Konten Media Partner

Suhu Capai 35 Derajat Celcius, Warga Sumsel Diminta Waspada Dehidrasi

17 Oktober 2025 14:37 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Suhu Capai 35 Derajat Celcius, Warga Sumsel Diminta Waspada Dehidrasi
BMKG Sumsel imbau warga waspada cuaca panas hingga 35°C akibat gerak semu matahari dan minim hujan. Disarankan banyak minum air untuk cegah dehidrasi. #publisherstory #urbanid
Urban Id
Ilustrasi matahari terik pada siang hari. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi matahari terik pada siang hari. Foto: Shutterstock
Beberapa wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam beberapa hari terakhir dilanda cuaca panas menyengat dengan suhu mencapai 34 hingga 35 derajat Celcius. Kondisi ini menimbulkan keluhan warga yang merasa gerah meski berada di dalam ruangan.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan fenomena ini masih tergolong normal secara klimatologis, namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampaknya.
“Panas ini terjadi karena gerak semu matahari yang saat ini berada di sekitar wilayah Sumsel menuju Belahan Bumi Selatan. Akibatnya, radiasi sinar matahari terasa lebih intens,” jelas Wandayantolis, Kamis (16/10/2025).
Selain itu, suhu panas diperparah oleh dry spell atau jeda hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi secara maksimal.
“Beberapa hari terakhir sinar matahari langsung menembus permukaan karena hampir tidak ada awan. Ini membuat suhu udara terasa lebih tinggi,” katanya.
BMKG juga mencatat, suhu muka laut di sekitar Indonesia saat ini lebih hangat dari kondisi biasanya. Fenomena ini turut memanaskan udara di daratan, terutama di wilayah perkotaan seperti Palembang, Prabumulih, dan Banyuasin.
Wandayantolis menegaskan, cuaca panas ini akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025, sebelum perlahan menurun saat musim hujan mulai datang. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap risiko dehidrasi dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
“Dengan kondisi kering seperti ini, potensi kebakaran lahan meningkat. Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api,” tegasnya.
BMKG juga menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, mengenakan pakaian terang dan longgar, serta memperbanyak konsumsi air putih.
“Cuaca panas akan mereda begitu hujan turun dan tutupan awan meningkat,” tambah Wandayantolis.
Trending Now