Konten dari Pengguna

Seni dalam Lanskap Pengetahuan, Martabat, dan Diplomasi Global

Ari J Palawi
Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala
21 Agustus 2025 11:24 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Seni dalam Lanskap Pengetahuan, Martabat, dan Diplomasi Global
Seni bukan sekadar keterampilan, melainkan ekosistem pengetahuan dan diplomasi berakar. Bagaimana ia menjaga martabat, merawat ingatan, dan menuntun peradaban? #userstory
Ari J Palawi
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fine Art Photography oleh Andi Irawan (2014) — dipublikasikan dengan izin.
zoom-in-whitePerbesar
Fine Art Photography oleh Andi Irawan (2014) — dipublikasikan dengan izin.
Kerap kali seni dipahami hanya sebagai keterampilan—lukisan yang indah, tarian yang anggun, atau musik yang merdu. Pandangan semacam itu sesungguhnya terlalu menyederhanakan. Sebab seni, pada hakikatnya, adalah sebuah ekosistem pengetahuan, sebuah jejaring halus yang lahir dari pertemuan tubuh dan suara, ruang dan teknologi, komunitas dan institusi. Ia bukan semata hasil jadi, melainkan proses yang membentuk manusia.
Dari latihan tubuh lahirlah kepekaan, dari perjumpaan dengan pengalaman tumbuhlah refleksi, dari keterlibatan dengan masyarakat serta lingkungannya terciptalah relasi. Karena itu, keberhasilan seni tidak seharusnya hanya diukur dari kecantikan karya, melainkan dari daya transformasi yang ia timbulkan.
Pendidikan seni pun karenanya tidak boleh berhenti pada kecakapan teknis; ia harus menumbuhkan keberanian untuk hidup di tengah dunia yang senantiasa berubah, sekaligus membentuk etika kolektif yang memberi ruang bagi kepedulian dan kebersamaan.
Ingatan selalu meninggalkan jejak, dan jejak itu disimpan dalam arsip. Namun setiap arsip adalah pilihan, dan setiap pilihan mengandung politik. Pertanyaan sederhana—siapa yang diabadikan dan siapa yang disisihkan dari sejarah—selalu membawa konsekuensi besar.
Seni dengan demikian tidak pernah berdiri murni sebagai estetika; ia senantiasa menjadi upaya reparasi sosial, sebuah jalan untuk menghadirkan kembali suara-suara yang kerap diabaikan. Karena itu, membangun arsip komunitas yang inklusif adalah keharusan.
Arsip tidak boleh menjadi monopoli lembaga besar yang sering berjarak dengan sumbernya; ia harus dikuasai oleh komunitas, memberi mereka kendali atas akses, kepemilikan, dan narasi. Arsip yang hidup bukanlah gudang beku, melainkan ruang dialog yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, menjaga martabat, sekaligus membuka jalan bagi tafsir yang lebih adil.
Ilustrasi seniman. Foto: Oleksandr Filatov/Shutterstock
Dalam ruang akademik, seni memang membutuhkan legitimasi, tetapi proses akademisasi sering terjebak dalam formalisme. Pengetahuan disempitkan hanya pada tulisan, teori, dan angka, padahal tubuh penari adalah teks yang sah, suara penyanyi adalah argumen yang sahih, dan panggung pertunjukan adalah laboratorium pengetahuan yang hidup.
Jika seni dipaksa tunduk pada ukuran seragam, ia berisiko tercerabut dari lokalitas yang melahirkannya. Maka kurikulum seni harus berani mengakui bukti non-tekstual sebagai pengetahuan ilmiah: performans, dokumentasi audiovisual, partisipasi publik, dan jejak keterlibatan sosial. Akademik yang sehat adalah akademik yang menjaga integritas tubuh, menghormati praktik lokal, namun tetap memberi ruang bagi daya jelajah ke kancah global. Standar boleh ditetapkan, tetapi mesti lentur dan etis agar seni tidak kehilangan akar sekaligus tidak kehilangan sayap.
Ketika seni dibawa ke panggung internasional, ia kerap diposisikan sebagai etalase eksotis—diperlihatkan, tetapi jarang dipahami. Diplomasi semacam itu hanya melahirkan citra, bukan relasi. Padahal diplomasi budaya yang sejati lahir dari kejujuran dan keberakaran. Ia harus melibatkan komunitas sebagai kurator utama, bukan sekadar penyedia atraksi. Ia menuntut adanya kontrak etis, kompensasi yang adil, serta jaminan hak narasi. Hanya dengan begitu pertukaran budaya dapat benar-benar menjadi pertemuan setara antarperadaban.
Seni kemudian berhenti menjadi tontonan untuk memuaskan rasa ingin tahu penonton asing, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan martabat dengan martabat, subjek dengan subjek, dan bangsa dengan bangsa.
Namun seni tidak berhenti pada kepastian. Dunia modern kerap memuja efisiensi dan hasil instan, sementara seni justru mengajarkan hal sebaliknya: bahwa keraguan dan ketidakpastian bisa menjadi sumber daya kreatif. Dari kegagalan lahir kemungkinan baru, dari krisis muncul bentuk yang tak terduga. Seni melatih kita untuk menanggapi ketidakpastian bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai modal menghadapi masa depan yang rapuh namun sarat peluang. Dalam ketidakpastian itulah ruang bagi imajinasi terbuka, dan manusia dididik untuk tidak gentar menghadapi perubahan.
Agar gagasan-gagasan ini tidak berhenti sebagai retorika, seni perlu ditempatkan dalam kerangka agenda nyata yang dapat diukur. Kurikulum berbasis proses harus dikembangkan, menekankan refleksi, riset praktik, dan etika rekaman. Arsip komunitas yang inklusif harus dibangun dengan platform digital yang kendalinya tetap berada di tangan komunitas sumber.
Hibah dan dana perlu diarahkan bukan semata untuk proyek sesaat, melainkan untuk penguatan kapasitas melalui pelatihan, mentoring, dan infrastruktur jangka panjang. Diplomasi budaya harus dirancang secara berakar, yakni melalui kurasi bersama komunitas lokal, bukan hanya melalui representasi negara. Penelitian dan dokumentasi harus berjalan dengan etika partisipatif yang menjamin hak data budaya. Keberhasilan pun harus terlihat nyata: kurikulum yang benar-benar dipakai, arsip yang aktif diakses, kapasitas yang meningkat, diplomasi yang adil terlaksana, serta pedoman etika yang dijalankan.
Akhirnya, seni bukan hanya perkara estetika, melainkan martabat dan ingatan. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar sering berawal dari langkah kecil yang konsisten: dari ruang kelas sederhana, dari panggung komunitas yang bersahaja, dari kebijakan dana yang adil, hingga dari diplomasi yang setia pada akar.
Optimisme yang lahir dari seni bukanlah euforia kosong, melainkan keyakinan yang berakar pada kerja bersama. Komunitas, akademisi, dan institusi, jika berani menempatkan seni sebagai ekosistem pengetahuan sekaligus sarana merawat kebudayaan, akan menjadikan seni cahaya yang menuntun masyarakat menuju peradaban yang lebih adil, lebih setara, dan lebih menyenangkan.
Trending Now