Konten dari Pengguna

Dari Hasil Laut ke Wajan Panas, Cerita yang Digoreng Setiap Pagi

Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
20 Desember 2025 23:23 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Hasil Laut ke Wajan Panas, Cerita yang Digoreng Setiap Pagi
Usaha Seafood Crispy Ibu Ros di Pangandaran dijalankan bersama keluarga sejak 2010. Berawal dari ikan asin, kini menyajikan cumi, udang, hingga kepiting dengan kualitas terjaga.
Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah
Tulisan dari Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lapak Seafood Crispy Ibu Ros di Pangandaran, tempat usaha keluarga dijalankan sejak pagi.(Foto: Dwi Octavia R. H)
zoom-in-whitePerbesar
Lapak Seafood Crispy Ibu Ros di Pangandaran, tempat usaha keluarga dijalankan sejak pagi.(Foto: Dwi Octavia R. H)
Pukul 04.30 pagi, ketika sebagian besar Pangandaran masih terlelap, suara minyak panas mulai terdengar dari sebuah dapur sederhana di kawasan Kidang Pananjung. Wajan besar mengepul, aroma hasil laut memenuhi udara, dan tangan-tangan yang sudah terbiasa bekerja bergerak cepat. Di tempat inilah Rositi yang akrab disapa Ibu Ros menjalani rutinitasnya sebagai pelaku usaha seafood crispy yang telah bertahan lebih dari satu dekade.
Lapak Seafood Crispy Ibu Ros berdiri tidak jauh dari kawasan wisata. Bangunannya sederhana, namun hampir tak pernah benar-benar sepi. Usaha ini buka setiap hari, dan mulai melayani pembeli sejak pagi hingga sore. Bagi Ibu Ros dan keluarganya, konsistensi menjadi bagian penting dari mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Ibu Ros kini berusia 61 tahun. Perempuan kelahiran 1964 itu merupakan warga asli Pangandaran yang sejak lama menggantungkan hidup pada hasil laut. Bagi sebagian orang, aktivitas di dapur mungkin terasa melelahkan, tetapi bagi Ibu Ros, pagi justru menjadi waktu paling sibuk sekaligus paling bermakna. Dari dapur kecil itulah usaha seafood crispy miliknya terus berjalan, hari demi hari.
Kisah perjalanan usaha ini banyak dituturkan oleh anaknya, Yana yang akrab dipanggil Odung yang kini ikut membantu mengelola usaha keluarga. Menurut Odung, sebelum dikenal dengan olahan seafood crispy, Ibu Ros lebih dulu memproduksi ikan asin. Usaha itu dijalani mengikuti kebiasaan masyarakat pesisir yang memanfaatkan hasil laut sebagai sumber penghidupan.
β€œAwalnya ibu jualannya ikan asin. Dari situ kepikiran, karena hasil laut di Pangandaran melimpah, jadi kita mencoba olahan apalagi yang bisa kita jual, akhirnya kepikiran cumi, udang dan kepiting,” tutur Odung.
Sekitar tahun 2010, Ibu Ros mulai berjualan di pasar. Seiring waktu, ia dan keluarganya melihat peluang untuk berinovasi. Olahan seafood crispy kemudian menjadi pilihan. Cumi, udang, ikan, hingga kepiting mulai dicoba sebagai bahan utama. Sejak 2012, usaha tersebut menetap di lokasi yang hingga kini dikenal oleh pelanggan.
Usaha seafood crispy ini dikelola sepenuhnya oleh keluarga. Tidak ada karyawan dari luar. Sekitar empat hingga lima orang terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Pembagian tugas dilakukan secara fleksibel, siapa pun yang ada bisa melayani pembeli, mengelola keuangan, atau membantu pemasaran. Hanya bagian penggorengan yang memiliki peran khusus karena membutuhkan ketelitian dan pengalaman.
Aktivitas pelayanan pembeli Seafood Crispy Ibu Ros (Foto: Dwi Octavia R. H )
Setiap akhir pekan, ritme kerja meningkat. Produksi dimulai sejak subuh. Prosesnya dimulai dari mencuci bahan laut, membumbui, mencampur tepung, hingga menggoreng dalam wajan besar. Sekali produksi bisa memakan waktu berjam-jam, tergantung jenis dan jumlah bahan yang diolah.
β€œKalau akhir pekan, kami mulai pegang kerjaan dari jam setengah lima pagi. Bisa buka toko sampai jam 8 atau 9 malam,” kata Odung.
Di luar akhir pekan, lapak tetap beroperasi setiap hari. Meski jumlah pembeli tidak selalu ramai, lapak Seafood Crispy Ibu Ros tetap dibuka. Produksi disesuaikan dengan kondisi agar bahan tidak terbuang, namun pelayanan kepada pembeli tetap berjalan. Bagi keluarga Ibu Ros, membuka lapak setiap hari adalah bentuk tanggung jawab terhadap usaha yang telah mereka bangun bersama.
Keberadaan lapak ini juga menjadi bagian dari denyut kehidupan warga sekitar. Tidak sedikit pelanggan yang datang berulang kali, baik warga lokal maupun wisatawan yang singgah saat berlibur ke Pangandaran. Beberapa di antaranya bahkan sudah mengenal Ibu Ros secara personal. Hubungan yang terjalin bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan kepercayaan yang tumbuh dari pelayanan yang konsisten dan produk yang dijaga kualitasnya dari waktu ke waktu.
Tantangan tentu tidak sedikit. Jumlah pembeli yang naik-turun menjadi hal yang paling sering dihadapi. Selain itu, ketersediaan bahan baku laut juga tidak selalu stabil. Ketika hasil laut di Pangandaran sedang sulit, keluarga Ibu Ros harus mencari pasokan dari luar daerah melalui distributor.
β€œKami tidak bisa hanya mengandalkan satu tempat. Kalau di Pangandaran lagi susah, ya harus cari ke luar supaya stok tetap ada,” ujarnya.
Persiapan bahan dan stok olahan seafood crispy (Foto: Dwi Octavia R. H )
Di tengah persaingan usaha sejenis, Ibu Ros memilih bertahan dengan caranya sendiri. Saat pembeli sepi, produksi dikurangi agar tidak ada bahan terbuang. Usaha ini juga mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Media sosial dimanfaatkan untuk mengenalkan produk, meski pembeli masih didominasi oleh mereka yang datang langsung ke toko.
Bagi Ibu Ros, usaha seafood crispy ini bukan usaha ini bukan sekadar soal keuntungan. Usaha ini adalah bagian dari perjalanan hidup dan bukti ketekunan yang dijalani bertahun-tahun bersama keluarga.
β€œYang paling penting itu konsisten. Kalau usaha dijalankan setengah-setengah, pasti susah bertahan. Mau tidak mau juga harus ikut perkembangan zaman,” tutur Odung.
Di balik wajan panas dan aroma seafood yang terus mengepul setiap hari, tersimpan cerita tentang kerja keras, keluarga, dan keteguhan menjalani usaha kecil. Dari pagi hingga sore, setiap hari, Seafood Crispy Ibu Ros terus beroperasi, menggoreng bukan hanya hasil laut, tetapi juga harapan agar usaha ini tetap hidup dan dikenal lebih luas oleh banyak generasi selanjutnya serta masyarakat luas yang datang berkunjung.
Trending Now