Konten dari Pengguna
Ketika Mesin Mulai Mengajar, Peran Guru Ada di Mana?
1 Agustus 2025 19:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Mesin Mulai Mengajar, Peran Guru Ada di Mana?
Kekhawatiran insan pendidikan di era AI itu tidak berdasar. Peran semakin dikuatkan dengan hadirnya AI, yaitu lebih mengedepankan karakter untuk kehidupan masa depan. #userstoryYudhi Kurnia
Tulisan dari Yudhi Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa waktu terakhir ini, artificial intelligence (AI) telah mengalami lompatan besar, memasuki ranah-ranah yang sebelumnya dianggap eksklusif bagi manusia. Salah satu yang juga terpengaruh “booming” AI adalah dunia pendidikan.
Saat ini, AI ternyata telah mampu menjawab pertanyaan yang diajukan siswa dalam hitungan detik, menyusun materi pembelajaran yang terpersonalisasi, memberikan umpan balik instan atas tugas-tugas yang sejatinya harus dipikirkan oleh seorang siswa ataupun guru, bahkan melakukan penilaian berbasis data dengan akurasi tinggi. Ini bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan sebuah revolusi pendidikan.
Akan tetapi, di balik euforia ini, muncul pertanyaan yang mengusik: jika mesin mulai mengajar, apa yang tersisa untuk kita—para guru, orang tua, dan pendidik di era sekarang?
Sekilas pertanyaan di atas, nampak seperti bentuk ketakutan irasional terhadap teknologi. Akan tetapi, hal ini merupakan bentuk refleksi mendalam tentang makna pendidikan dan peran manusia di dalamnya.
Betapa pun canggihnya AI, masih ada batas-batas yang tak bisa ia lampaui. Ia bisa menyampaikan fakta, tetapi tidak mampu membentuk karakter. Ia bisa memproses jawaban, tetapi tidak bisa menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Ia bisa mengevaluasi hasil, namun belum bisa memahami proses batin seorang anak dalam belajar, bergumul dengan tugas dan ujiannya, serta tumbuh di ruang pendidikan yang ia tempuh.
Pendidikan sejatinya lebih dari sekadar transfer pengetahuan. Ia adalah proses memanusiakan manusia. Di sinilah letak peran esensial yang tak tergantikan oleh mesin. Hal inilah yang seharusnya menjadi penyemangat bagi guru-guru atas pertanyaan: "Guru nanti bisa apa?"
Saat ini, anak-anak bukan hanya membutuhkan informasi, tetapi juga inspirasi. Mereka perlu diajarkan, bukan hanya apa yang harus dipelajari, tetapi mengapa hal itu penting, bagaimana menggunakannya dengan bijak, dan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan.
Guru memiliki posisi yang unik dalam konteks ini. Lebih dari sekadar penyampai materi, guru adalah pembimbing, teladan, dan penjaga nilai. Mereka hadir bukan hanya untuk menjawab pertanyaan, melainkan juga untuk membentuk kebiasaan berpikir, mengasah kepekaan moral, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Di era AI, justru peran guru sebagai manusia pendidik semakin krusial. Bukan bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan atau kapasitas data, tetapi menghadirkan sentuhan manusiawi yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma mana pun.
Pun dengan orang tua juga semestinya bergerak dan tak berdiam diri. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, rumah bukan lagi sekadar tempat beristirahat, melainkan juga tempat belajar. Orang tua perlu menjadi pendamping yang peka dan bijak, menuntun anak-anak mereka untuk menyikapi kehadiran teknologi dengan tanggung jawab. Anak perlu belajar bahwa teknologi, termasuk AI, bukanlah pengganti manusia, melainkan alat bantu untuk memperluas potensi mereka.
Lebih luas lagi, sistem pendidikan secara keseluruhan harus mengalami reposisi. Kurikulum perlu disesuaikan, bukan hanya untuk mengajarkan teknologi, melainkan juga untuk mengajarkan etika penggunaannya. Literasi digital harus diperluas, hingga mencakup aspek kritis dan filosofis. Kita tidak bisa hanya mencetak generasi yang melek teknologi, tetapi harus melahirkan generasi yang bijak dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Kehadiran AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai ujian. Ia menguji sejauh mana kita mampu menjaga nilai-nilai dasar pendidikan di tengah arus otomatisasi. Ia menantang kita untuk tidak terjebak dalam euforia teknologis, tetapi tetap berpijak pada hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiaan.
AI tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan dalam tatapan mata guru yang memahami muridnya. Ia tidak bisa meniru pelukan semangat yang diberikan orang tua, ketika anak merasa gagal. Dan ia tidak bisa menyelami perasaan seorang anak, yang untuk pertama kalinya, memahami sesuatu yang sebelumnya tampak rumit.
Maka, ketika mesin mulai mengajar, peran kita bukan menjadi penonton atau pesaing, tetapi pemimpin perubahan. Kita adalah pengarah, penentu arah, dan penjaga kemanusiaan dalam dunia pendidikan. AI dapat mempercepat proses belajar, tetapi hanya manusia yang bisa memberi makna atas apa yang dipelajari. AI bisa membuka pintu pengetahuan, tetapi hanya manusia yang bisa mengantarkan anak-anak melangkah melewati pintu itu, dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukanlah tentang memilih antara manusia atau mesin, melainkan bagaimana manusia menggunakan mesin untuk memperkuat kemanusiaan. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita tetap hadir—sebagai guru, orang tua, dan pendidik—dengan hati yang terbuka, pikiran yang tajam, dan komitmen yang tak tergoyahkan untuk membentuk generasi masa depan yang cerdas, bijak, dan berkarakter.

