Konten dari Pengguna

Merangkul Ketidaksempurnaan: Perjalanan Menjadi Diri yang Utuh

DANIEL GAGARIN
Pensiunan PNS 30 tahun, kini fokus pada lingkungan, pertanian, dan perencanaan. Meski pensiun sejak 2021, semangat eksplorasi isu lingkungan, teknologi, dan kesehatan mental tak pernah padam. Berdedikasi penuh!
2 Juni 2025 12:35 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Merangkul Ketidaksempurnaan: Perjalanan Menjadi Diri yang Utuh
Temukan kekuatan menerima diri sendiri melalui perjalanan merangkul ketidaksempurnaan. Pelajari cara menjadi utuh dengan berdamai pada sisi terang dan gelap diri kita. #AcceptYourself
DANIEL GAGARIN
Tulisan dari DANIEL GAGARIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Dua kuas di atas lukisan abstrak berwarna-warni karya Steve Johnson (Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dua kuas di atas lukisan abstrak berwarna-warni karya Steve Johnson (Pexels)
Bayangkan hidup sebagai sebuah lukisan tua, tersimpan di loteng berdebu, penuh dengan goresan warna yang memukau sekaligus retakan yang tak bisa disembunyikan. Kita semua adalah pelukis sekaligus kanvas dalam karya ini. Kita berusaha menggambar garis-garis kehidupan dengan tangan yang kadang gemetar, kadang penuh percaya diri. Kita ingin dunia melihat kita sebagai sosok yang hangat, penuh kasih, dan membawa cahaya. Namun, di balik senyum yang kita ukir, di balik tawa yang kita bagi, ada sisi lain. Sisi yang rapuh, yang terluka, yang menyimpan cerita-cerita kelam dan rahasia yang hanya kita bisikkan pada malam yang sunyi.
Kita adalah manusia, dan menjadi manusia berarti hidup dengan ketidaksempurnaan. Ada di antara kita yang berjalan dengan beban rendah diri, seolah dunia adalah cermin yang selalu memantulkan kekurangan kita. Mereka melangkah hati-hati, takut salah, takut tak cukup, takut tak dilihat. Ada pula yang membungkus diri dalam jubah ego, membangun tembok tinggi dari kesombongan untuk menyembunyikan keraguan yang menggerogoti hati.
Beberapa dari kita begitu peka, setiap kata terasa seperti anak panah yang menembus. Sementara yang lain memandang dunia dari singgasana ilusi keunggulan, seolah mereka tak pernah bisa tersentuh. Ada yang merasa kecil di tengah keramaian, ada pula yang percaya dunia harus tunduk pada mereka. Kita berbeda, namun serupa. Masing-masing membawa luka, trauma, dan keyakinan yang membentuk siapa kita, namun juga kadang menjerat kita dalam bayang-bayang.
Coba bayangkan hidup kita sebagai sebuah buku tua, dengan halaman-halaman yang sudah menguning, penuh noda dan lipatan. Di dalamnya, ada cerita tentang kita. Tentang tawa yang meledak di sore yang cerah, tentang air mata yang jatuh di malam yang sepi, tentang keputusan yang kita sesali, dan mimpi yang masih kita kejar. Ada halaman yang ingin kita robek, ada pula yang ingin kita baca berulang-ulang.
Tapi, buku ini tak pernah hanya tentang satu bab. Satu tindakan buruk tidak lantas menjadikan kita penjahat dalam cerita ini. Seperti satu kebaikan tak otomatis mengukir kita sebagai pahlawan. Kita adalah kumpulan dari semua bab itu—yang indah, yang pahit, yang tak selesai. Dan di antara baris-baris cerita itu, kita belajar bahwa kebenaran tentang diri kita bukanlah tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi utuh.
Menerima diri sendiri adalah seperti berdiri di tepi jurang, menatap kedalaman yang menakutkan, namun memilih untuk tetap melangkah. Itu berarti melihat bayang-bayang kita—sisi gelap yang kita sembunyikan, kesalahan yang kita tutupi, ketakutan yang kita pendam. Kemudian berkata, "Kau adalah bagian dari aku, tapi kau bukan seluruh diriku."
Itu juga berarti merangkul kebaikan yang kita miliki, meski kadang terselip di balik keraguan. Hanya dengan berdamai dengan kedua sisi ini—yang terang dan yang kelam—kita bisa menemukan kedamaian. Bukan kedamaian yang datang dari pujian dunia, tetapi yang lahir dari dalam. Dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Dan di sinilah keajaiban sejati dimulai. Ketika kita berhenti berlari dari diri sendiri, ketika kita berani berdiri di hadapan cermin dan melihat setiap goresan—yang indah maupun yang retak—kita mulai memahami. Kita bukan hanya cerita tentang apa yang telah kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang bisa kita jadi.
Setiap langkah, setiap napas, adalah kesempatan untuk melukis ulang, untuk menulis bab baru. Kita tak perlu menjadi sempurna, hanya perlu menjadi berani. Berani untuk terus berjalan, untuk terus bertumbuh, untuk menjadi versi diri yang lebih dekat dengan mimpi kita, sambil tetap mencintai setiap ketidaksempurnaan yang membuat kita manusia.
Jadi, mari kita berjalan dengan kepala tegak, namun hati yang rendah. Mari kita terima bahwa kita adalah lukisan yang belum selesai, penuh warna, penuh cerita, dan penuh harapan. Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi nyata. Menjadi diri kita yang utuh, dengan segala keindahan dan kekurangannya.
Dan dalam keberanian untuk merangkul ketidaksempurnaan itulah, kita menemukan makna sejati dari perjalanan ini.
Trending Now