Konten dari Pengguna
Keindahan, Seni, dan Ibadah Kesadaran
3 November 2025 16:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Keindahan, Seni, dan Ibadah Kesadaran
Seni sejati bukan sekadar indah dipandang, tapi menyentuh nurani, menumbuhkan empati, dan menjadikan manusia lebih manusiawi.Ari J Palawi
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di masa ketika keindahan begitu mudah ditemukan, tetapi makna terasa semakin jauh. Segalanya tampak indah di layar, namun sering hampa di hati. Seni yang dahulu menjadi jalan memperhalus budi, kini kerap menjelma panggung egosentris dan ajang kompetisi pamor. Yang tersisa hanyalah tepuk tanganābukan kesadaran.
Fenomena ini sering disebut sebagai kapitalisme estetika: ketika keindahan berubah menjadi komoditas dan nilai-nilai kemanusiaan kehilangan tempat. Dalam pusaran citra dan sensasi, seni kerap kehilangan ruh sosialnya. Kesalehanādalam arti kepekaan terhadap sesamaāperlahan surut, bukan karena manusia berhenti beragama, melainkan karena makna sosial seni tergeser oleh kebutuhan untuk tampil dan diakui.
Keindahan yang Seharusnya Menumbuhkan Kebaikan
Dalam banyak tradisi kebijaksanaan, keindahan selalu bersanding dengan kebaikan. Keindahan sejati tidak berhenti pada rupa, melainkan menyentuh sikap dan perilaku. Ia memuliakan, bukan memamerkan. Seni yang sejati mendidik rasa, memperluas empati, dan menegakkan kemanusiaan.
Keindahan tidak dimaksudkan untuk menonjolkan diri, melainkan untuk menyalurkan anugerah. Segala bakat, kemampuan, dan pencapaian bukan milik pribadi semata, melainkan titipan untuk memberi manfaat. Sebagaimana banyak pemikir etika menegaskan: kelebihan manusia adalah amanah, dan setiap amanah adalah ujianāapakah ia digunakan untuk kebaikan bersama atau hanya memperkuat citra diri.
Seorang seniman, pendidik, atau budayawan diberi ruang istimewa untuk menyentuh batin manusia. Posisi itu bukan sekadar profesi, melainkan tanggung jawab moral: menyalurkan rasa indah agar melahirkan rasa peduli.
Seni dan Dunia Pendidikan yang Terpisah
Sayangnya, dalam banyak ruang pendidikan, seni masih sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan pembentuk karakter. Guru seni bekerja dalam keterbatasan; sementara mereka yang telah berhasil di dunia seni tak jarang menjauh dari realitas kelas dan murid. Padahal, posisi mereka strategisāmereka bisa menjadi jembatan antara idealisme dan pembelajaran nyata.
Namun di tengah komersialisasi budaya, banyak figur seni berhenti pada simbol idealisme. Seni menjadi proyek, bukan pengabdian. Padahal masyarakatlah yang menopang popularitas seorang seniman. Keberhasilan tanpa kontribusi sosial pada akhirnya adalah kekosongan moralāseperti cahaya yang menolak menerangi sekitarnya.
Ketika Pasar Menentukan Makna
Pasar bekerja dengan cara yang lembut, namun mematikan. Ia mengubah tolok ukur nilai: yang laku disebut bagus, yang bermakna dianggap tidak menjual. Seni pun tergelincir menjadi hiburan instanācepat dikonsumsi, cepat dilupakan.Karya yang mengajak berpikir dianggap berat, sedangkan yang meninabobokan disambut gegap gempita.
Padahal seni sejati bukan sekadar hiburan. Ia adalah cara manusia memahami dirinya, menumbuhkan kepekaan, dan memelihara nurani. Seni yang bermakna membangunkan manusia dari tidur panjangnya; seni yang dangkal membuatnya tidur lebih nyenyak. Yang pertama menumbuhkan kesadaran, yang kedua menenangkan ketidakpedulian.
Kesadaran Sosial: Rasa yang Bekerja di Ruang Publik
Keindahan yang kehilangan makna sosial akan mudah berubah menjadi pementasan citra. Padahal di balik setiap karya seharusnya ada rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Keindahan sejati tidak menjauhkan seniman dari masyarakat, tetapi justru mendekatkannya.
Banyak ajaran moralādari agama, filsafat, hingga humanismeāsepakat bahwa keadilan dan kebajikan adalah bentuk iman sosial yang nyata. Dalam kerangka itu, seni dapat menjadi ibadah kesadaran: ia menghidupkan rasa, menumbuhkan empati, dan menegakkan kasih sayang.
Seorang seniman tidak perlu selalu berbicara tentang agama untuk menebarkan nilai spiritual. Cukup dengan kejujuran karya, kepedulian terhadap manusia, dan keengganan untuk menindas demi sensasiāitulah bentuk pengabdian yang paling luhur.
Gus Dur pernah mengatakan, kebudayaan bukan soal benda, melainkan soal bagaimana kita memanusiakan manusia. Ketika seni melupakan manusia, ia kehilangan hakikatnya. Dan seperti pernah ditulis Sutan Takdir Alisjahbana, seni memang cermin zamanātetapi seharusnya juga menjadi penuntun zaman.
Seni dan Ibadah Kesadaran
Setiap tindakan yang menebar manfaat adalah bentuk ibadah sosial. Dalam semangat itu, seni yang jujur dan berjiwa kasih dapat menjadi bagian dari spiritualitas kehidupan. Nilainya tidak diukur dari tepuk tangan, tetapi dari dampaknya bagi manusia.
Seni yang sadar tidak harus religius dalam bentuk, tetapi spiritual dalam sikap. Ia mengangkat, bukan menjatuhkan; menyadarkan, bukan meninabobokan. Ia tidak mengejar kesempurnaan bentuk, tetapi ketulusan makna.
Cak Nun pernah mengingatkan bahwa seniman bukan pembuat lagu, melainkan pembentuk suasana jiwa bangsa. Ketika jiwa bangsa sedang lelah, senimanlah yang seharusnya menghidupkannya kembaliābukan dengan kebisingan, tetapi dengan kejernihan rasa. Tugasnya bukan menambah hiruk pikuk, melainkan menghadirkan ketenangan yang cerdas; bukan menuntut, tetapi menuntun.
Menutup dengan Cermin
Kita boleh modern, kreatif, bahkan komersial, namun kita tidak boleh kehilangan rasa. Keindahan tanpa tanggung jawab hanyalah fatamorgana budaya. Keberhasilan tanpa kepedulian adalah kehampaan spiritual.
Seni sejati bukanlah yang membuat orang terpukau, melainkan yang membuat manusia terpanggil untuk berbuat baik. Di situlah keindahan menemukan kembali maknanya: bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dimaknaiābukan untuk disembah, tetapi untuk mengingat sumber keindahan itu sendiri: keindahan yang membuat kita lebih manusiawi.

