terapi Kreatif Kesehatan Mental Foto: Tatang Muttaqin
Kekuatan utama buku ini adalah kesederhanaannya. Habib tidak berpretensi bahwa ventrilokuis adalah solusi segala masalah. Ia justru menawarkan cara pandang baru: bahwa setiap orang berhak punya medium aman untuk mengekspresikan diri, dan ventrilokuis bisa menjadi salah satunya. Gaya penulisannya jujur, bersahabat, dan sesekali mengundang senyum.
Keberadaan pengantar dari psikolog sekelas Kak Seto, yang telah lama mendedikasikan diri pada perkembangan jiwa anak dan kesehatan mental, secara otomatis mengukuhkan posisi buku ini sebagai referensi yang substansial dan penting bagi para pendidik, pendamping psikososial, orang tua, terapis, maupun siapa pun yang ingin mengeksplorasi kreativitas sebagai alat penyembuhan. Kak Seto menegaskan bahwa suara yang keluar dari boneka bukan sekadar hiburan; tetapi memiliki makna psikologis yang mendalam: suara itu berpotensi menjadi representasi otentik dari suara hati yang selama ini terpendam, tertekan, atau tertahan yaitu sebuah unexpressed feeling yang menemukan saluran ekspresi yang aman. Perspektif ini tidak hanya meningkatkan nilai buku, tetapi juga menawarkan paradigma baru dalam melihat seni ventrilokuis sebagai metode katarsis dan introspeksi yang efektif.
Secara keseluruhan, buku ini adalah sebuah karya yang sangat segar, inspiratif, dan berhasil membuka cakrawala baru dalam dunia terapi dan pengembangan diri. Habib Prastyo mengajak kita untuk merangkul dan tidak takut bermain dengan imajinasi, sebab terbukti, dari ruang permainan yang ringan itulah terkadang kita justru menemukan kedamaian dan solusi yang paling jujur. Penulis dengan cemerlang membuktikan bahwa proses terapi tidak harus selalu serius atau kaku. Sebaliknya, kesehatan mental dapat dirawat melalui tawa, dialog imajinatif, dan keberanian untuk memberikan panggung yang layak bagi alter ego kita sendiri. Dengan manfaat yang begitu luas.
Buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca tidak hanya untuk pegiat seni pertunjukan, peneliti tumbuh kembang anak,terapis kesehatan mental, psikolog dan praktisi pendidikan anak namun juga untuk siapa saja yang ingin menemukan cara lembut untuk lebih mengenal dirinya sendiri.
Trending Now