Konten dari Pengguna
Streaming dan Ritual Baru Manusia Digital
12 Oktober 2025 13:26 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Streaming dan Ritual Baru Manusia Digital
Keterlibatan manusia dengan manusia digital hampir tidak dapat dibendung, setiap aktivitas masa sekarang tidak terlepas dari budaya digital. Atthoriq Chairul Hakim
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Clifford Geertz (1973) pernah menyebut bahwa manusia adalah "mahluk yang terjerat dalam jaring makna yang ia pintal sendiri." Pernyataan ini relevan untuk melihat bagaimana budaya digital terbentuk hari ini. Jika dulu jaring makna itu dipintal melalui ritual adat, tontonan televisi keluarga, atau perbincangan di warung kopi, kini ia lahir lewat platform streaming seperti Netflix, Spotify, dan Youtube.

Fenomena seperti Spotify Wrapped setiap akhir tahun atau nobar daring sebuah serial memperlihatkan bahwa streaming tidak hanya sekadar hiburan, melainkan ruang budaya yang melahirkan identitas, komunitas sekaligus ritual baru. Streaming kini hadir sebagai lanskap sosial yang sama pentingnya dengan ruang fisik, di mana manusia membentuk makna dan identitasnya.
Streaming sebagai Ruang Budaya
Marshall McLuhan (1964) dalam Understanding Media menegaskan bahwa "media adalah perpanjangan dari saraf manusia." Media, dengan kata lain, bukan sekadar saluran informasi, melainkan memperluas cara manusia hadir di dunia.
Kutipan ini menemukan relevansinya dalam budaya streaming. Ketika jutaan penonton menyaksikan episode anime One Piece pada hari yang sama lalu membicarakannya di Twitter atau TikTok, mereka mengalami rasa "hadir bersama" meski secara fisik terpencar. Pengalaman kolektif ini menjadikan streaming bukan hanya platform hiburan, melainkan arena budaya baru yang memungkinkan terbentuknya apa yang disebut McLuhan sebagai "desa global."
Streaming menjembatani jarak geogarfis dengan menghadirkan keserentakan. Budaya nobar digital, fandom global K-pop, atau komunitas penggemar podcast menjadi bukti bahwa ruang digital dapat menggantikan fungsi alun-alun kota atau ruang publik tradisional sebagai tempat orang bertemu dan membangun ikatan sosial.
Identitas Era Algoritma
Jika streaming telah menjadi ruang budaya, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana identitas manusia terbentuk di dalamnya?
Erving Goffman (1959) dalam The Presentation of Self in Everyday Life berargumen bahwa identitas bersifat performatif. Manusia, kata Goffman, selalu menampilkan diri layaknya aktor di atas panggung sosial. Di era digital, panggung itu adalah layar ponsel dan media sosial.
Unggahan spotify Wrapped ke Instagram, rekomendasi tontonan Netflix di Twitter; atau daftar video Youtube yang dibagikan ke teman-teman bukan sekadar informasi netral. Ia adalah tindakan performatif: cara kita mengatakan kepada dunia siapa diri kita. Seseorang yang mendengarkan musik indie, misalnya, mungkin ingin menampilkan diri sebagai sosok yang berbeda dari arus utama.
Namun, Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveuillance Capitalism mengingatkan bahwa algoritma kini tidak hanya memprediksi perilaku, melainkan juga membentuknya. Musik yang didengar atau film yang ditonton sering kali muncul karena rekomendasi algoritma. Identitas digital yang kita bangun, dengan demikian, adalah hasil negosiasi antara pilihan personal dan arahan algoritmik.
Hal ini menimbulkan pertanyaan antropologis: apakah identitas digital kita benar-benar refleksi otentik, atau sekadar kontruksi algoritmik yang kita internalisasi tanpa sadar?.
Globalisasi dan Lokalisasi Konten
Selain identitas, streaming juga menghadirkan dinamika budaya global. John Tomlinson (1999) dalam Globalization dan Culture memperkenalkan konsep glokalisasi, yakni percampuran antara global dan lokal yang melahirkan bentuk budaya baru.
Netflix adalah contoh paling nyata. Platform ini menghadirkan film Hollywood ke ruang tamu di Padang, Jakarta, atau Makassar, tetapi juga memproduksi serial lokal seperti Layangan Putus atau Gadis Kretek. Bagi penonton Indonesia, tayangan ini memunculkan rasa kedekatan identitas. Bagi audiens global, ia menghadirkan "keeksotisan" baru yang berbeda dari tontonan Barat.
Fenomena ini menujukan bahwa budaya global tidak sepenuhnya menelan budaya lokal. Sebaliknya streaming membuka ruang negosiasi. Serial Indonesia bisa menembus audiens mancanegara, sementara tontonan Korea Selatan seperti Squid Game atau Crash Landing on You menjadi identitas bersama yang menghubungkan pentonton dari berbagai belahan dunia.
Di titik ini, streaming bekerja sebagai "pasar budaya global," di mana produk lokal dan global bertemu, berbaur, dan melahirkan makna baru.
Ritual Baru Generasi Digital
Victor Turner (1969) dalam The Ritual Process memperkenalkan konsep communitas, rasa kebersamaan muncul ketika orang terlihat dalam ritual kolektif.
Dulu, ritual kebersamaan terwujud lewat menonton televisi keluarga atau mendengar radio di warung kopi. Kini, ritual itu bermigrasi ke ruang digital. Binge watching semalaman, nobar daring lewat discord, atau meramaikan hastag trending di Twitter adalah bentuk ritual digital yang melahirkan komunitas baru.
Meski tidak bertemu secara fisik, pengguna merasa bagian dari komunitas global. Mereka terhubung oleh pengalaman yang sama: mendiskusikan episode terbaru drama korea, menunggu perilisan album baru di Spotify, atau menonton konser virtual idol, Streaming, dalam hal ini, tidak sekadar menyajikan konten, tetapi juga menyediakan ruang untuk ritual kontemporer yang memperkuat rasa kebersamaan lintas batas.
Cermin Algoritma atau Budaya Baru?
Geertz menegaskan bahwa budaya adalah jaringan makna buatan manusia. Namun dalam era digital, jaring itu kini dipintal bersama oleh manusia dan algoritma. Streaming memberikan ruang untuk identitas, komunitas, dan negosiasi budaya, tetapi juga menghadirkan bayang-bayang kontrol teknologi yang membentuk pengalaman kita tanpa disadari.
Pertanyaan kritis pun muncul: apakah Spotify Wrapped benar-benar mencerminkan diri kita, atau sekadar pantulan algoritma yang dirancang agar terasa personal?, apakah ritual nobar daring adalah kebersamaan otentik, atau sekadar simulasi yang digerakkan oleh kepentingan industri hiburan?.
Streaming, pada akhirnya adalah teks budaya zaman ini. Ia adalah ruang hiburan, arena negosiasi, sekaligus ritual baru yang menandai siapa kita sebagai manusia digital. Dalam dunia yang kian terhubung oleh algoritma, kesadaran kritis atas peran teknologi menjadi penting. Dalam dunia yang kian terhubung oleh algoritma, kesadaran kritis atas peran teknologi menjadi penting. Hanya dengan itu, kita bisa tetap menjadi subjek yang memintal makna, bukan sekadar objek dalam jaring algoritma.

