Konten dari Pengguna

Dunia yang Kita Lupakan: Merindu Harmoni dengan Alam

DANIEL GAGARIN
Pensiunan PNS 30 tahun, kini fokus pada lingkungan, pertanian, dan perencanaan. Meski pensiun sejak 2021, semangat eksplorasi isu lingkungan, teknologi, dan kesehatan mental tak pernah padam. Berdedikasi penuh!
21 Mei 2025 13:25 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dunia yang Kita Lupakan: Merindu Harmoni dengan Alam
Refleksi puitis tentang kehancuran alam dan harapan akan harmoni yang terlupakan. Sebuah seruan untuk bertindak demi bumi, sebelum segalanya terlambat.
DANIEL GAGARIN
Tulisan dari DANIEL GAGARIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Harmoni lama yang nyaris terlupakan. Photo by Franklin PeƱa Gutierrez | Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Harmoni lama yang nyaris terlupakan. Photo by Franklin PeƱa Gutierrez | Pexels
Di ujung hutan yang kini tinggal kenangan, aku berdiri dengan napas tertahan. Dulu, pohon-pohon menjulang bagai raksasa bijak; dahan-dahannya menari bersama angin, akar-akarnya memeluk bumi dengan cinta. Kini, hanya tunggul-tunggul bisu yang tersisa—luka bumi yang ditinggalkan gergaji dan mesin yang tak pernah puas. Udara yang kuhirup kelabu, membawa aroma asap dan logam, sementara sungai yang dulu jernih kini mengalir lesu, keruh oleh limbah yang kami buang. Di kejauhan, kota-kota berdiri megah, tapi setiap batu bata, setiap tiang baja, adalah puing hutan yang gugur, gunung yang dikeruk, dan lautan yang terkuras.
Aku teringat percakapan dengan seorang petani tua di desa kecil. Matanya penuh cerita saat menunjuk pohon jati yang ditanam kakeknya puluhan tahun lalu. ā€œPohon ini lebih dari kayu,ā€ katanya, suaranya bergetar, ā€œia adalah napas kami, rumah burung, dan warisan anak cucu.ā€ Tapi pohon itu telah hilang—ditebang demi jalan raya. Wajahnya mencerminkan luka yang kurasakan kini: campuran rindu dan keputusasaan.
Namun di sudut hatiku, ada dunia lain yang masih hidup—sebuah visi yang nyaris bisa kusentuh. Bayangkan pagi yang lembut: sinar matahari menyelinap di sela dedaunan, mencium embun yang berkilau di ujung daun. Angin membawa wangi tanah basah dan bunga liar yang mekar tanpa paksaan. Sungai mengalir bening, menyanyikan lagu purba yang tak pernah terhenti, sementara anak-anak berlari di bawah naungan pohon ek berusia ratusan tahun, tawa mereka bergema bersama kicau burung.
Di dunia itu, kami bukan penguasa bumi, melainkan penjaga yang rendah hati. Rumah kami terbuat dari tanah liat yang dipahat matahari, atau kayu yang hutan berikan dengan rela. Kami menangkap energi dari hembusan angin dan aliran air, membiarkan perut bumi tetap damai, tak tersentuh cakar tambang. Pohon bukan sekadar bahan bangunan, melainkan sahabat yang memberi naungan, oksigen, dan tempat tinggal bagi miliaran makhluk tak bersuara. Kami hidup mengikuti irama alam: menanam saat hujan tiba, membiarkan tanah beristirahat saat ia lelah, dan menatap langit sebagai cermin jiwa, bukan kanvas untuk asap.
Malam di sana adalah puisi. Bintang-bintang bersinar terang, tak tertutup kabut polusi. Suara jangkrik dan hembusan angin menjadi simfoni yang menenangkan hati. Kemajuan bukan soal seberapa banyak yang bisa kami ambil, melainkan seberapa sedikit yang kami rusak. Tak ada tambang emas, karena kami tahu kilau sejati ada pada senyum anak-anak, pada waktu yang dihabiskan bersama, pada harmoni ketika manusia dan alam berjalan seiring.
Tapi mimpi itu pudar saat aku membuka mata. Deru mesin dan rintihan pohon tumbang mengguncang kesunyian. Bumi mengeluh di bawah beban ekskavator, dan udara yang kuhirup terasa seperti pengkhianatan. Aku bertanya pada diri sendiri: mungkinkah kita memilih jalan lain? Bisakah kita hidup tanpa melukai—belajar dari burung yang membangun sarang tanpa merusak dahan, atau semut yang menggali tanpa meninggalkan luka? Jawabannya terasa seperti kabut: dekat, tapi tak tergenggam.
Kita telah melangkah terlalu jauh di jalan yang kita sebut kemajuan. Kota-kota adalah raksasa rakus, menyedot sumber daya dari bumi yang semakin rapuh. Bahkan saat bicara tentang keberlanjutan, kita tetap menggali logam untuk panel surya, menebang pohon untuk kertas, dan mencemari udara demi energi. Seperti kata Rachel Carson, pionir lingkungan: "Kita menghadapi krisis karena kita telah memperlakukan bumi seperti milik kita, bukan sebagai sesuatu yang kita pinjam." Lalu, apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita—selain puing-puing dan penyesalan?
Saat senja merangkak, bayang-bayang pohon terakhir membentang panjang, seperti jari-jari yang merindukan sesuatu yang telah pergi. Aku duduk di sini, terperangkap dalam kontradiksi. Aku merindukan dunia tanpa luka, tapi hidupku bergantung pada eksploitasi—kopi yang kuminum, pakaian yang kupakai, bahkan kertas tempat kata-kata ini ditulis. Hutan yang tersisa berbisik dalam gelap: ā€œKau bermimpi tentang harmoni, tapi kau hidup dari darah kami.ā€ Bisik itu adalah cermin, memantulkan kebenaran pahit: kerinduan ini adalah kemewahan—lahir dari kenikmatan atas eksploitasi yang tak mampu kita kembalikan.
Namun, di tengah puing-puing, masih ada secercah cahaya. Dunia yang kita lupakan mungkin pernah dekat, dan meski kini hanya bayangan, kita masih bisa memulai. Menanam satu pohon. Mengurangi satu jejak. Mendengar bisikan alam. Bukan untuk menebus semuanya, tapi untuk menghormati yang masih ada. Seperti kata pepatah suku Haida, ā€œBumi adalah ibu kita, dan kita tidak menghancurkan ibu yang memberi kita kehidupan.ā€ Mari belajar menjadi anak yang lebih baik—bukan demi kita, tapi demi pohon terakhir yang masih berdiri, sungai yang masih ingin bernyanyi, dan anak-anak yang berhak mewarisi dunia yang utuh.
Mari kita mulai hari ini. Satu langkah kecil. Satu pohon baru. Satu janji untuk mendengar. Karena dunia yang kita lupakan itu bukan sekadar mimpi—ia adalah panggilan.
Trending Now