Konten dari Pengguna

Menjaga Cagar Budaya: Menyelamatkan Jejak, Merawat Identitas

Atthoriq Chairul Hakim
Anthropology I Jurnalisme. Jurnalis. Eks Antropologi Budaya ISI Padang Panjang.
17 September 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menjaga Cagar Budaya: Menyelamatkan Jejak, Merawat Identitas
Menjaga cagar budaya berarti menyelamatkan jejak dan merawat identitas cagar budaya itu sendiri. Lalu, apa esensi dan strategi untuk pengembangan serta pelestarian cagar budaya? #userstory
Atthoriq Chairul Hakim
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah derasnya pembangunan dan gempuran modernisasi, kita sering kali lupa bahwa ada sesuatu yang tak bisa dibangun ulang ketika hilang: cagar budaya. Ia bukan sekadar bangunan tua, situs arkeologis, atau benda kuno yang dipajang di museum. Lebih dari itu, cagar budaya adalah penanda identitas, memori kolektif, dan warisan peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Apa itu Cagar Budaya?

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan, baik berupa benda, bangunan, struktur, situs, maupun kawasan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.
Artinya, sebuah rumah gadang di Sumatera Barat, candi di Jawa, istana kesultanan di Sumatera, bahkan situs prasejarah di Sulawesi, bisa masuk kategori cagar budaya memenuhi syarat nilai penting tersebut.
Salah satu koleksi cagar budaya yang ada di museum, berupa manuskrip tulisan kebudayaan berbahasa arab. Sumber: Atthoriq Chairul Hakim

Wujud Cagar Budaya

Cagar budaya hadir dalam berbagai wujud. Pertama, benda cagar budaya: keris, naskah kuno, patung, atau gerabah. Kedua, bangunan cagar budaya: masjid tua, gereja kolonial, rumah adat, hingga sekolah peninggalan Belanda. Ketiga, struktur cagar budaya: jembatan, benteng, atau sistem irigasi kuno. Kemudian, situs cagar budaya: lokasi penemuan arkeologi, makam kuno, gua berlukis. Lalu, kawasan cagar budaya: kompleks kota lama atau perkampungan adat. Semua itu adalah puzzle yang menyusun narasi panjang perjalanan bangsa.

Mengapa Cagar Budaya Penting?

Banyak orang menganggap cagar budaya hanya benda mati yang tak relevan dengan kehidupan modern. Padahal, justru di situlah letak nilai dari suatu cagar budaya. Ia memberi kita rasa keterhubungan dengan masa lalu, sekaligus menjadi dasar pijakan untuk melangkah ke depan.
Identitas dan kebanggaan Rumah Gadang bukan sekadar rumah kayu besar. Ia adalah simbol filosofi hidup orang Minangkabau. Candi Borobudur bukan hanya tumpukan batu, melainkan juga simbol pencapaian teknologi, seni, dan spiritualitas tinggi masyarakat Jawa Kuno. Tanpa cagar budaya, identitas kita akan rapuh dan tercabut dari akar sejarah. Lalu, mengapa cagar budaya menjadi penting?
Wisatawan berkunjung di obyek wisata cagar budaya Candi Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/5/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Cagar budaya menjadi penting karena ia merupakan sumber pengetahuan. Setiap cagar budaya menyimpan informasi. Dari prasasti, kita tahu tentang sistem pemerintahan kuno. Dari naskah, kita belajar bahasa, sastra dan ilmu pengetahuan tradisional. Dari struktur bangunan, kita mengenal teknologi arsitektur lokal yang ramah lingkungan.
Selain itu, cagar budaya juga bernilai ekonomi dan menjadi potensi dari pariwisata. Lihatlah bagaimana Candi Borobudur, Candi Prambanan, atau Kota Tua Jakarta menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Namun tentu saja, pariwisata berbasis budaya harus dikelola dengan bijak agar tidak merusak warisan yang seharusnya dijaga.
Di lain sisi, cagar budaya merupakan simbol pendidikan nilai dan karakter di mana ia dapat menjadi media belajar, toleransi, kreativitas, hingga kearifan lokal. Misalnya, arsitektur masjid kuno—yang memadukan gaya lokal dengan pengaruh luar—mengajarkan kita tentang akulturasi dan keterbukaan budaya.
Penari Dayak Maanyan membawakan tarian saat berlangsung Festival Budaya Dayak Kenyah 2025 di Lamin Adat Pemung Tawai, Desa Budaya Pampang, Tanah Merah, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (19/6/2025). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Tantangan Pelestarian

Sayangnya, tidak semua orang melihat cagar budaya sebagai aset penting. Dalam perjalanannya, cagar budaya menghadapi beberapa tantangan besar.
Pertama, dari segi alih fungsi dan pembangunan. Banyak bangunan tua dihancurkan demi gedung baru atau pusat perbelanjaan. Kedua, kurangnya kesadaran masyarakat di mana cagar budaya dianggap sebagai penghalang modernisasi, atau sekadar "barang kuno tak berguna". Selain itu, minimnya perawatan dari cagar budaya. Keterbatasan dana dan tenaga ahli membuat banyak situs terbangkalai.
Kemudian, ancaman bencana alam dan iklim yang dapat merusak warisan budaya, seperti gempa, banjir, bahkan perubahan cuaca ekstrem. Di lain sisi, pencurian dan perdagangan ilegal menimbulkan masalah pada eksistensi cagar budaya: benda-benda bersejarah sering kali dijarah untuk diperjualbelikan di pasar gelap.
Jika kita tidak memiliki kesadaran kolektif, cagar budaya bisa hilang satu per satu dan kita kehilangan bagian penting dari jati diri bangsa. Maka dari itu, kita harus berperan aktif dalam menjaga pelestarian cagar budaya: tidak mencoret-coret dinding, membawa pulang benda, dan merusak lingkungan sekitar. Kedengarannya sederhana, tetapi hal ini merupakan sebuah langkah nyata untuk menjaga eksistensi cagar budaya.
Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menyusun batu-batu yang terpecah dalam proses rehabilitasi Candi Srikandi di kompleks Candi Arjuna, Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Senin (8/7/2024). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Mendukung Kebijakan dan Komunitas

Banyak komunitas peduli cagar budaya bekerja secara sukarela. Dukungan itu—baik berupa partisipasi, donasi, atau sekadar ikut acara—akan memperkuat gerakan mereka. Begitu pun dengan menghidupkan fungsi sosial, cagar budaya tidak harus "mati" sebagai monumen. Ia dapat difungsikan sebagai ruang publik, pusat seni, atau tempat pendidikan, tetapi dengan pengelolaan yang bijak.

Menjaga Jejak, Merawat Masa Depan

Ada pepatah bijak mengatakan, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya." Cagar budaya adalah wujud nyata dari sejarah itu. Ia bukan sekadar benda lama, melainkan saksi hidup perjalanan bangsa, pengingat jatuh bangun peradaban, sekaligus inspirasi untuk masa depan.
Kita boleh membangun gedung pencakar langit, meluncurkan satelit, atau sibuk dengan gawai canggih. Namun, tanpa merawat cagar budaya, kita seperti manusia tanpa kenangan: kosong dan mudah goyah.
Pelestarian cagar budaya adalah investasi jangka panjang, tidak hanya untuk kebanggaan, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan identitas bangsa. Karena sejatinya, merawat cagar budaya berarti merawat diri kita sendiri.
Trending Now