Konten Media Partner
Harumnya Kopi Sumsel Menjamah Mancanegara
1 November 2025 13:15 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Harumnya Kopi Sumsel Menjamah Mancanegara
Sumsel menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, meski belum ada produk lokal yang banyak dikenal. #publisherstory #urbanidUrban Id

Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi salah satu daerah penghasil biji kopi terbesar di Indonesia. Bahkan, harumnya kopi asal "Bumi Sriwijaya" sudah menjamah mancanegara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Sumsel menjadi penghasil kopi terbesar di Indonesia dengan produksi 219.586 ton biji kopi kering dan memilki lahan perkebunan seluas 267.435 hektare.
Setidaknya, ada 4 daerah penghasil kopi terbesar di Sumsel, yakni; Muara Enim, Lahat, Pagar Alam, dan OKU Selatan. Merk produk lokal yang dikenal juga beragam. Mulai dari Sembawa, Petik Merah, Bola Dunia hingga Bukit Serelo.
Namun di sisi lain, biji kopi dari Sumsel banyak dikirimkan ke daerah lain, khususnya Lampung. Di mana terdapat sejumlah perusahaan besar di sana yang siap menampung hasil panen petani kopi Sumsel.
Di antaranya; Asia Makmur, Torabika, Louis Dreyfus Company (LDC), dan Bola Dunia. Sejumlah perusahaan besar ini mengolah biji kopi untuk pasar domestik dan luar negeri, khususnya ke Eropa.
Meski biji kopi Sumsel keluar daerah dengan sejumlah merek lain, namun keberadaan perusahan besar dari luar daerah itu berperan penting dalam rantai distribusi kopi dan menjamin perekonomian dari tingkat petani.
Seperti diutarakan Feri, salah seorang pengepul kopi besar yang berada di Jarai, Lahat. Ia sendiri menjadi salah satu supplier perusahaan IDC di Lampung.
Menurutnya, sebagian besar pengepul kopi baik di Lahat maupun Pagar Alam rata-rata menyuplai kopi ke perusahaan-perusahan di Lampung karena di Sumsel sendiri belum ada perusahaan besar yang mampu menampung hasil produksi petani dengan skala besar.
"Jadi sistemnya itu semacam kontrak, kalau lagi masa puncak panen pengiriman bisa mencapai 1.000 ton per bulan," katanya.
Dalam mengumpulkan kopi dari petani Feri tidak sendiri, ia juga memanfaatkan pengepul kecil atau yang dalam bahasa daerah setempat disebut sebagai "peluncur". Mereka tugasnya mendatangi petani-petani yang jaraknya jauh dari gudang.
"Jadi ada juga yang mendatangi petani langsung. Modalnya dari saya jumlahnya kurang lebih 20 orang," katanya.
Dalam bisnis ini, kata Feri, peran perbankan sangat membantu karena perputaran dalam bisnis kopi ini tidak hanya pada dirinya sendiri, melainkan para buruh angkut hingga ke petani itu sendiri.
"Saya sendiri sangat terbantu dari perbankan khususnya BRI," jelasnya.
Senada dengan Feri, hal serupa juga disampaikan Muhsin, pengepul yang berada di Kota Agung, Lahat. Menurutnya, perusahaan asal Lampung profesional dan tertata rapi.
"Jadi kalau ada perusahaan di Sumsel yang siap menampung dan profesional kami tentunya siap menjadi pemasok. Tapi memang sejauh ini belum ada," katanya.
Meski begitu, Muhsin juga berharap ke depannya ada perusahaan asal Sumsel yang mampu mengharumkan merek kopi lokal baik di nusantara maupun maupun mancanegara.
