Konten dari Pengguna
Kita Terlalu Sempurna untuk Jadi Manusia?
29 November 2025 17:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kita Terlalu Sempurna untuk Jadi Manusia?
semakin pesat perkembangan teknologi, dan semakin teknologi Artificial Intelligence memasuki ruang-ruang kampus, pada saat itulah kecurigaan akan hasil karya mahasiswa yang autentik dicurigai hasil AITaufik Hidayat
Tulisan dari Taufik Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada satu saat, ruang kelas yang seharusnya ramai dengan perbincangan antar mahasiswa dengan tiba-tiba membeku dalam suasana diam yang eloquent. Setelah salah satu mahasiswa menyelesaikan presentasinya dengan begitu memukau โ argumentasi yang ia gaungkan tertata rapi layaknya barisan buku-buku berjejer di rak lemari, kedalaman analisisnya yang menyentuh dasar akar masalah, dan deretan katanya yang elegan serta sangat mengena.
Hingga sang dosen pun, dengan wajahnya yang berbinar, menyanjungnya sebagai contoh yang sepatutnya karya akademik yang matang. Namun di balik apresiasi yang menggema ini, muncul bisikan-bisikan lirih bagai kabut di pagi hari; โpasti itu hasil AI,โ โsaya agak kurang percaya kalau ini hasil dia, terlalu sempurna untuk dapat dikatakan hasil manusia soalnya.โ
Aneka macam komentar ini, yang mungkin telah marak terjadi di beberapa kampus, bukanlah insiden yang dapat dianggap remeh dalam dunia akademik. Ia menjelma layaknya manifestasi dari gempa epistimologis yang kian mewabah, menggoyangkan fondasi cara kita memahami apa sebenarnya hakikat dari kreativitas, orisinalitas dan pencapaian akademik.
Kita saat ini berada dalam satu zaman di mana kita diposisikan sebagai penonton atas lahirnya sebuah alur paradoks yang tak terkendali: semakin banyak mesin yang diproduksi oleh kita dengan kecerdasan yang sebelumnya tidak bisa dibayangkan, semakin kita buta dalam melihat kecerdasan sesama manusia. Dalam hal ini, terdapat pertanyaan yang perlu kita segera tuntaskan; apakah sebenarnya akar masalah timbulnya fenomena ini?
Akar masalahnya mungkin terletak pada krisis kepercayaan yang lebih mendalam. Dalam kehidupan Masyarakat yang kian hari makin terdigitalisasi, dapat disadari bahwa sebenarnya kita telah lama menjadi korban dari apa yang oleh salah satu filsuf bernama Jean Baudrillard disebut Hyperreality โ sebagaimana dunia tiruan terasa lebih nyata ketimbang aslinya.
Seperti halnya satu contoh, Ketika ada seseorang menunjukkan lompatan kualitas dalam berpikir, insting pertama yang marak terjadi saat ini adalah kecurigaan bahwa hal tersebut merupakan hasil algoritma, bukan buah dari transformasi pemikiran yang murni. Hal ini memicu suatu persoalan, di mana kita lebih mempercayai hasil produksi kecerdasan buatan daripada kecerdasan alami manusia.
Dan yang lebih memprihatinkan, sistem pendidikan kitalah yang seharusnya bertanggung jawab atas situasi seperti ini. Semenjak beberapa decade, kita telah memuja-muja standar kesempurnaan yang terstandarisasi; seperti perlunya diterapkan struktur baku tiga bagian, argumentasi yang linier, dan bahasa formal yang steril dan tanpa mengandung jiwa. Kita telah telanjur menciptakan kriteria kualitas dalam sistem pendidikan yang pada dasarnya bersifat mekanis โ tak lain seperti cara kerja AI.
Hingga tak mengherankan ketika seorang mahasiswa di kelas, menghasilkan karya yang memenuhi semua standar kriteria โkesempurnaanโ itu, kecurigaan dan kebingungan menjadi hal yang wajar dalam membedakan mana hasil pemikiran manusia yang autentik dan mana hasil produksi algoritma komputer.
Dampak psikologis dari fenomena ini bahkan jauh lebih dalam dari yang dapat kita rasakan di permukaan. Setiap kali ada mahasiswa atau masyarakat secara umum dengan mudah melontarkan tuduhan โini pasti hasil karya AIโ, sebenarnya, tanpa sadar kita sedang menggerogoti motivasi intrinsik seseorang โ yang merupakan kebutuhan psikologis mendasar manusia untuk diakui dan dihargai kapasitas intelektualnya.
Yang terancam bukan lagi sekadar harga diri, tetapi lebih dari itu, hasrat mendalam untuk berproses, belajar lebih tekun, dan berkembang juga ikut terancam. Membahasnya dalam jangka Panjang, ini berisiko menciptakan generasi yang takut mengekspresikan potensi terbaiknya, karena pencapaian tinggi justru akan membuatnya dicurigai.
Namun, di balik semua kompleksitas permasalahan ini, terselip sebuah peluang yang sangat berharga untuk melahirkan Kembali humanisme digital. Dan mungkin saat inilah momen yang tepat untuk menemukan Kembali apa sebenarnya yang membuat kita menjadi sebagai manusia seutuhnya โ bukan dengan menolak perkembangan teknologi, tetapi dengan mendefinisikan ulang makna keunggulan intelektual alamiyah manusia sesungguhnya.
Jejak kemanusiaan dalam sebuah karya tulis mungkin justru terletak pada keberanian untuk tidak sempurna, pada banyaknya celah kerentanan yang tidak disengaja, dan pada etika proses yang transparan. Nilai sebuah kesempurnaan karya tidak harus terletak pada kesempurnaan teknisnya, namun pada sisi keunikan perspektif yang ditawarkan, kejujuran intelektual, dan kemampuannya menyentuh sisi emosional pembaca.
Perubahan yang kita butuhkan seharusnya bukanlah perlawanan terhadap perkembangan Artificial Intelligence, melainkan transformasi radikal dalam cara kita memandang dan menghargai sebuah karya. Sistem pendidikan kita perlu beralih dari obsesi pada produk yang sempurna menuju pada apresiasi mendalam terhadap proses โ bagaimana intelektualitas berkembang, bagaimana seseorang bergulat dalam ring kompleksitas ide, dan bagaimana sebuah argumen dibangun batu demi batu melalui perenungan dan pertarungan pemikiran yang sungguh-sungguh.
Hingga pada akhirnya, ruang kelas yang penuh dengan segala kebisikan dan kecurigaannya itu mengajarkan kita pelajaran penting; di era Ketika akal imitasi lebih dominan dalam segala aspek kehidupan, justru kemanusiaan kitalah โ dengan segala kekurangan, kerentanan, keunikan proses belajar, dan kemampuan untuk merasakan โ yang menjadi penanda alamiah yang tak bisa dipalsukan.
Mungkin penyelesaian masalah dalam kecurigaan ini bukanlah pembelaan diri yang emosional, tetapi ajakan untuk jujur pada diri sendiri: bahwa โini merupakan hasil pemikiran saya, mari kita bersama-sama bicara tentang bagaimana dapat sampai kesini, tentang pergulatan dan penemuan dalam perjalanan intelektual iniโ. Dalam ruang dialog dengan diri sendiri inilah kita akan menemukan kembali makna sejati dari belajar, berkarya, dan menjadi manusia seutuhnya di tengah-tengah zaman yang semakin terdigitalisasi ini.
Kita sedang berdiri di persimpangan sejarah intelektual. Di mana pilihannya bukan lagi antara manusia dan mesin, melainkan antara apakah kita tetap mempertahankan cara lama yang mekanistik atau merangkul cara baru yang lebih manusiawi dalam mendefinisikan ulang makna berkarya dan berprestasi. Masa depan kreativitas manusia sebenarnya tidak terletak pada medan pertempuran dengan AI, tetapi pada kolaborasi yang bijak โ dengan memposisikan mesin tetap sebagai alat, dan manusia menjadi subjek yang berpikir, merasa, dan menciptakan dengan segala keunikan dan kompleksitasnya.

