Konten dari Pengguna
Karbohidrat Asli Indonesia: Ubi, Talas, Singkong, dan Sukun yang Kian Dilirik
27 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Karbohidrat Asli Indonesia: Ubi, Talas, Singkong, dan Sukun yang Kian Dilirik
Karbohidrat asli Indonesia seperti ubi, talas, singkong, dan sukun mulai kembali populer. Selain kaya nutrisi dan serat, bahan pangan lokal ini juga bisa diolah jadi banyak makanan lezat dan sehat.Dina
Tulisan dari Dina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karbohidrat Asli Indonesia kini kembali populer di kalangan masyarakat. Selama puluhan tahun, nasi selalu jadi simbol utama makanan pokok di Indonesia. Tapi jauh sebelum beras mendominasi, masyarakat Nusantara sebenarnya sudah mengenal berbagai karbohidrat asli Indonesia seperti ubi, talas, singkong, dan sukun. Semua bahan ini dulu menjadi sumber energi utama, sebelum tergeser oleh kebiasaan “harus makan nasi biar kenyang”.
Kini, seiring meningkatnya kesadaran hidup sehat dan pentingnya kemandirian pangan, bahan pangan lokal berbasis akar dan umbi mulai kembali dilirik. Selain menyehatkan, karbohidrat lokal ini juga lebih ramah lingkungan dan bisa membantu menjaga ketahanan pangan nasional.
1. Ubi: Si Manis Serba Guna
Ubi, baik ungu, oranye, maupun putih, adalah sumber karbohidrat kompleks yang kaya serat, vitamin A, dan antioksidan. Kandungan seratnya membantu memperlambat pelepasan gula ke darah, membuatnya cocok untuk menjaga gula darah tetap stabil.
Selain direbus atau dikukus, ubi kini hadir dalam banyak olahan modern seperti ubi panggang madu, brownies ubi ungu, hingga smoothie bowl. Warna alaminya yang cantik juga membuatnya populer di dunia kuliner sehat.
Menariknya, ubi ungu kaya antosianin, zat antioksidan yang baik untuk jantung dan daya tahan tubuh. Dengan segala manfaatnya, ubi jelas bukan sekadar “makanan kampung”, tapi karbohidrat lokal yang bisa bersaing dengan quinoa atau oat impor.
2. Talas: Si Lembut yang Kaya Serat
Talas mungkin terlihat sederhana, tapi kandungan gizinya luar biasa. Umbi ini memiliki resisten pati, jenis karbohidrat yang sulit dicerna dan berfungsi seperti serat, membantu menyehatkan saluran pencernaan.
Indeks glikemik talas juga lebih rendah dibanding nasi putih, sehingga cocok untuk penderita diabetes. Di banyak daerah, talas diolah jadi makanan khas seperti kolak talas, bolu talas Bogor, atau talas kukus isi kelapa.
Dengan teksturnya yang lembut dan rasa netral, talas mudah diolah ke dalam berbagai menu, baik tradisional maupun modern. Tak heran, bahan pangan satu ini mulai naik daun di kalangan pecinta makanan sehat.
3. Singkong: Karbohidrat Rakyat yang Punya Banyak Wajah
Siapa yang tak kenal singkong? Dari gorengan pinggir jalan hingga tepung mocaf untuk roti gluten-free, singkong sudah menjadi bagian penting dari budaya pangan Indonesia. Umbi ini mengandung karbohidrat kompleks, vitamin B, kalsium, dan fosfor, menjadikannya sumber energi yang bergizi.
Di berbagai daerah, singkong diolah dengan cara khas, seperti singkong rebus dengan parutan kelapa di Jawa, singkong titi dari Flores, hingga lemet singkong dari Bali. Kini, singkong juga diolah menjadi snack modern rendah minyak dan tepung alternatif pengganti gandum, membuatnya kembali relevan di industri makanan kekinian.
Keunggulan lain, singkong bebas gluten dan bisa tumbuh di berbagai kondisi tanah, sehingga lebih tahan terhadap perubahan iklim dibanding padi.
4. Sukun: Karbohidrat dari Pohon Kehidupan
Sukun mungkin tidak sepopuler singkong atau ubi, tapi buah yang tumbuh di pohon besar ini menyimpan potensi besar sebagai sumber pangan. Kandungan karbohidrat, serat, dan protein nabati membuatnya cocok sebagai alternatif nasi atau kentang.
Rasanya lembut dengan aroma roti, membuat sukun bisa dijadikan bahan dasar untuk roti, kue, atau camilan panggang. Di beberapa negara Pasifik, sukun disebut “pohon kehidupan” karena mudah tumbuh dan memberi hasil melimpah sepanjang tahun.
Sayangnya, di Indonesia sukun masih sering diremehkan. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, sukun bisa jadi salah satu bahan pangan masa depan yang sehat dan berkelanjutan.
Kenapa Kita Perlu Kembali ke Karbohidrat Lokal?
Ketika seluruh masyarakat bergantung pada satu sumber karbohidrat, ketahanan pangan jadi rapuh. Jika gagal panen padi terjadi, pasokan makanan bisa terganggu. Karena itu, menghidupkan kembali konsumsi karbohidrat asli Indonesia bukan hanya soal nostalgia, tapi juga strategi untuk masa depan.
Selain memperkuat kemandirian pangan, akar dan umbi lokal memiliki indeks glikemik rendah, membantu mencegah diabetes dan menjaga berat badan. Kandungan seratnya juga baik untuk sistem pencernaan, sementara produksinya lebih ramah lingkungan karena tak butuh air sebanyak padi.
Cara Mengolah yang Lebih Sehat dan Kekinian
Untuk membuatnya tetap menarik, akar dan umbi lokal bisa diolah dengan gaya modern. Beberapa ide yang bisa dicoba:
Gunakan cara memasak seperti kukus atau panggang agar nutrisinya tetap terjaga dan tidak terlalu tinggi minyak. Selain lebih sehat, cara ini juga membuat tampilannya lebih modern dan menarik untuk generasi muda.
Kita mungkin tumbuh dengan slogan “belum makan kalau belum makan nasi”, tapi kini sudah saatnya membuka diri terhadap keragaman pangan lokal. Di setiap potongan ubi, singkong, atau sukun, tersimpan sejarah, gizi, dan kearifan lokal yang patut dibanggakan.
Dengan mengolah dan mengonsumsi karbohidrat asli Indonesia secara kreatif, kita tak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga ikut melestarikan warisan kuliner Nusantara dan memperkuat ketahanan pangan bangsa.

