Konten Media Partner

Mahasiswa UNSRI Jadikan Desa Kopi di Lahat Lebih Modern

25 November 2025 17:43 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Mahasiswa UNSRI Jadikan Desa Kopi di Lahat Lebih Modern
Mahasiswa UNSRI modernisasi desa kopi di Lahat lewat teknologi Solar Dryer dan pengolahan limbah menjadi pupuk, meningkatkan kualitas panen dan pendapatan petani. #publisherstory #urbanid
Urban Id
Tim pengabdian masyarakat dari Badan Eksekutif MahasiswaUniversitas Sriwijaya (BEM UNSRI) saat bergotong royong membangun teknologi Home Dry Coffee berbasis Solar Dryer di Desa Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, Sumsel. Foto : Dok BEM UNSRI
zoom-in-whitePerbesar
Tim pengabdian masyarakat dari Badan Eksekutif MahasiswaUniversitas Sriwijaya (BEM UNSRI) saat bergotong royong membangun teknologi Home Dry Coffee berbasis Solar Dryer di Desa Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, Sumsel. Foto : Dok BEM UNSRI
Program pengabdian masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya (BEM UNSRI) di Desa Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, Sumsel, menghadirkan transformasi besar bagi para petani kopi lokal. Selama tiga minggu, sejak 20 Oktober hingga 8 November 2025, mahasiswa berhasil memperkenalkan dua inovasi kunci yang langsung menyentuh persoalan klasik para petani yakni lambatnya pengeringan dan menumpuknya limbah kulit kopi.
Desa Pajar Bulan merupakan sentra kopi robusta dengan produksi tinggi. Namun selama ini pengeringan masih mengandalkan cuaca, menjemur di atas tanah atau terpal. Ketika musim hujan tiba, kualitas kopi menurun karena terkontaminasi jamur, tanah, bahkan bau tak sedap.
Melihat kondisi tersebut,Ketua Tim mahasiswa yang juga Wakil Presiden Mahasiswa Unsri, Bagus Satrio, menghadirkan teknologi Home Dry Coffee berbasis Solar Dryer—ruang pengering modern dengan dinding polycarbonat yang menangkap panas matahari dan menjaga suhu stabil di angka 40–50°C.
“Dengan alat ini, waktu pengeringan bisa dipangkas dari 14 hari menjadi 10 hari. Hasilnya lebih higienis, tidak ada lagi biji hitam terkena tanah atau jamur,” jelas Bagus.
Teknologi Home Dry Coffee berbasis Solar Dryer—ruang pengering modern dengan dinding polycarbonat yang menangkap panas matahari dan menjaga suhu stabil di angka 40–50°C. Foto : Dok BEM UNSRI
Selain itu, sistem ini dilengkapi panel surya dan kipas pengatur sirkulasi udara sehingga pengeringan tetap optimal meski cuaca berubah cepat di wilayah perbukitan tersebut. Bahkan, bila hujan turun tiba-tiba, petani tak lagi perlu mengevakuasi biji kopi dari jemuran.
Tak hanya soal pascapanen, mahasiswa juga menyasar persoalan lingkungan. Limbah kulit kopi yang selama ini dibuang kini diolah menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi sederhana. Dalam 8–10 hari, limbah berubah menjadi pupuk bernutrisi tinggi untuk tanaman kopi, kakao, hingga buah-buahan.
Kini, 300 kilogram kopi basah dari panen warga dapat diproses lebih cepat sekaligus menghasilkan mutu biji yang lebih baik. Pendapatan petani pun diprediksi meningkat karena nilai jual kopi berkualitas lebih tinggi di pasar.
Bagus menegaskan bahwa program ini menjadi bukti nyata tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian masyarakat yang berbasis riset.
“Kami ingin masyarakat ikut berkembang dan mandiri melalui teknologi tepat guna. Mahasiswa juga belajar langsung di tengah masyarakat,” tutupnya.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNSRI Dr. Inayati Mandayuni, saat melihat ribuan kilo biji kopi yang basah saat dilakukan pengeringan di Home Dry Coffee berbasis Solar Dryer. Foto : Dok BEM UNSRI
Program ini disambut antusias oleh petani kopi, Sukayat, menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Kualitas kopi lebih bagus, tidak takut lagi hujan. Kami juga bisa buat pupuk sendiri dari limbah yang dulu tidak berguna,” ujarnya.
Trending Now