Konten dari Pengguna
Tradisi Unik Mermule dan Ngideri Dhisah dalam Merajut Solidaritas Desa
25 November 2025 19:00 WIB
Β·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Tradisi Unik Mermule dan Ngideri Dhisah dalam Merajut Solidaritas Desa
Tulisan yang membahas tentang dua tradisi tolak bala yang memiliki komponen serupa dalam menunjang kebersamaan dan kesejahteraan masyarakat desa.Teddy Afriansyah
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tradisi unik tolak bala yang dapat berkolaborasi dalam menunjang kebersamaan masyarakat desa

Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang seolah tiada habisnya jika digali lebih dalam. Setiap sudut Nusantara memiliki cara tersendiri dalam memaknai kehidupan, menghormati alam, serta menjaga hubungan harmonis antarmanusia. Maka, tentu setuju bahwa keberagaman budaya tersebut menjadi aset berharga yang patut dibanggakan. Dua contoh tradisi yang menarik untuk disimak yaitu Mermule yang hidup di tengah masyarakat Indramayu, Jawa Barat, serta Ngideri Dhisah yang dilestarikan oleh warga Bondowoso, Jawa Timur. Walaupun terpisah jarak ratusan kilometer, kedua ritual tersebut memiliki benang merah yang kuat dalam fungsinya sebagai perekat sosial. Tradisi tersebut bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah mekanisme sosial yang ampuh dalam merajut kembali solidaritas desa yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan sehari-hari.
Menelusuri Jejak Sejarah dan Makna Filosofis
Akar sejarah dari kedua tradisi tersebut memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Tradisi Mermule yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tambi, Indramayu, sarat akan nilai penghormatan terhadap leluhur. Istilah Mermule sendiri memiliki etimologi yang unik, berasal dari kata "mula" yang berarti permulaan, serta dikaitkan dengan kata "mulia". Konsep tersebut mengajarkan manusia untuk tidak melupakan asal-usul serta senantiasa memuliakan para pendahulu yang sudah berjasa. Sosok sentral dalam tradisi Mermule yaitu Mbah Buyut Tambi, seorang ulama penyebar agama Islam pada abad ke-15. Masyarakat setempat meyakini bahwa menghormati jasa beliau merupakan bagian dari etika hidup yang tidak boleh ditinggalkan.
Sementara di sisi lain pulau Jawa, tepatnya di Desa Ramban Kulon, Bondowoso, terdapat tradisi Ngideri Dhisah. Nama ritual tersebut diambil dari bahasa Madura terdiri dari "ngideri" yang bermakna mengelilingi dan "dhisah" yang berarti desa. Kegiatan budaya tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1600-an dan berkaitan erat dengan sosok Raden Imam Ashβary. Beliau dikenal sebagai utusan Kerajaan Demak yang menyebarkan Islam di wilayah timur Jawa. Ritual mengelilingi desa tersebut pada awalnya dilakukan oleh rombongan Raden Imam Ashβary untuk mengenali wilayah sekaligus melakukan syiar. Filosofi yang terkandung di dalamnya yaitu upaya "bersih desa" atau penyucian wilayah dari hal-hal negatif, sekaligus bentuk penghargaan terhadap tanah yang dipijak oleh warga. Kedua tradisi tersebut sama-sama berangkat dari penghormatan terhadap tokoh agama dan leluhur yang sudah meletakkan dasar-dasar kehidupan sosial di desa masing-masing.
Rangkaian Ritual sebagai Simbol Penyucian Diri
Pelaksanaan teknis dari kedua tradisi tersebut menawarkan visualisasi budaya yang memukau. Pada tradisi Mermule, terdapat satu prosesi unik yang disebut dengan istilah Perawan Buyung. Prosesi tersebut melibatkan anak-anak perempuan yang bertugas mengambil air dari Sumur Gede, sebuah situs peninggalan Mbah Buyut Tambi. Air yang diambil kemudian disajikan kepada para tamu dan warga yang hadir. Simbolisme air di sini sangat kuat yang digunakan sebagai sumber kehidupan yang menyucikan sekaligus memberikan kesejukan. Keterlibatan generasi muda, khususnya anak-anak perempuan dalam ritual tersebut menandakan adanya upaya transfer nilai budaya sejak dini. Warga Desa Tambi menjadikan momen tersebut sebagai waktu sakral yang dinanti setiap tahun, biasanya pada minggu-minggu akhir bulan September.
Berbeda halnya dengan Ngideri Dhisah di Bondowoso yang lebih menekankan pada aktivitas fisik berupa berjalan kaki. Ritual tersebut dilaksanakan pada bulan Syawal, tepatnya selama tujuh hari Jumat berturut-turut setelah waktu isya. Para pelaku ritual harus berjalan tanpa alas kaki mengelilingi batas-batas desa, bahkan terkadang harus menuruni sungai dengan medan yang cukup berat. Ketiadaan alas kaki menyimbolkan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta dan kedekatan fisik dengan alam. Kegiatan mengelilingi desa tersebut dipercaya mampu menolak bala atau menjauhkan desa dari marabahaya. Kesungguhan warga dalam menempuh rute sulit tersebut mencerminkan keteguhan hati dan semangat gotong royong untuk menjaga keselamatan bersama. Kedua ritual tersebut, meski berbeda cara, memiliki esensi sama yaitu penyucian diri dan lingkungan demi keselamatan kolektif.
Jamuan Makan dan Doa dalam Bingkai Kebersamaan
Aspek paling menonjol yang mampu merajut solidaritas warga dalam kedua tradisi tersebut yaitu momen kebersamaan melalui doa dan jamuan makan. Dalam Mermule, terdapat agenda Tahlil Akbar yang dilaksanakan di kompleks makam. Ratusan bahkan ribuan warga tumpah ruah memadati lokasi, tidak hanya penduduk lokal, namun juga perantau yang pulang kampung. Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan kegiatan Ngunjung. Warga membawa makanan masing-masing untuk kemudian disantap bersama-sama. Tidak ada sekat status sosial dalam momen tersebut. Kaya atau miskin, pejabat desa atau petani biasa, semua duduk sama rendah menikmati berkah makanan. Kegiatan makan bersama tersebut secara otomatis mencairkan suasana dan mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.
Hal serupa juga tersirat dalam pelaksanaan Ngideri Dhisah. Meskipun fokus utamanya yaitu ritual keliling desa, namun interaksi antarwarga saat persiapan dan pelaksanaan menjadi kunci kerukunan. Rasa lelah setelah berkeliling desa terbayar lunas dengan kepuasan batin dan rasa aman yang dirasakan bersama. Kepuasan tersebut dilakukan dengan makan bersama atau doa bersama merupakan metode resolusi konflik yang paling alami. Ketegangan yang mungkin terjadi akibat perselisihan lahan atau masalah tetangga bisa mereda saat semua pihak duduk bersila dalam satu majelis doa. Solidaritas terbentuk bukan karena paksaan aturan, melainkan tumbuh dari rasa memiliki tradisi yang sama. Kehadiran warga dari luar daerah seperti Subang atau Cirebon pada acara Mermule membuktikan bahwa daya tarik persaudaraan ritual tersebut melampaui batas administratif desa.
Harmoni Antara Manusia, Alam, dan Sang Pencipta
Poin penting lainnya yaitu bagaimana Mermule dan Ngideri Dhisah menempatkan manusia dalam posisi seimbang dengan alam dan Tuhan. Pada tradisi Mermule, waktu pelaksanaan yang dulunya berpatokan pada masa panen menunjukkan rasa syukur atas hasil bumi. Manusia berterima kasih kepada tanah yang memberi kehidupan. Begitu pula dengan Ngideri Dhisah yang bertujuan membersihkan wilayah desa dari gangguan. Kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian, melainkan berdampingan dengan kekuatan alam dan spiritual, membuat masyarakat desa menjadi lebih rendah hati. Doa-doa yang dipanjatkan dalam Tahlil Akbar maupun saat keliling desa ditujukan semata-mata kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon perlindungan.
Sikap tawakal dan berserah diri tersebut menjadi pondasi mental yang kuat bagi masyarakat desa. Saat menghadapi gagal panen atau bencana, warga memiliki sandaran spiritual yang kokoh melalui tradisi-tradisi tersebut. Hubungan vertikal dengan Tuhan diperbaiki melalui doa, sedangkan hubungan horizontal dengan sesama manusia diperkuat melalui gotong royong dan makan bersama. Bahkan hubungan dengan alam pun dirawat, seperti terlihat pada penjagaan Sumur Gede di Indramayu atau penghormatan terhadap tanah desa di Bondowoso. Keseimbangan kosmis inilah yang membuat suasana desa terasa lebih tentram dan damai dibandingkan hiruk-pikuk kota besar yang individualis.
Merawat Warisan di Tengah Gempuran Zaman
Tantangan terbesar sekarang yaitu bagaimana memastikan Mermule dan Ngideri Dhisah tetap relevan bagi generasi mendatang. Arus modernisasi seringkali menggerus minat anak muda terhadap budaya lokal. Namun, fakta bahwa Mermule masih dipadati ribuan orang dan Ngideri Dhisah masih dijalankan selama tujuh generasi memberikan optimisme tersendiri. Masyarakat desa patut mengapresiasi upaya para sesepuh desa dan dinas kebudayaan setempat yang terus mempromosikan kegiatan tersebut. Pelibatan anak-anak dalam prosesi adat menjadi langkah cerdas untuk regenerasi.
Eksistensi kedua tradisi tersebut membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak harus memberangus kearifan lokal. Justru di era digital sekarang, dokumentasi kegiatan budaya tersebut bisa menjadi konten positif yang menyebarkan nilai kebaikan ke jangkauan yang lebih luas. Wisata budaya berbasis tradisi seperti Mermule dan Ngideri Dhisah berpotensi mendatangkan manfaat ekonomi bagi desa tanpa menghilangkan kesakralannya. Kunci utamanya terletak pada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Sebagai penutup, Mermule dan Ngideri Dhisah mengajarkan banyak hal tentang pentingnya akar budaya. Solidaritas desa yang terajut melalui ritual-ritual tersebut merupakan modal sosial yang sangat mahal harganya. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, menengok kembali kearifan desa-desa di Indramayu dan Bondowoso bisa menjadi refleksi yang menyejukkan. Tradisi tersebut mengingatkan semua pihak bahwa kekuatan utama sebuah bangsa terletak pada kerukunan warganya yang saling asah, asih, dan asuh dalam bingkai budaya yang luhur. Mari terus dukung pelestarian budaya Nusantara demi masa depan yang lebih harmonis dan beradab.

