Konten dari Pengguna
Fenomena Homesick dalam Perspektif Biopsikologi: Derita Mahasiswa Rantau
22 Oktober 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Fenomena Homesick dalam Perspektif Biopsikologi: Derita Mahasiswa Rantau
Artikel yang membahas tentang homesick, dan cara mengatasinya ditinjau dari perspektif biopsikologiUmar Tri Anggoro
Tulisan dari Umar Tri Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Baru sepekan di kos, tapi rasanya lama banget ya… kayak udah berbulan-bulan”
“Kangen rumah, mau pulang… Pengen tidur di rumah”
“Pengen makan masakan ibu, kangen masakan ibu”
Ucap seorang mahasiswa rantau pada malam hari di kamar kosnya yang sunyi dengan rasa rindu rumah yang membuat dada terasa sesak, dan air mata menetes.
Rasa rindu rumah adalah hal yang sangat umum dialami oleh para perantau, terutama bagi yang baru pertama kali merantau. Itulah “homesick”, yaitu perasaan sedih, cemas, atau gelisah yang muncul saat berada jauh dari rumah atau keluarga. Perasaan ini biasanya muncul saat seseorang sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya yang jauh dari keluarga, rumah, dan lingkungan lamanya.
Homesick sering dianggap hanya rindu rumah saja, akan tetapi jika ditinjau dari perspektif biopsikologi, homesick bukan hanya soal perasaan rindu saja, ternyata homesick ini melibatkan interaksi kompleks antara otak, hormon, dan sistem saraf yang dapat berpengaruh pada kondisi psikologis dan fisiologis seseorang. Homesick berkaitan erat dengan cara otak dan sistem saraf merespons stress sosial dan kehilangan dukungan emosional.
Dalam ilmu biopsikologi, setiap perasaan punya dasar biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Biopsikologi mempelajari tentang bagaimana sistem saraf, otak, dan hormon mempengaruhi perilaku, emosi, dan kognisi manusia. Menurut Stroebe et al. (2021), homesickness merupakan bentuk stress emosional akibat keterpisahan dari lingkungan yang familiar. Reaksi ini bisa memicu berbagai respons biologis, di antaranya adalah peningkatan kadar hormon stress (kortisol) dan gangguan pada sistem saraf otonom, yang berpengaruh terhadap kondisi fisik dan mental seseorang.
Kadar kortisol yang tinggi menyebabkan tubuh berada dalam mode “waspada” yang terus-menerus. Dalam jangka pendek, ini membantu kita beradaptasi dengan lingkungan baru. Akan tetapi jika peningkatan kadar kortisol ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang, maka akan menimbulkan efek negatif, seperti: gangguan tidur, gangguan konsentrasi, hingga menurunnya daya tahan tubuh. Selain peningkatan kadar kortisol, akan terjadi penurunan kadar oksitosin (hormon yang berperan dalam membangun keterikatan sosial) saat seseorang terisolasi dari orang terdekat.
Homesick bukan hanya sebatas perasaan rindu saja, akan tetapi homesick merupakan reaksi emosional yang dapat dijelaskan secara ilmiah, salah satunya dengan ditinjau dari perspektif biopsikologi, yaitu ketika seseorang berada jauh dari rumah dan berpindah dari lingkungan lamanya, otak akan menganggap lingkungan baru tersebut sebagai ancaman. Amigdala (bagian otak yang memproses emosi, terutama rasa takut dan cemas) akan mengirimkan sinyal stress ke seluruh tubuh.
Ketika tubuh merasa stress, maka kortisol (hormon stress) akan naik, dan hormon ini akan memicu respons fight or flight. karena pengalaman yang kurang menyenangkan disebabkan oleh stress atau cemas saat seseorang mengalami homesick, maka produksi dopamin (hormon Bahagia) juga akan terganggu, sehingga dapat mempengaruhi suasana hati orang yang sedang mengalami homesick. Maka tidak heran jika seseorang yang mengalami homesick sangat mudah untuk merasa lelah, hilang semangat bahkan sampai depresi karena stress dalam jangka waktu yang panjang.
Studi oleh Inagaki et al. (2021) bahwa kekurangan interaksi sosial dapat menurunkan kadar oksitosin dan meningkatkan perasaan kesepian. Hal ini telah menjelaskan bahwa homesick dapat menyebabkan munculnya rasa cemas, sedih, dan tidak bersemangat pada seseorang.
Homesick juga berkaitan erat dengan kesepian (loneliness), yaitu ketika seseorang merasa kehilangan dukungan sosial akibat dari kurangnya interaksi dalam hubungan sosial. Sehingga seseorang yang mengalami homesick akan merasakan kesendirian dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, bahkan saat seseorang itu sedang berkumpul dengan teman-teman barunya, ia seakan tetap terbelenggu dengan perasaan homesick tersebut, karena yang ada pada pikiran ia hanyalah “kangen rumah, ingin pulang, kangen keluarga”. Perasaan kesepian ini ternyata juga bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang jika terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
Seseorang yang mengalami stress akibat dari homesick dan kesepian akan mengalami penurunan motivasi belajar, gangguan tidur, peningkatan kecemasan, dan stress akademik. Secara biologis, respons stress ini menurunkan kadar dopamin dan serotonin, dua neurotransmiter ini penting dalam menjaga keseimbangan emosi dan fokus belajar Elmer, T., et al. (2022)
Studi oleh Creese, B., et al. (2021) telah melakukan penelitian dengan menganalisis data dari lebih dari 4.000 partisipan selama pandemi covid-19. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesepian yang tinggi akan berhubungan langsung dengan meningkatnya gejala depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Selain itu, ternyata kesepian juga bisa berpengaruh pada imunitas tubuh. Stress kronis yang disebabkan oleh isolasi sosial akan meningkatkan hormon kortisol, yang akhirnya akan berdampak pada melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Studi oleh Lim et al. (2021) telah dilakukan penelitian longitudinal pada 1.500 mahasiswa di Australia selama 2 tahun. Dan hasilnya menunjukkan bahwa kesepian menjadi prediktor kuat munculnya gejala depresi, kecemasan, dan penurunan motivasi belajar. Menariknya, efek kesepian terhadap depresi bahkan lebih kuat daripada stress akademik. Studi ini menegaskan bahwa kesepian bukan hanya perasaan sementara, akan tetapi kondisi psikologis yang berdampak jangka panjang terhadap fungsi kognitif dan kesejahteraan mental.
Walaupun homesick merupakan hal yang berat untuk dilalui bagi perantau, akan tetapi otak manusia juga mempunyai kemampuan yang luar biasa yang disebut “neuroplastisitas”. Neuroplastisitas yaitu kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi dengan cara mengubah struktur, fungsi, atau koneksi saraf sebagai respons terhadap pengalaman, lingkungan, atau cedera.
Menurut Beutel et al. (2023) dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews, seseorang yang aktif bersosialisasi dan membangun hubungan yang positif di lingkungan barunya akan mengalami penurunan kadar kortisol serta peningkatan aktivitas di area prefrontal cortex (bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri).Sehingga, Ketika seseorang mulai untuk membangun kebiasaan baru, bersosialisasi dengan teman baru, dan berada pada lingkungan baru yang menimbulkan kenyamanan, otak akan belajar merasa “aman” berada di tempat baru tersebut.
Homesick merupakan perasaan alami yang dialami oleh para perantau, bukan berarti homesick tidak bisa dikendalikan. Secara biopsikologi, penanganan homesick akan lebih baik jika melibatkan keseimbangan antara faktor biologis dan psikologis. Di antara cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak homesick yaitu:
1. Tidur cukup dan teratur, untuk menjaga ritme sirkadian agar sistem saraf tidak kacau.
2. Olahraga, dengan olahraga maka endorfin dan serotonin akan meningkat dan membantu menstabilkan suasana hati.
3. Membangun hubungan sosial baru, aktivitas sosial dapat menurunkan kadar kortisol dan dapat meningkatkan oksitosin
4. Rutin berkomunikasi dengan keluarga, dengan berkomunikasi dengan keluarga, dapat memberikan rasa aman emosional.
5. Relaksasi dan mindfulness, seperti Latihan pernafasan, dapat menurunkan aktivasi sistem stress
6. Pergi ke psikolog/cari bantuan professional, jika homesick sudah dirasa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, disertai depresi atau kecemasan berat, maka cari bantuan untuk konseling.
Jadi, homesick bukan hanya sebatas perasaan rindu saja, akan tetapi homesick merupakan reaksi alami ketika seseorang secara tiba-tiba berada di lingkungan barunya yang sangat berbeda dengan lingkungan asalnya yang familiar dan penuh dukungan sosial, sehingga memicu munculnya respon biologis.
Akan tetapi, otak manusia mempuanyai kemampuan neuroplatisitas untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Selain itu, homesick juga dapat dikurangi dampak-dampaknya dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas.

