Konten dari Pengguna
Meretas Sekat Sosial: Belajar dari Interaksi yang Menghidupkan
21 September 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Meretas Sekat Sosial: Belajar dari Interaksi yang Menghidupkan
Artikel ini mengajak kita melihat ulang peran orang biasa—petani, pedagang, penutur bahasa, seniman—sebagai penentu luar biasa, lewat interaksi lintas sosial yang alami, egaliter, dan membangun bangsaAri J Palawi
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk modernitas, kita sering terjebak pada anggapan bahwa arah bangsa hanya ditentukan oleh elite politik, akademisi, atau pemegang modal besar. Pandangan ini wajar, sebab sorotan media dan wacana publik memang lebih banyak menyoroti mereka yang berada di puncak hierarki sosial.
Namun, kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa kualitas kehidupan bangsa justru bertumpu pada interaksi yang lahir dari mereka yang kita sebut “orang biasa.” Petani yang memasok pangan, pedagang kecil yang menjaga denyut pasar, sopir angkot yang mengantar pelajar, hingga ibu rumah tangga yang menjaga keseimbangan keluarga.
Nilai mereka bukan semata dalam kerja ekonomi, melainkan dalam pola interaksi sosial yang mereka wariskan. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran manusia bukan pada status atau posisi, melainkan pada manfaat dan ketulusan dalam menjaga kehidupan bersama. Dengan kacamata ini, mereka yang sederhana sekalipun bisa memikul peran luar biasa.
Sayangnya, dalam kebijakan publik maupun narasi media, orang biasa sering direduksi menjadi angka: data penerima bantuan, garis kemiskinan, atau label lapisan bawah. Statistik memang berguna, tetapi tidak cukup untuk menangkap nilai manusia. Jika hanya berhenti pada angka, kita kehilangan kesempatan melihat mereka sebagai subjek yang berharga, yang interaksinya justru menjadi penopang bangsa.
Mari kita lihat sejumlah contoh konkret. UNESCO mencatat bahwa dari lebih dari 718 bahasa daerah di Indonesia, setidaknya 11 sudah punah, 25 berstatus kritis, dan 15 terancam punah. Namun siapa yang menjaga agar bahasa itu tetap hidup? Bukan para elite di podium, melainkan pedagang pasar, petani di ladang, dan keluarga sederhana di rumah. Dari mulut mereka, warisan leluhur itu terus bernapas.
Hal serupa terjadi pada kuliner. Jamu, yang pada 2023 ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, bukan bertahan karena hotel mewah, melainkan karena penjual keliling yang berjalan kaki dari kampung ke kampung. Pelestarian budaya, pada kenyataannya, hidup dari interaksi sosial di akar rumput.
Dalam isu lingkungan, masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat, berhasil menjaga hutan adat seluas 9.480 hektar tetap utuh selama puluhan tahun. Negara akhirnya mengakui hak adat ini pada 2020, sebuah pengakuan bahwa kearifan dan interaksi komunitas bisa menjaga ekologi lebih konsisten daripada sekadar aturan di atas kertas. Dunia memang memerlukan konferensi iklim, tetapi dari Sungai Utik kita belajar bahwa keberlanjutan juga bergantung pada praktik hidup sehari-hari yang diwariskan lintas generasi.
Dari dunia pendidikan, program Revitalisasi Bahasa Daerah oleh Kemendikbudristek pada 2022 melibatkan 1,5 juta siswa di 15 ribu sekolah, mencakup 38 bahasa daerah di 12 provinsi. Prosesnya bukan sekadar kurikulum formal, melainkan interaksi nyata: bengkel bahasa, komunitas tutur, dan guru utama yang menghubungkan generasi muda dengan penutur asli. Hasilnya bukan hanya kemampuan berbahasa, tetapi juga rasa bangga serta ikatan sosial lintas kelas di masyarakat.
Seni dan budaya juga membuka ruang interaksi egaliter. Di Yogyakarta, Artjog dan Biennale bukan hanya milik seniman besar, melainkan juga ruang pertemuan bagi seniman muda, pelaku UMKM, pelajar, hingga pengunjung lintas kelas sosial. Seni menjadi bahasa universal yang mempertemukan semua, tanpa memerlukan protokol atau sekat. Di Garut, masyarakat menjaga naskah kuno Kabuyutan Ciburuy dengan cara melibatkan warga sekitar melalui ritual budaya dan pemeliharaan. Warisan budaya tidak dijaga oleh segelintir ahli, tetapi oleh partisipasi kolektif masyarakat yang merasa memiliki.
Kita pun bisa belajar dari luar negeri. Jepang, lewat program shokuiku (pendidikan gizi berbasis budaya), melibatkan anak sekolah, orang tua, petani, dan koki lokal dalam rantai pembelajaran makanan sehat. Model ini menumbuhkan interaksi lintas lapisan sosial sekaligus menjaga kualitas hidup. Program serupa bahkan diadopsi di Indonesia melalui kerja sama JICA pada 2025, menunjukkan bahwa keberhasilan datang ketika semua lapisan sosial dipertemukan secara natural.
Pelajaran yang muncul dari berbagai pengalaman ini konsisten: interaksi lintas kelas sosial tidak harus formal atau protokoler. Justru interaksi yang natural—di pasar, di sekolah, di kampung, di ruang seni—lebih efektif menjaga keberlanjutan nilai. Kebijakan publik pun seharusnya tidak hanya memandang warga sebagai objek statistik, tetapi memberi ruang agar mereka bisa menjadi subjek yang aktif. Partisipasi bukan sekadar hadir di forum, melainkan membangun interaksi nyata yang melibatkan pengalaman hidup mereka.
Urgensinya jelas: jika bangsa ini ingin bertahan menghadapi krisis, sekat sosial perlu diruntuhkan melalui interaksi berkualitas. Bukan hanya tentang memberi, tetapi juga belajar. Bukan hanya tentang membantu, tetapi juga mendengar. Bukan hanya tentang program, tetapi juga membangun ruang bersama yang membuat semua merasa berharga.
Karena faktanya, dalam interaksi yang jujur dan natural, orang yang kita sebut biasa adalah penentu luar biasa. Mereka bukan obyek bantuan, melainkan tiang kehidupan bangsa. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita siap membuka diri, hadir, dan belajar dari mereka?

