Konten dari Pengguna
Kecemasan dan Motivasi Berprestasi Altet Siswa: Pedang Bermata Dua
22 Oktober 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Kecemasan dan Motivasi Berprestasi Altet Siswa: Pedang Bermata Dua
Menghadapi Musuh Tak Terlihat: Mengubah Kecemasan Atlet SKO Menjadi Kekuatan Atlet siswa SKO adalah aset bangsa yang berada dalam lingkungan tekanan tinggi, menciptakan dualitas antara motivasi berprMusthika Dewi Pradaningtyas
Tulisan dari Musthika Dewi Pradaningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah Khusus Olahraga (SKO) merupakan sekolah yang mewadahi segala kegiatan dalam bidang pendidikan tingkat menengah, khususnya bidang olahraga mulai dari kegiatan belajar mengajar hingga praktik langsung dilapangan. Atlet siswa di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) berarti memikul beban ganda: tuntutan akademik dan ekspetasi prestasi olahraga tingkat tinggi. Disatu sisi, Sekolah Khusus Olahraga (SKO) membekali siswa dengan fasilitas dan pelatihan kelas dunia yang memicu motivasi berprestasi luar biasa; disisi lain, intensitas lingkungan ini sering kali melahirkan bayangan gelap yang disebut kecemasan kompetisi.
Mengintip kehidupan narasumber yang menjadi atlet pelajar di Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI), atlet pelajar disana tinggal di asrama semi-militer, kita tidak hanya menemukan rutinitas, melainkan sebuah orkestrasi waktu yang ketat. Di bawah pengawasan 24 jam para tentara, setiap detik memiliki peranan. Sang atlet tidak bisa sembarangan; seluruh kegiatannya tertata rapi, hasil kolaborasi antara kebutuhan cabang olahraga, kebijakan pelatih, dan komitmen akademik.Bayangkan: Hari dimulai dengan Apel Pagi, dilanjutkan dengan absen kelengkapan—sebuah ritual disiplin. Kemudian, sesi latihan pertama membakar semangat (disesuaikan dengan program pelatih). Begitu adrenalin terpompa, fokus langsung beralih ke ruang kelas. Pukul 09.00 hingga 14.00, mereka bertransformasi menjadi pelajar, menyerap ilmu akademik.
Namun, ini baru separuh hari. Sesi latihan sore dan malam menanti. Menurut penuturan narasumber, minimal tiga sesi latihan harus dituntaskan setiap hari—pagi, siang, atau sore—menjadi bukti komitmen total pada fisik dan keterampilan. Akhir hari ditutup kembali dengan Apel Malam, mengunci disiplin, dan mempersiapkan diri untuk siklus berat esok hari. Kunci keberhasilan atlet SKO di masa depan bukan hanya terletak pada kekuatan fisik dan teknik saja, melainkan pada kemampuan mereka untuk merekayasa ulang kecemasan menjadi sumber daya, bukan hambatan.
Kecemasan: Bukan Musuh, Tapi Sinyal Kesiapan.
Banyak pihak melihat kecemasan pra-pertandingan sebagai patologi yang harus dihilangkan. Saya berpendapat pandangan ini keliru. Kecemasan sendiri merupakan respons biologis alami terhadap situasi taruhan tinggi. Tingkat kecemasaan yang optimal (dikenal sebagai arousal atau eustress) justru diperlukan. Ia adalah sinyal bagi tubuh dan pikiran bahwa momen penting akan tiba, mendorong atlet untuk meningkatkan fokus, memperkuat visualisasi, dan memastikan pemanasan yang maksimal.
Di balik sorotan lampu dan gemuruh tepuk tangan, ada satu musuh tak terlihat yang sering menghantui para atlet: kecemasan. Menurut berbagai sumber, pemicu badai mental ini datang dari dua arah, yaitu internal dan eksternal, yang sama-sama merusak performa. Secara Internal, pertarungan terbesar terjadi di dalam diri. Atlet sering kali bergulat dengan rasa tidak percaya diri, apalagi menjelang momen krusial pertandingan. Faktor lain adalah kondisi fisik yang tidak terduga. Ironisnya, semakin dekat lomba, intensitas latihan kian melonjak. Bagi sebagian orang, dorongan ini membangun, namun bagi yang lain, push berlebihan justru merugikan, menyebabkan kelelahan akut yang membuat tubuh 'mogok' dan memicu kecemasan. Yang paling menarik adalah dinamika mental itu sendiri. Ketika berhadapan dengan lawan yang dianggap lebih unggul, respons atlet terbelah dua: ada yang menjadikannya bahan bakar untuk motivasi (berpikir, 'Saya harus lebih baik dari dia!'), tetapi tak sedikit yang justru jatuh down, kehilangan kepercayaan diri, dan mengakibatkan penurunan performa drastis.
Sementara itu, tekanan Eksternal datang dari lingkungan sekitar. Ekspektasi tinggi dari pelatih yang menuntut kemenangan mutlak menjadi beban berat di pundak. Hal yang sama datang dari orang tua; rasa takut mengecewakan mereka yang telah berharap medali seringkali lebih menakutkan daripada lawan di lapangan. Bahkan sorakan dan harapan suporter yang seharusnya mendukung, bisa berubah menjadi tekanan yang melumpuhkan. Dan kecemasan tidak berhenti saat peluit akhir berbunyi. Setelah meraih prestasi, muncul lagi beban baru: kecemasan mempertahankan gelar. Pertanyaan 'Mampukah saya mengulanginya?' menjadi siklus mental yang tak pernah usai. Inilah realitas mental seorang atlet, sebuah labirin tekanan yang harus mereka taklukkan sebelum bertarung di arena yang sesungguhnya
Motivasi Berprestasi: Bahan Bakar Sang Juara
Apa yang sebenarnya mendorong seorang atlet untuk bangun setiap pagi, menjalani latihan keras, dan menembus batas kemampuannya? Jawabannya terletak pada motivasi berprestasi, sebuah mesin ganda yang bekerja dari dalam dan luar diri mereka.
Secara Internal, dorongan terdalam adalah yang paling murni dan kuat. Ini adalah tekad pribadi yang membara, kemauan keras untuk menjadi yang terbaik, dan yang terpenting, kepuasan pribadi yang tak ternilai. Mereka tidak hanya bertanding untuk orang lain, tetapi untuk diri sendiri—sebuah hasrat tak terpuaskan untuk membuktikan kemampuan diri, melebihi pencapaian sebelumnya. Inilah api yang tidak mudah padam. Namun, semangat ini juga ditopang oleh tiang-tiang Eksternal. Dorongan dari luar ini bekerja sebagai katalis, mempercepat ambisi. Di dalamnya termasuk dukungan tak terbatas dari keluarga dan lingkungan sosial—pelukan dan kata-kata penyemangat yang sangat berarti. Selain itu, ada iming-iming nyata yang menjadi target, seperti hadiah, pengakuan publik, dan peluang emas berupa beasiswa pendidikan.
Singkatnya, motivasi berprestasi adalah perpaduan sempurna: dorongan hati yang tulus (internal) bertemu dengan apresiasi dan kesempatan (eksternal). Kombinasi inilah yang mengubah bakat menjadi juara, dan latihan menjadi medali.
Solusi dan Seruan Aksi : Pembinaan Mental Sebagai Fondasi
Untuk mengubah kecemasan menjadi bahan bakar motivasi, intervensi psikologis harus diintergrasikan, bukan hanya sebagai tambahan.
1. Peran Pelatih sebagai Manajer Emosi : Pelatih dilatih tidak hanya dalam Teknik olahraga, tetapi juga dalam psikologi positif. Mereka harus mampu mengidentifikasi atlet yang rentan terhadap kecemasan dan membantu atlet untuk menafsirkan ulang kecemasan (cognitive reframing), mengubah “Saya takut gagal” menjadi “Saya merasa bersemangat, ini kesempatan saya.”
2. Pelatihan Keterampilan Mental : Wajibkan sesi rutin yang mengajarkan Teknik seperti relaksasi progresif, mindfulness, dan visualisasi performa (imagery). Keterampilan ini adalah skill performa, sama pentingnya dengan passing atau smash.
3. Fokus pada Coping Skills : SKO harus mengajarkan atlet pelajarnya bagaimana bangkit dari kegagalan. Kegagalan bukan akhir, melainkan data penting yang harus dianalisis tanpa menyentuh harga diri atlet.
Kesimpulan
Atlet siswa SKO adalah aset bangsa yang berada di bawah tekanan unik. Mereka membutuhkan ketahanan mental yang sama kuatnya dengan kebugaran fisiknya. Lingkungan ini secara inheren menciptakan dualitas: di satu sisi, ia menyajikan fasilitas dan dorongan motivasi berprestasi yang kuat—baik dari tekad diri (internal) maupun dari dukungan sosial dan imbalan (eksternal).Namun, di sisi lain, intensitas tinggi ini secara alami melahirkan kecemasan kompetisi. Kecemasan ini adalah musuh tak terlihat yang dipicu oleh faktor internal (kurang percaya diri dan kelelahan fisik) dan tekanan eksternal (ekspektasi pelatih, orang tua, dan suporter).
Inti masalahnya bukan menghilangkan kecemasan, melainkan merekayasanya. Kecemasan adalah sinyal biologis alami yang dapat diubah menjadi eustress atau sinyal kesiapan. Oleh karena itu, kunci kesuksesan atlet SKO di masa depan terletak pada pembinaan mental sebagai fondasi. Solusinya adalah mengintegrasikan intervensi psikologis secara wajib: melatih pelatih sebagai manajer emosi, mewajibkan sesi rutin keterampilan mental (seperti mindfulness dan visualisasi), dan mengajarkan coping skills agar atlet mampu menafsirkan ulang kegagalan sebagai data, bukan hukuman. Hanya dengan menjadikan kecemasan sebagai sumber daya, dan bukan hambatan, para atlet pelajar SKO dapat mengubah potensi menjadi prestasi sejati dan menghadapi tantangan di arena maupun kehidupan.

