Konten dari Pengguna
Dari Kematian Ojol, Muncul Dua Kandidat Kapolri
31 Agustus 2025 9:59 WIB
ยท
waktu baca 3 menitTulisan dari Tony Rosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Empat hari ini, demo makin masif. Hampir di semua wilayah. Rakyat marah melihat para elit yang tidak pernah punya kepekaan.
Pajak naik terlalu tinggi di tengah kesulitan ekonomi. Di sisi lain, DPR justru berpesta dengan kenaikan gaji. Pesta dengan uang dari hasil pajak ini terjadi di hampir semua institusi pemerintahan. Sebuah pesta yang dipertontonkan di depan rakyat yang sedang kelaparan.
Kecewa, rakyat pun protes. Panggung rakyat digelar. Demo dimana-mana. Rakyat mengungkapkan kekecewaannya. Di tengah demo, seorang Ojol dilindas mobil polisi. Mati ! Namanya Affan.
Kematian Affan memicu eskalasi. Terjadi mobilisasi massa rakyat besar-besaran. Hampir di semua kota. Mereka marah. Gedung DPR dijebol. Massa membakar kantor dan pos polisi. Juga sejumlah gedung DPRD. Rumah pejabat dijarah. Mulai dari rumah Sri Mulyani, Menteri keuangan, hingga rumah sejumlah anggota DPR. Termasuk rumah Sahroni (Nasdem), Eko Patrio (PAN) dan Uya Kuya (PAN) Seisi rumah ludes, dijarah massa.
Hari demi hari, kerusakan bertambah dan semakin meluas. Polisi tak bisa banyak berbuat untuk membendung massa yang semakin bringas. Jakarta mencekam. Begitu juga Solo, Jogja, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, dan banyak wilayah lainnya. Kematian Affan oleh polisi dan kerusuhan yang tak terkendali membuat rakyat minta Kapolri Jenderal Listyo Sigit mundur, atau diganti. Dorongan mengganti Kapolri semakin kuat, terutama datang dari para aktivis.
Intinya, Polri perlu penyegaran. Penyegaran ini dianggap dapat meredakan kemarahan rakyat atas kematian Affan dan kerusuhan yang tidak terkendali. Jenderal Listyo Sigit sendiri sudah siap dan tidak keberatan untuk diganti. Toh sudah 4,8 tahun memimpin dan mengabdi kepada Polri. Cukup lama.
Pergantian Kapolri adalah salah satu strategi yang dianggap mampu meredakan kemarahan rakyat. Selain sebagai bentuk tanggung jawab atas kematian Affan, juga atas kerusuhan yang semakin meluas. Digantinya Kapolri seolah mengkompensasi tragedi yang beberapa hari ini terjadi.
Siapa pun Pengganti Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang terpenting adalah putra terbaik Polri yang mampu membangun kedisiplinan dan profesionalitas kinerja di kepolisian. Punya integritas dan dedikasi dalam memperbaiki wajah Polri ke depan. Sebab, posisi Kapolri akan menentukan "baik-buruknya" kinerja kepolisian. Juga "baik-buruknya" penilaian di mata publik.
Setidaknya ada dua nama pengganti Kapolri yang muncul di publik. Pertama, Irjen Rudi Darmoko. Kedua, Komjen Fadhil Imran.
Rudi Darmoko adalah lulusan Akpol leting 1993. Seorang peraih Adhi Makayasa yang dibesarkan di kompleks Kopassus Cijantung, karena ayahnya adalah seorang perwira Kopassus. Saat ini, polisi berpangkat bintang dua ini menjabat sebagai Kapolda NTT. Track record-nya bersih dari kasus moral dan sosial.
Sementara Muhammad Fadil Imran adalah mantan Kapolda Metro Jaya yang saat ini dipercaya sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi. Lulusan Akpol leting 1991 ini adalah lulusan terbaik di Sespim. Hanya saja ketika menjadi Kapolda Metro Jaya, nama Fadil Imran sempat diseret-seret terkait kasus KM 50.
Siapa pun yang akan memimpin Polri ke depan, yang terpenting apa yang terjadi pada Affan tidak terulang lagi. Tidak boleh lagi ada anak bangsa yang meradang nyawa ketika menyampaikan hak pendapatnya.

