Konten dari Pengguna

Tradisi Arebbe' vs Tradisi Ngideri Dhisah: Manakah yang Sangat "Eksistensi"?

Teddy Afriansyah
Mahasiswa S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga.
22 Juli 2025 19:26 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tradisi Arebbe' vs Tradisi Ngideri Dhisah: Manakah yang Sangat "Eksistensi"?
Komparasi produk tradisi Arebbe' dan tradisi Ngideri Dhisah yang memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai tolak bala.
Teddy Afriansyah
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eksistensi antara tradisi Arebbe' dan tradisi Ngideri Dhisah dalam perspektif generasi Z

Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com
Daerah di setiap wilayah Indonesia memiliki pusaka budayanya sendiri, warisan adi luhung dari para leluhur yang terus dijaga dan dihidupi oleh generasi penerus. Di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terdapat dua manifestasi budaya yang menarik untuk diperbandingkan, yaitu tradisi Arebbe' dan tradisi Ngideri Dhisah. Keduanya memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat, namun memancarkan aura eksistensi yang berbeda. Ngideri Dhisah tampil sebagai sebuah ritual kolosal yang spesifik, sementara Arebbe' hadir sebagai praktik komunal yang menyebar dan fleksibel. Lantas, manakah yang sesungguhnya lebih mengakar dan menunjukkan eksistensi lebih kuat dalam lanskap sosial-budaya masyarakatnya?
Membedah Esensi Dua Pusaka Budaya
Dalam memahami tingkat eksistensi sebuah tradisi, pemahaman mendalam mengenai esensi dan karakteristiknya menjadi sebuah keharusan. Ngideri Dhisah, yang secara harfiah berarti "mengelilingi desa", merupakan sebuah upacara adat bersih desa yang terpusat di Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee. Tradisi tersebut adalah sebuah perhelatan akbar yang dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada minggu kedua bulan Syawal dan dilaksanakan selama 7 kali jumat. Tradisi tersebut diyakini telah berlangsung sejak abad ke-17 dan terkait erat dengan sejarah penyebaran Islam oleh sosok Raden Imam Asy'ary. Prosesinya sakral dan penuh simbol dengan berjalan bersama mengelilingi batas desa sambil membawa sesaji, memanjatkan doa, dan mengenang jasa para pendahulu. Ritual tersebut menjadi representasi penghormatan terhadap tanah tempat berpijak, ungkapan syukur kepada Sang Pencipta, dan sebuah upaya untuk menjaga harmoni antara manusia dengan alam semesta. Sifatnya yang monumental, historis, dan terpusat pada satu lokasi spesifik menjadikan Ngideri Dhisah sebuah penanda identitas yang kuat bagi komunitas Desa Ramban Kulon.
Di sisi lain, terdapat istilah Arebbe' yang berasal dari bahasa Madura artinya "selamatan" atau kenduri. Berbeda dengan Ngideri Dhisah yang terikat pada satu waktu dan tempat, Arebbe' adalah sebuah praktik budaya yang cair dan meresap ke dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Bondowoso, khususnya di wilayah pedesaan. Arebbe' tidak terikat pada satu peristiwa besar, melainkan menjadi respons spiritual dan sosial terhadap berbagai siklus kehidupan. Praktik tersebut bisa ditemukan dalam skala kecil di lingkungan keluarga hingga skala lebih besar di surau atau masjid. Dari selamatan menyambut bulan suci Ramadan, perayaan Maulid Nabi, hingga acara personal seperti kelahiran anak, pernikahan, atau bahkan saat akan memulai panen. Arebbe' adalah manifestasi dari sinkretisme budaya, di mana nilai-nilai Islam berpadu harmonis dengan adat istiadat lokal yang sudah ada sebelumnya. Fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan utama dari Arebbe'.
Skala dan Frekuensi: Sebuah Komparasi Eksistensi
Jika eksistensi diukur dari skala dan frekuensi kemunculannya, maka Arebbe' menunjukkan keunggulan yang signifikan. Ngideri Dhisah adalah sebuah perhelatan tunggal yang masif. Seluruh energi komunal tercurah pada satu hari pelaksanaan. Gaungnya memang terdengar nyaring pada saat itu, menjadi sebuah tontonan budaya yang memikat dan penuh makna. Namun, setelah prosesi selesai, gaung tersebut meredup dan baru akan kembali bergemuruh setahun kemudian. Eksistensinya bersifat vertikal.
Sebaliknya, Arebbe' menunjukkan eksistensi yang bersifat horizontal dan konstan. Tradisi tersebut mungkin tidak selalu semegah Ngideri Dhisah dalam satu kali pelaksanaan, tetapi frekuensinya yang sangat tinggi membuatnya senantiasa hadir. Hampir setiap bulan dalam kalender Hijriah memiliki penanda Arebbe'-nya sendiri, seperti tajin sorah di bulan Muharram atau perayaan Rajab. Bahkan, dalam skala yang lebih kecil, sebagian masyarakat melaksanakannya setiap malam Jumat. Arebbe' menjadi semacam "denyut nadi" spiritualitas komunal yang berdetak secara konsisten, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritme kehidupan warga. Keberadaannya dirasakan bukan sebagai sebuah acara tahunan, melainkan sebagai bagian organik dari cara menjalani hidup. Dari sudut pandang tersebut, Arebbe' jelas lebih merasuk dan menyatu dengan keseharian masyarakat, membuatnya terasa lebih "hidup" dan senantiasa ada.
Resonansi Sosial dan Potensi Pelestarian
Sumber: pexels.com
Setiap tradisi memiliki caranya sendiri dalam menciptakan resonansi sosial. Ngideri Dhisah berhasil memupuk rasa persatuan dan identitas kolektif yang luar biasa dalam lingkup satu desa. Pada hari pelaksanaannya, seluruh warga, tua dan muda, bersatu padu dalam sebuah tujuan bersama. Momen tersebut menjadi perekat sosial yang ampuh, menegaskan kembali batas-batas komunal dan sejarah bersama. Namun, ketergantungan pada sebuah acara tunggal juga menyimpan kerentanan. Sebagaimana disinggung dalam banyak ulasan, minimnya publikasi dan dokumentasi yang luas membuat Ngideri Dhisah kurang dikenal di luar komunitasnya. Kelestariannya sangat bergantung pada upaya-upaya sadar dari pemerintah daerah, pegiat budaya, dan tokoh adat untuk terus mempromosikan dan menyelenggarakannya. Tanpa dorongan eksternal tersebut, pusaka budaya yang agung tersebut berisiko memudar.
Arebbe', dengan sifatnya yang lebih personal dan tersebar, membangun ikatan sosial dengan cara yang berbeda. Tradisi tersebut memperkuat hubungan antar tetangga dan kerabat melalui interaksi yang lebih intim dan rutin. Momen berbagi "berkat" (makanan yang dibawa saat selamatan) dan berdoa bersama di surau menciptakan kehangatan dan rasa saling memiliki dalam skala mikro. Gotong royong dan kepedulian sosial terwujud secara nyata dan berkelanjutan. Dari sisi pelestarian, Arebbe' memiliki mekanisme pertahanan yang lebih organik. Pengetahuan tentang praktik tersebut diwariskan secara alamiah dari orang tua kepada anak dalam konteks keluarga dan lingkungan terdekat. Karena terikat erat dengan siklus kehidupan individu dan kalender keagamaan, Arebbe' terus mereproduksi dirinya sendiri tanpa perlu festival besar atau promosi pariwisata. Eksistensinya terjaga karena fungsinya yang vital dalam kehidupan spiritual dan sosial sehari-hari.
Eksistensi dalam Spektrum yang Berbeda
Menjawab pertanyaan "manakah yang sangat eksistensi?" menuntut pemahaman bahwa eksistensi dapat dimaknai dalam berbagai cara. Jika eksistensi diartikan sebagai kemegahan, keunikan historis, dan kemampuan menjadi ikon sebuah wilayah dalam satu perhelatan akbar, maka Ngideri Dhisah adalah jawabannya. Tradisi tersebut adalah sebuah monumen budaya yang berdiri kokoh dan megah.
Namun, apabila eksistensi dimaknai sebagai kehadiran yang terus-menerus, menyatu dengan napas kehidupan, dan menjadi praktik yang mendarah daging dalam berbagai situasi, maka Arebbe' jelas lebih unggul. Tradisi tersebut ibarat udara yang senantiasa dihirup, tidak selalu terlihat dalam wujud spektakuler, tetapi esensial bagi kehidupan komunal. Arebbe' adalah ekspresi budaya yang hidup dalam keseharian, bukan sekadar perayaan tahunan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun Ngideri Dhisah memiliki nilai historis dan seremonial yang luar biasa, tradisi Arebbe' menunjukkan tingkat eksistensi yang lebih fundamental dan merata dalam struktur sosial masyarakat Bondowoso. Keduanya adalah warisan tak ternilai, yang satu berfungsi sebagai jangkar sejarah yang agung, sementara yang lain berperan sebagai aliran darah yang menghidupi denyut komunitas setiap saat.
Trending Now