Konten dari Pengguna

PSI, Peran Jokowi dan Logo Baru

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
19 September 2025 20:38 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
PSI, Peran Jokowi dan Logo Baru
PSI, peran Jokowi, dan logo baru: Apakah Jokowi masih sekuat dulu, atau lengsernya diikuti dengan turunnya pengaruh elektoralnya? Lalu, Apakah logo baru PSI bisa menjadi transformasi elektoral PSI?
Tony Rosyid
Tulisan dari Tony Rosyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Presiden ke-7 RI Joko Widodo memberikan pesan kebangsaan saat kongres PSI Partai Super Terbuka di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (19/7/2025). Foto: ANTARAFOTO/Maulana Surya
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-7 RI Joko Widodo memberikan pesan kebangsaan saat kongres PSI Partai Super Terbuka di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (19/7/2025). Foto: ANTARAFOTO/Maulana Surya
PSI identik dengan Jokowi. Meski Jokowi tak terlibat langsung di struktur partai, keberadaan Kaesang—putra bungsu Jokowi yang menjadi ketum PSI—boleh dibilang sebagai representasi Jokowi.
Pro-kontra Jokowi hingga purna tugas sebagai presiden ke-7 akan memberi warna bagi masa depan partai yang sedang dipertaruhkan PSI untuk pileg 2029. Apakah Jokowi masih sekuat dulu? Atau lengsernya Jokowi dari keprabon diikuti dengan turunnya pengaruh elektoralnya? Jawaban atas pertanyaan ini memiliki konsekuensi terhadap nasib PSI ke depan.
PSI—yang dipimpin Kaesang—belum berhasil menembus pintu Senayan. Perolehan suara PSI masih jauh dari angka minimum Parliamentary Threshold.
Sebagian melihat bahwa kegagalan PSI di Senayan karena peran Jokowi yang belum optimal. Pada Pemilu 2019 dan 2024, Jokowi diidentifikasi sebagai kader PDIP. PDIP melekat di dalam diri Jokowi, meskipun perpecahan di tubuh PDIP sudah mulai dibaca publik.
Saat ini, Jokowi menjadi ikon PSI. Peran Jokowi di PSI menjadi sangat sentral karena diyakini masih memiliki basis pendukung militan. Tentu saja tak sekuat dulu ketika masih menjadi presiden. Oleh karena itu, faktor Jokowi tidak bisa dijadikan andalan sebagai satu-satunya penentu nasib PSI.
Saat ini, PSI mencoba tampil dengan baju baru. Dimulai dengan perubahan logo. Apakah strategi ini akan mampu mengubah persepsi publik terhadap PSI?
Ketua Umum PSI Partai Super Terbuka terpilih Kaesang Pangarep menyampaikan pidato kemenangannya saat kongres PSI Partai Super Terbuka di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (19/7/2025). Foto: ANTARAFOTO/Maulana Surya
Logo memang bisa memberi pengaruh mental bagi para kader. Logo juga bisa menjadi inspirasi jika memiliki makna yang mampu menyentuh sisi emosional.
Misalnya logo kepala banteng pada PDIP, punya makna yang kuat untuk sebuah keberanian dan keteguhan bagi perjuangan kader. Banteng dipahami sebagai simbol kekuatan dan ketangguhan di arena kompetisi. Simbol ini sering kali dinarasikan dalam setiap pidato Ketum dan Sekjen PDIP.
Bersamaan dengan logo yang menjadi simbol kekuatan dan keteguhan, PDIP juga menampung para kader yang militansinya seperti banteng: berani dan tangguh dalam perjuangan.
Begitu juga gambar Ka'bah bagi kader PPP, setidaknya ikut memengaruhi persepsi publik tentang arah perjuangan partai yang lahir pada 1973 lalu, meskipun pada pemilu 2024, PPP harus keluar dari Senayan karena dianggap kehilangan aura Ka'bahnya.
Lalu, bagaimana dengan PSI yang mengubah logonya menjadi gambar gajah? Apa makna gajah mampu memengaruhi sisi emosional bagi para kader PSI? Apakah logo ini akan berhasil menjadi instrumen transformasi elektoral PSI?
Yang pasti, kebutuhan partai untuk menaikkan elektoral tidak hanya semata-mata dapat didongkrak menggunakan instrumen logo. Banyak variabel yang dibutuhkan oleh partai untuk melaju ke Senayan, terutama faktor tokoh yang ada di elite partai menjadi instrumen paling penting.
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat menghadiri penutupan Kongres Partai Solidaritas Indonesia 2025 di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, Minggu (20/7/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Contoh lainnya dapat dilihat pada Partai Golkar. Era reformasi, pohon beringin yang menjadi logo partai Golkar sempat dianggap sebagai tempat bernaung untuk dosa-dosa Orde Baru. Namun saat ini, tak ada lagi orang bicara pohon beringin karena tidak punya pengaruh secara elektoral. Golkar tidak mengandalkan logo, tetapi mengandalkan tokoh. Banyak aktivis hebat yang berjuang bersama Golkar. Inilah yang membuat Golkar mampu bertahan meski diterpa angin reformasi 1998 yang begitu dahsyat.
Selain kekuatan logistik dan ketepatan strategi, kehadiran sejumlah tokoh menjadi faktor penting, bahkan krusial dalam strategi partai. PAN adalah partai yang rajin "belanja" tokoh populer untuk dijadikan calon anggota DPR. Sukses! Bagi PAN, belanja tokoh menjadi ritual lima tahunan yang efektif.
PSI masih diisi oleh nama-nama lama yang terbukti belum bisa mendongkrak elektabilitas partai. Jika tetap seperti ini, PSI akan sulit untuk mengubah persepsi publik.
Meskipun berulang kali mengganti logo dengan tampilan baru, hal tersebut tidak akan berarti apa-apa jika wajah elitnya masih dari wajah orang-orang lama. Logo baru dengan wajah lama akan sangat sulit untuk menciptakan transformasi elektoral. Hal ini menjadi sia-sia jika logo baru dihiasi dengan wajah dari para tokoh lama.
Sebagaimana PPP, PBB, Hanura, dan partai-partai yang tidak lagi masuk Senayan, umumnya mereka tidak mempunyai sikap tegas untuk menyingkirkan wajah-wajah lama yang dianggap bertanggung jawab terhadap kegagalan partai. Mereka yang dipersepsikan publik sebagai "ikon kegagalan" partai butuh di-reshuffle jika partai serius ingin membangun harapan baru.
Wajah-wajah lama tidak boleh terus menerus dibiarkan menjadi toxic yang menggerogoti elektoral partai. Menjauhkan dan membersihkan para toxic dari partai merupakan langkah mutlak yang dibutuhkan untuk membangun harapan. Bagi partai gagal, bukan perubahan logo yang diperlukan, melainkan perombakan SDM yang dibutuhkan.
Trending Now