Konten dari Pengguna
Energi untuk Ekonomi, Seni untuk Marwah: Manifesto Aceh di Persimpangan Sejarah
14 September 2025 16:26 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Energi untuk Ekonomi, Seni untuk Marwah: Manifesto Aceh di Persimpangan Sejarah
Manifesto ini menegaskan bahwa energi hanyalah penggerak, sedangkan seni dan budaya adalah marwah Aceh. Migas harus menopang ekonomi sekaligus menghidupi tradisi agar lahir peradaban bermartabat.Ari J Palawi
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manifesto adalah pernyataan sikap yang jernih, terbuka, dan menyeluruh tentang arah yang hendak ditempuh. Ia bukan sekadar opini yang lalu menguap, melainkan suara yang diikrarkan agar menjadi penuntun langkah bersama. Dalam sejarah bangsa-bangsa, manifesto sering lahir pada saat genting, ketika masa lalu sudah memberi pelajaran, dan masa depan menuntut keputusan. Aceh, hari ini, berada pada titik semacam itu.
Laut Andaman telah menyingkap cadangan gas raksasa, salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari enam triliun kaki kubik ditemukan di sumur Layaran, lebih dari dua triliun di sumur Tangkulo. Dunia kembali menoleh kepada Aceh, sebagaimana dulu ketika kilang Arun menjelma mercusuar. Energi ini menjanjikan tenaga baru bagi ekonomi, terlebih ketika Dana Otonomi Khusus yang sejak 2008 menopang fiskal Aceh akan berakhir pada 2027. Tetapi kita harus mengingat, energi hanyalah daya. Yang memberi arah, makna, dan martabat bukanlah energi, melainkan budaya.
Seni dan adat Aceh adalah jiwa yang menyambung masyarakat dengan sesama dan dengan Tuhan. Rapa’i yang ditabuh bukan sekadar alat bunyi, tetapi doa yang berpacu. Hikayat yang dilantunkan bukan sekadar cerita, tetapi nasihat yang diwariskan. Saman dan Seudati bukan sekadar tarian, tetapi disiplin kolektif dan kekompakan. Tanpa itu, ekonomi sebesar apa pun hanya akan menjadikan Aceh tubuh tanpa jiwa, rangka tanpa ruh. Karena itu, energi haruslah menjadi ekonomi, tetapi seni haruslah menjadi marwah.
Kita sudah pernah memiliki pelajaran pahit. Kilang Arun dulu menghasilkan devisa miliaran dolar, membangun jalan, pelabuhan, dan mengisi kas negara. Tetapi masyarakat di sekitarnya tetap berada dalam kesulitan. Sekolah-sekolah terbakar, generasi kehilangan haknya, tanah tetap miskin. Energi besar tanpa arah budaya tidak melahirkan kesejahteraan, melainkan kekecewaan. Luka itu terlalu mahal untuk diulang.
Hari ini para seniman (Aceh: utoh, syeh, aneuk sahi, dst...) kita tetap hidup dalam kenyataan yang getir. Mereka bertani, melaut, betukang dan berkebun, bahkan serabutan kasar lainnya demi menghidupi keluarga. Waktu untuk mengaji, berbagi hingga berkarya hanya tersisa sedikit... panggung jarang tersedia, dan penghidupan semakin sempit. Walau tanpa apresiasi yang memadai, faktanya, merekalah penjaga nilai nilai kearifan indatu (leluhur) kita. Mereka yang memastikan rapa’i tetap ditabuh, hikayat tetap dilantunkan, dan Saman tetap rampak berdenyut. Bila mereka kehilangan martabat, maka Aceh ikut kehilangan jiwanya.
Karena itu kita tegaskan, martabat seniman adalah martabat Aceh. Bukan berarti seni atau budaya ingin tampil eksklusif, menutup diri dari urusan lain. Tidak. Hal-hal di luar seni dan budaya, seperti: pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, ekonomi industri, semuanya penting dan sudah menjadi perhatian banyak pihak dengan kemampuan memadai. Tetapi justru karena bidang itu relatif lebih siap, maka seni dan budaya, yang sering tertinggal dan luput dari perhatian serius, perlu keberpihakan. Sebab seni dan budaya adalah penentu keseimbangan. Bila tubuh kuat tetapi jiwa rapuh, kehidupan akan pincang.
Maka sebagian hasil migas wajib dialirkan untuk membangun budaya. Bukan dalam bentuk pesta sesaat, tetapi sebagai ekosistem jangka panjang. Panggung harus tersedia di gampong, pelatihan harus rutin bagi generasi muda, penghidupan seniman harus dijamin dengan cara yang layak, pusat kebudayaan harus dibangun sebagai rumah bersama. Itu semua bukan pemborosan, melainkan investasi peradaban. Gas memang bisa habis, tetapi seni yang dijaga akan tetap abadi.
Agar jelas bahwa ini bukan romantisme sempit, lihatlah bangsa besar. Rusia adalah raksasa energi, salah satu eksportir minyak dan gas terbesar dunia. Tetapi dunia tidak mengenal Rusia hanya dari Gazprom atau barel minyak. Dunia mengenalnya dari Dostoyevsky dan Tolstoy, dari Pushkin dan Tchaikovsky, dari balet Bolshoi, ikon Ortodoks, hingga kepahlawanan sejarahnya. Energi membuat Rusia vital, tetapi budaya membuatnya abadi. Begitu juga halnya di negara kawasan Asia Barat-Eropa lainnya, seperti Turki, Norwegia, Iran dan Uni Emirat Arab.
Bangsa besar bukan hanya yang kaya energi, tetapi yang menjaga budaya dengan marwah. Rusia tidak pernah menukar baletnya dengan barel minyak, atau puisinya dengan kilang gas. Justru di tengah kekuatan energi, mereka menjadikan budaya sebagai wajah yang diperlihatkan kepada dunia. Itulah jalan yang harus Aceh tempuh. Gas bisa menjadi tenaga, tetapi seni harus menjadi wajah.
Damai Helsinki yang kita genggam sejak 2005 adalah pintu yang dibuka setelah luka panjang. Tetapi damai tidak boleh dibiarkan kosong. Ia harus diisi dengan karya. Bila kosong, damai mudah rapuh. Tetapi bila seni mengisi ruang damai, ia akan tumbuh seperti pohon rindang, meneduhkan semua.
Karena itu Aceh harus berani berbeda. Jangan puas hanya menjadi penghasil gas yang masuk daftar statistik global. Jadilah peradaban yang dihormati karena marwah budayanya. Dunia tidak akan mengingat Aceh hanya dari angka produksi LNG, melainkan dari saman yang bergema, dari rapa’i yang bergetar, dari hikayat yang bertahan, dari adat yang terus hidup. Energi bisa habis, tetapi budaya yang dijaga akan menjadi tanda keberadaan kita dalam sejarah.
Inilah janji yang harus kita genggam. Energi adalah untuk ekonomi, dan seni adalah untuk marwah. Martabat seniman adalah martabat Aceh. Dana migas harus mengalir ke budaya, agar seni tetap hidup dan adat tetap berdenyut. Damai harus diisi dengan karya, bukan hanya diam. Aceh harus berani berbeda, agar tidak hanya menjadi penghasil energi, tetapi peradaban yang dihormati.
Belajarlah dari bangsa besar. Dunia mengingat Rusia karena Dostoyevsky, bukan Gazprom; karena Tchaikovsky, bukan barel minyak. Demikian pula Aceh. Biarlah dunia mengenal kita karena Saman, rapa’i, dan hikayat, termasuk nama-nama yang juga sebelumnya sangat dikenal dunia, seperti: Meurah Silu atau Sultan Samudra Pasai—Malikussaleh, Hamzah Fanshuri, Teungku Chik Pante Kulu, dan Cut Nyak Dhien; bukan semata cadangan gas. Energi memberi nafkah, seni memberi harga diri. Bila keduanya berjalan seimbang, maka Aceh akan menemukan masa depan yang sejahtera, bermartabat, dan terhormat dalam sejarah.
Akhirul kalam, segala ikhtiar ini hanya berarti bila disandarkan kepada Yang Maha Kuasa. Energi hanyalah ciptaan, budaya hanyalah amanah, dan manusia hanyalah khalifah yang diuji. Maka marilah kita niatkan semuanya sebagai ibadah, sebagai jalan untuk menegakkan marwah, dan sebagai bekal bagi anak cucu yang akan datang.
Hamzah Fansuri pernah berpesan dalam syairnya: “Dunia ini ibarat lautan dalam, iman itu perahu, tawakkal itu layar, dan Allah tujuan.” Begitulah Aceh hari ini. Gas adalah angin yang menggerakkan layar, seni adalah kompas yang menentukan arah, dan Allah jua tujuan akhir dari setiap perjalanan.

