Konten dari Pengguna
Menulis, Literasi, dan Masa Depan Peradaban
19 Agustus 2025 12:23 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menulis, Literasi, dan Masa Depan Peradaban
Menulis sebuah kemampuan yang perlu terus dilatih. Guru sewajibnya menjadi garda terdepan dalam pembudayaan baca tulis terutama dilingkungan pendidikan. Bangsa yang maju adalah Bangsa Cinta Baca TulisYudhi Kurnia
Tulisan dari Yudhi Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semenjak menyelesaikan kuliah S2, saya menyadari satu hal yang cukup menggelisahkan: saya jarang sekali menulis, baik tulisan bebas maupun tulisan serius. Dulu, menulis adalah kebiasaan yang begitu lekat dengan keseharian. Setiap hari, saya mampu menghasilkan 500 hingga 700 kata. Ide mengalir tanpa henti, seolah setiap fenomena yang saya lihat atau rasakan dapat dengan mudah dituangkan dalam bentuk paragraf. Kini, semua itu seperti tinggal kenangan. Kemampuan menuliskan beragam fenomena yang terindra serasa hilang, tergantikan oleh kesibukan, rutinitas, dan entah apa lagi yang sering saya jadikan alasan.
Para ahli kepenulisan kerap menegaskan bahwa menulis adalah keterampilan yang hanya bisa dipelihara melalui pembiasaan. Sama halnya seperti otot, ia akan melemah jika tidak pernah dilatih. Hal inilah yang sedang saya rasakan: tulisan menjadi kaku, kalimat terasa hambar, dan ide-ide yang dulu mudah ditangkap kini melintas begitu saja tanpa sempat ditangkap pena. Padahal, jika saya refleksikan lebih dalam, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga jalan untuk merawat daya pikir, mengasah kepekaan, dan membangun peradaban.
Fenomena kehidupan yang sebenarnya begitu kaya untuk dijadikan bahan refleksi akhirnya urung menjadi tulisan. Karena tidak tertulis, hilang pula dialektika yang seharusnya bisa muncul. Menulis sesungguhnya adalah proses dialog dengan diri sendiri sekaligus dengan orang lain. Ia membuka ruang untuk berpikir, mengkritisi, sekaligus mengusulkan jalan keluar. Jika guru—sebagai garda depan pendidikan—menganggap menulis tidak penting, maka kehancuran peradaban sepertinya semakin nyata di depan mata. Sebab, peradaban besar selalu ditandai oleh budaya tulis dan baca yang kuat.
Kita tentu sering mendengar ungkapan bahwa “kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh literasi masyarakatnya.” Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja atau membaca teks, tetapi kemampuan memahami, mengolah, dan mengekspresikan gagasan dalam berbagai bentuk, termasuk tulisan. Sayangnya, upaya peningkatan mutu membaca dan menulis di kalangan pendidik kerap hanya menjadi jargon. Di atas kertas, program literasi terdengar begitu indah: seminar literasi, gerakan membaca buku, lomba menulis, hingga peresmian pojok baca. Namun kenyataannya, setelah peresmian usai, kegiatan itu hilang dari pantauan. Program berhenti di spanduk dan dokumentasi foto. Literasi akhirnya hanya menjadi ritual seremonial tanpa roh.
Pertanyaan besar kemudian muncul: apa yang salah?
Pertama, ada masalah serius dalam cara pandang kita terhadap literasi. Literasi masih dianggap sebagai kegiatan tambahan, bukan kebutuhan utama. Guru dituntut menyelesaikan administrasi pembelajaran, mengejar target kurikulum, hingga menuntaskan penilaian. Dalam kesibukan itu, kegiatan menulis maupun membaca yang sebenarnya esensial justru tersingkirkan. Literasi tidak pernah menjadi nafas dari kegiatan belajar-mengajar, melainkan sekadar tempelan.
Kedua, minimnya ekosistem pendukung. Guru yang ingin menulis kerap kebingungan mencari wadah publikasi. Media sekolah tidak berkembang, jurnal pendidikan terlalu kaku, dan akses ke media massa terbatas. Akhirnya, guru yang sebenarnya kaya pengalaman dan refleksi enggan menulis karena merasa tidak ada ruang yang menghargai karyanya. Padahal, pengalaman guru di kelas adalah sumber ilmu yang otentik dan sangat berharga untuk dibagikan.
Ketiga, budaya instan yang semakin merajalela. Membaca buku tebal dianggap membuang waktu, menulis panjang dianggap melelahkan. Semua ingin serba singkat, cepat, dan instan. Media sosial memang memudahkan orang mengekspresikan diri, tetapi di sisi lain ia menjerumuskan kita pada budaya tulis yang dangkal. Status singkat dianggap cukup, padahal kedalaman gagasan memerlukan proses menulis yang serius dan reflektif.
Namun, alih-alih berputus asa, justru di sinilah tantangannya. Kita, para pendidik, perlu merevitalisasi budaya menulis. Menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk murid, kolega, bahkan masyarakat luas. Menulis adalah bentuk tanggung jawab moral seorang guru. Bagaimana mungkin kita berharap murid terbiasa membaca dan menulis, sementara kita sendiri jarang melakukannya?
Revitalisasi itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Membiasakan diri menulis refleksi singkat setiap selesai mengajar, misalnya, bisa menjadi langkah awal. Membentuk komunitas kecil sesama guru untuk saling membaca dan mengkritisi tulisan juga dapat menumbuhkan semangat. Sekolah pun perlu memfasilitasi ruang publikasi internal, seperti buletin, majalah, atau blog sekolah, yang bisa menampung karya guru dan siswa. Di era digital, akses ke platform menulis daring juga terbuka lebar. Tidak ada alasan untuk tidak menulis.
Pada akhirnya, menulis bukan sekadar keterampilan teknis. Ia adalah cara kita merawat ingatan, membangun gagasan, dan meninggalkan warisan intelektual. Seorang guru yang menulis akan memberikan inspirasi bagi muridnya bahwa ilmu tidak berhenti di kelas, melainkan terus hidup dalam kata-kata. Dengan menulis, kita meneguhkan posisi sebagai bagian dari peradaban literasi.
Kini, saya mencoba kembali melatih jari-jari untuk menulis, meski terseok-seok. Saya percaya, sama seperti otot, kemampuan menulis akan kembali kuat jika terus dibiasakan. Yang lebih penting, saya ingin turut serta menghidupkan budaya menulis di lingkungan pendidikan. Sebab saya yakin, hanya dengan budaya literasi yang kokoh, bangsa ini mampu melangkah menuju masa depan yang lebih beradab.***

