Konten dari Pengguna
Spritual tapi Tidak Religius: Tren Spritual Baru Anak Muda di Era Digital
21 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Spritual tapi Tidak Religius: Tren Spritual Baru Anak Muda di Era Digital
Mendeskripsikan bagaimana kehidupan anak muda di era digital.Atthoriq Chairul Hakim
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah derasnya arus media sosial dan kehidupan digital yang serba cepat, muncul tren baru di kalangan anak muda Indonesia: spritualitas tanpa label agama. Fenomena ini tidak sekadar soal meditasi atau healing, tetapi tentang cara generasi muda mencari makna hidup di luar batas-batas ritual formal.

Dari Tempat Ibadah ke Meditasi dan Jurnal Rasa
Generasi muda kini menemukan bentuk spritualitas yang lebih cair dan personal. Bagi mereka menulis jurnal syukur setiap pagi, menyalakan lilin aromaterapi, atau mengikuti kelas meditasi daring bisa menjadi bentuk "ibadah" baru.
"Sekarang aku lebih percaya pada energi dan keseimbangan," kata Rara (25), desainer grafis asal Padang yang aktif mengikuti kelas mindfulness daring. "Aku masih salat, tapi aku juga meditasi. Aku cuma ingin tenang tanpa merasa dihakimi."
Fenomena ini tidak berarti anak muda meninggalkan agama, melainkan mencoba memaknainya dengan cara baru. Mereka mencari ketenangan batin melalui kesadaran dari (self-awareness), bukan sekadar mengikuti ritual yang diwariskan turun-temurun.
Spritualitas sebagai Gaya Hidup Baru
Di media sosial, tagar seperti #healing, #mindfulness, dan #selflove terus bertambah setiap hari. Akun-akun bertema spritual seperti healing.id, tarotselflove, atau journalingclass memiliki ratusan ribu pengikut. Mereka mengajak anak muda berbicara tentang luka batin, energi positif, dan keseimbangan hidup dengan gaya yang lembut dan estetis.
Spritualitas kemudian menjadi bagian dari welness culture, perawatan diri yang holistik antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Tak jarang, konsep ini bercampur dengan gaya hidup urban: yoga di kafe, meditasi di taman kota, atau retreat healing di alam terbuka.
Namun, sebagaian pengamat menilai tren ini bisa beresiko menjadi sekadar konsumsi gaya hidup. "Spritualitas kehilangan makna sosialnya ketika hanya menjadi alat untuk branding diri," tulis antropolog Clifford Geertz dalam refleksi tentang ritual modernitas, pandangan yang kini kembali relevan di era media sosial.
Krisis Makna dan Kelebihan Generasi Z
Lahir di era penuh distraksi, generasi Z menghadapi tekanan mental yang unik. Data katadata Insight Center (2024) menunjukkan, 67 persen anak muda Indonesia mengalami stres dan merasa tidak bahagia, meski aktif di dunia digital. Banyak di antara mereka kemudian mencari pelarian ke arah spritualitas baru, lebih senyap, personal, dan bebas dari tekanan sosial.
"Anak muda mencari ruang untuk mengenal dirinya tanpa aturan yang kaku," kata Dinda Pratiwi, dosen antropologi budaya Universitas Indonesia. "Mereka ingin menemukan tuhan lewat pengalaman, bukan sekadar doktrin."
Dalam konteks ini, spritualitas berperan sebagai upaya bertahan. Ia menjadi cara anak muda mengatur napas di tengah dunia yang makin bising, sebuah bentuk perlawanan lembut terhadap tuntutan produktivitas dan pencitraan diri.
Komunitas digital dan ruang sunyi menariknya, spritualitas baru ini tidak selalu tumbuh di tempat ibadah, melainkan di ruang digital. Komunitas healing circle, online journaling class, hingga podcast meditasi menjadi tempat anak muda saling berbagi cerita dan refleksi.
Meskipun begitu, sebagian memilih jalan sunyi. "Aku mulai membatasi media sosial dan lebih sering ke alam," ujar Tegar (27), pekerja lepas asal Bukittinggi. "Rasanya aku lebih bisa mendengarkan diri sendiri tanpa harus membandingkan hidup dengan orang lain."
Fenomena seperti Tegar menggambarkan bentuk spritualitas yang lebih intuitif, berakar dari keinginan untuk berhenti sejenak dan kembali ke diri sendiri.
Antara pencarian dan pelarian bagi sebagian orang, tren ini dianggap sebagai bentuk pencaharian makna yang sehat. Tapi bagi yang lain, ia juga bisa menjadi pelarian dari tekanan hidup modern. Sosiolog agama dari UIN Jakarta, Ahmad Fadhil, menilai spritualitas baru ini muncul karena kelelahan kolektif masyarakat urban. "Ketika agama terasa terlalu normatif, anak muda mencari bentuk pengalaman spritual yang lebih dialogis, lebih personal," ujarnya.
Di sisi lain, industri wellness pun melihat peluang ekonomi. Kelas meditasi, journaling kit, hingga retreat spritual kini menjadi komoditas baru. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah spritualitas masih tentang makna atau telah berubah menjadi produk?
Menemukan Makna di Dunia yang Bising
Pada akhirnya, spritualitas baru ini menujukkan satu hal penting: manusia tetap membutuhkan ruang hening, bahkan di tengah kehidupan yang terhubung tanpa henti. Bagi banyak anak muda, mencari ketenangan bukanlah bentuk pemberontakan terhadap agama, melainkan usaha untuk mengenal diri sendiri secara jujur.
Agama mungkin tetap menjadi rumah besar, tetapi spritualitas adalah kamar kecil tempat seseorang berbicara dengan dirinya sendiri. Dan di dunia yang semakin gaduh oleh algoritma dan tuntutan, kamar kecil itu kini terasa semakin berharga.

