Konten dari Pengguna
Cermin Retak di Layar: Antropologi Psikologi Media Sosial
1 September 2025 8:02 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cermin Retak di Layar: Antropologi Psikologi Media Sosial
Ilustrasi ini menampilkan layar ponsel retak yang merefleksikan wajah seseorang dengan ekspresi murung. Retakan kaca melambangkan pecahnya identitas dan tekanan psikologis akibat interaksi intens dengAtthoriq Chairul Hakim
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Era sekarang, hampir setiap orang punya "alamat" di dunia maya. Akun instagram, TikTok, atau X bukan lagi sekadar tempat berbagi, melainkan ruang identitas, panggung pertunjukan, sekaligus arena kompetisi. Fenomena ini menarik bila dilihat dari sudut persilangan antara antropologi dan psikologi, yaitu bagaimana budaya mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku manusia.

Media sosial pada dasarnya adalah produk budaya global yang membentuk cara berpikir dan merasa. Di satu sisi, ia menghadirkan ruang keterhubungan tanpa batas: orang Padang bisa berkomunikasi real-time dengan teman Istanbul, obrolan di Whatsapp bisa lebih cepat dari pada menyapa tetangga. Namun di sisi lain, media sosial menghadirkan paradoks: makin dekat secara virtual, makin jauh secara emosional.
"Kita semakin terhubung, akan tetapi juga kesepian." -Sherry Turkie, profesor MIT
Budaya Virtual dan Konsep Diri
Antropologi mengajarkan bahwa identitas selalu dinegosiasikan dalam konteks sosial. Di dunia offline, seseorang dikenal lewat profesi, keluarga, atau status sosial. Tetapi di dunia online, identitas itu cair, kita bisa menampilkan versi diri yang dipoles: foto dengan filter, narasi hidup yang hanya memperlihatkan sisi cerah atau bahkan persona baru yang berbeda sama sekali.
Dari sisi psikologi, praktik ini membentuk "cermin retak" konsep diri, individu terbiasa melihat dirinya melalui like, komentar, dan jumlah pengikut. Validasi eksternal menjadi ukuran harga diri, banyak riset menunjukkan, remaja yang teriak, bergantung pada likes cenderung rentan terhadap kecemasan sosial dan depresi.
Sosiolog Charles Cooley sudah lama menekankan konsep looking glass self : "Kita melihat diri sebagaimana orang lain melihat kita sendiri." Media sosial memperbesar cermin itu berkali-kali lipat.
"Identitas di era jaringan bukan sesuatu yang tetap; ia selalu dinegosiasikan dalam arus komunikasi global." -Manuel Castells, Sosiolog
Relasi yang Dimediasi Layar
Media sosial juga mengubah cara manusia menjalin relasi, begitupun dalam budaya offline, kedekatan diukur dari intesitas tatap muka, kerjasama, dan kepercayaan. Sementara di media sosial, kedekatan diukur dari intesitas chat, frekuensi interaksi di kolom komentar, atau sekadar tanda hati merah di story.
Fenomena ini melahirkan istilah "teman maya", "bestie online", atau bahkan pacaran tanpa pernah bertemu fisik. Dalam kacamata antropologi yang peka terhadap aspek psikologis, hal ini menunjukkan pergeseran ritual sosial: dulu hubungan dipertegas dengan silaturahmi, pertemuan keluarga, atau acara adat; kini cukup dengan mention nama di postingan ulang tahun.
Namun, keterhubungan instan itu sering disertai kerapuhan. Konflik kecil misalnya tidak membalas chat atau tidak memberikan like, bisa memicu rasa ditolak. Seperti ungkapan populer di kalangan netizen: "seen tapi tak dibalas lebih sakit daripada ditolak di dunia nyata."
Algoritma sebagai Budaya Baru
Hal lain yang sering terlupakan adalah peran algoritma, jika budaya tradisional diatur oleh adat maka budaya digital diatur oleh logika algoritma. Ia menentukan apa yang kita lihat, siapa yang muncul di timeline, bahkan apa yang dianggap penting.
Dari sudut pandang psikologi, algoritma membentuk "ruang gema" (echo chamber) yang bisa memperkuat bias kognitif. Orang yang sering menonton konspirasi misalnya, akan disuguhi konten serupa hingga ia semakin yakin dengan keyakinannya.
Seorang penulis teknologi pernah berkomentar, "Jika kamu tidak membayar untuk sebuah produk, maka kamulah produknya." Algoritma adalah cara platform menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas.
Budaya Pamer dan Tekanan Psikis
Fenomena lain adalah budaya pamr Antropolog Klasik Marcel Mauss pernah menulis tentang potlatach, praktik memberi hadiah besar untuk menunjukan status. Media sosial menghidupkan potlatach dalam bentuk baru: posting liburan, pamer outfit, atau unggah makanan mewah.
Dari sudut pandang psikologi, ini memicu social comparison, dimana orang merasa harus ikut bersaing agar tidak tertinggal. Akibanya, muncul tekanan psikis: kecemasan, FOMO (fear of missing out), hingga kelelahan digital.
"Media sosial bukan hanya hiburan, tetapi lingkungan perkembangan psikologis generasi muda." -Jean Twenge, psikolog
"Tidak ada pemberian yang benar-benar bebas; selalu ada makna sosial di baliknya." -Marcel Mauss, antropolog
Menyiasati Budaya Digital
Apakah ini berarti media sosial sepenuhnya buruk?, tidak juga. Media sosial tetap bisa menjadi ruang ekspresi, solidaritas, bahkan advokasi. Gerakan sosial di Indonesia, dari isu lingkungan hingga politik, sering lahir dai ruang maya.
Namun, sebagai manusia yang hidup di antara budaya offline dan online, kita perlu melek budaya digital. Itu artinya, sadar bahwa media sosial hanyalah salah satu "cermin", bukan keseluruhan diri. Validasi sejati tetap datang dari relasi nyata dari pengalaman hidup, dari tubuh yang hadir di dunia.
Seorang pengamat budaya mungkin akan berkata: media sosial adalah "ritual baru" umat manusia. Tetapi dari sudut pandang psikologi ritual ini hanya bermakna jika dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar ikut arus algoritma.

