Konten dari Pengguna

Di Antara Sejarah dan Keramaian

Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
4 Januari 2026 3:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Di Antara Sejarah dan Keramaian
Di antara bangunan bersejarah dan keramaian kota, Jalan Braga menawarkan pengalaman wisata yang konsisten. Sejarah, akses mudah, dan aktivitas publik membuat kawasan ini terus didatangi.
Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah
Tulisan dari Dwi Octavia Ramadhani Huzaemah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Jalan Braga Terus Menjadi Magnet Wisata Kota Bandung

Langkah kaki beradu dengan trotoar tua, kamera ponsel terangkat, percakapan terdengar dari berbagai arah. Di satu sisi, bangunan berusia puluhan tahun berdiri tenang. Di sisi lain, keramaian tak pernah benar-benar surut. Jalan Braga berada tepat di antara dua dunia: sejarah yang bertahan dan kota yang terus bergerak.
Keramaian di Braga bukanlah fenomena sesaat. Setiap hari, terutama akhir pekan, kawasan ini dipenuhi langkah kaki. Trotoarnya sesak oleh wisatawan dan kafe-kafe nyaris tanpa kursi kosong. Di tengah banyaknya destinasi baru di Bandung, Braga justru tetap menjadi tempat yang selalu dituju. Pertanyaannya sederhana: mengapa jalan ini tak pernah sepi?
Jl Braga (Foto: Dwi Octavia R. H)
Salah satu alasan utama Braga terus didatangi adalah kekuatan visual dan historisnya. Bangunan bergaya art deco yang masih terawat menciptakan identitas yang khas. Sejarah tidak sekadar diceritakan, tetapi hadir secara nyata di sepanjang jalan. Hal ini menjadikan Braga bukan hanya tempat singgah, melainkan tujuan wisata itu sendiri.
Mereka datang bukan hanya untuk berjalan, tetapi untuk merasakan suasana yang berbeda dari kawasan perkotaan lain di Bandung.
Beberapa berhenti untuk memotret detail jendela tua, papan nama lawas, atau sekadar menikmati kopi di kafe yang memadukan konsep modern dengan sentuhan historis. Braga menawarkan pengalaman yang tidak instan, pengunjung diajak menikmati kota dengan ritme yang lebih pelan.
Keramaian Braga (Foto: Dwi Octavia R. H)
Keramaian Braga juga dipicu oleh kemudahannya diakses. Letaknya yang strategis turut memperkuat daya tarik. Berdekatan dengan kawasan Asia Afrika, Gedung Merdeka, dan pusat kota, Braga sering menjadi penghubung antar destinasi. Banyak pengunjung yang awalnya hanya berniat lewat, akhirnya berhenti dan menghabiskan waktu lebih lama.
Fungsi Braga sebagai ruang publik juga menjadi faktor penting. Trotoar yang ramah pejalan kaki, kehadiran musisi jalanan, serta kafe dan galeri yang menyatu dengan bangunan lama menciptakan ruang interaksi sosial. Orang datang untuk berfoto, berbincang, bekerja, atau sekadar duduk menikmati suasana tanpa tekanan konsumsi.
Perkembangan kafe, restoran, dan galeri seni juga memperkuat daya tarik Braga. Bangunan tua tidak dibiarkan kosong, tetapi diisi aktivitas yang relevan dengan gaya hidup masa kini. Inilah yang membuat pengunjung dari berbagai generasi mulai dari yang muda hingga tua, merasa memiliki alasan untuk datang.
Braga (Foto: Dwi Octavia R. H)
Media sosial ikut memperluas daya jangkau Braga. Visual klasik, estetik, dan mudah dikenali membuat kawasan ini terus muncul di layar digital, mendorong rasa ingin tahu dan keinginan untuk datang langsung. Namun, yang membuat orang kembali bukan sekadar foto, melainkan pengalaman berada di ruang kota yang hidup.
Di tengah munculnya berbagai destinasi baru, Braga tetap bertahan dengan karakternya sendiri. Ia tidak mengandalkan kemewahan atau hiburan besar, melainkan konsistensi suasana. Di sanalah kekuatannya. Di antara sejarah dan keramaian, Braga menemukan cara untuk terus relevan dan terus didatangi.
Trending Now