Konten dari Pengguna
Merangkul Setiap 'Terakhir Kali' Bersama Anak
17 Mei 2025 12:32 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Merangkul Setiap 'Terakhir Kali' Bersama Anak
Merangkul Setiap 'Terakhir Kali' Bersama Anak: Refleksi emosional tentang momen berharga mengasuh anak yang cepat berlalu. Hargai setiap pelukan dan tawa sebelum menjadi kenangan.DANIEL GAGARIN
Tulisan dari DANIEL GAGARIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat kau pertama kali menggendong bayimu, dunia seakan terhenti. Ada keajaiban dalam pelukan itu—detik-detik penuh cinta yang mengubah hidupmu selamanya. Namun, di balik kelembutan itu, kau tak lagi menjadi dirimu yang dulu. Kadang, di tengah malam yang hening, kau merindukan masa ketika hidup terasa ringan—waktu bebas, tanpa tangis kecil yang membuyarkan tidurmu.
Mengasuh anak adalah petualangan penuh warna sekaligus melelahkan. Hari-hari berbaur dalam ritme yang nyaris sama: menyusui, mengganti popok, menenangkan tangisan, dan menangani rengekan. Ada hari ketika tidur siang anakmu bagai anugerah, dan hari lain ketika kurang tidur membuatmu mempertanyakan segalanya. Siklus ini terasa seperti roda yang berputar tanpa henti.
Namun, di tengah kesibukan sehari-hari, ada rahasia yang sering terlupa: setiap momen punya akhir. Setiap detik bersama anakmu, seberapa pun melelahkannya, menyimpan sebuah 'terakhir kali' yang datang tanpa isyarat.
Bayangkan hari ketika kau menyusui anakmu untuk kali pamungkas, tanpa tahu itu adalah akhir. Atau malam ketika mereka tertidur di dadamu setelah hari panjang, dan tanpa disadari, itu menjadi momen terakhir kau memeluk mereka yang terlelap. Suatu saat, kau akan menggendong mereka di pinggulmu, lalu menurunkannya—dan tak pernah lagi mengangkat mereka seperti itu.
Momen-momen kecil lainnya juga akan berlalu. Malam ketika kau menggosok rambut mereka di bak mandi akan digantikan oleh keinginan mereka untuk mandi sendiri. Tangan mungil yang dulu erat menggenggam jarimu saat menyeberang jalan, suatu hari akan memilih berjalan sendiri. Mereka yang dulu menyelinap ke kamarmu tengah malam untuk pelukan hangat, suatu saat tak lagi datang, meninggalkan ranjangmu terasa sunyi.
Ingatkah sore penuh tawa ketika kau menyanyikan "Cicak-Cicak di Dinding" dengan gerakan konyol yang membuat mereka terkikik? Suatu hari, lagu itu hanya akan jadi kenangan. Ciuman perpisahan di gerbang sekolah akan berubah menjadi permintaan mereka untuk berjalan sendiri. Cerita pengantar tidur pamungkas akan kau bacakan, wajah kotor terakhir akan kau usap, dan pelukan dengan tangan kecil yang terangkat akan datang untuk kali terakhir—tanpa tanda.
Yang paling mengharukan, kau tak akan tahu itu adalah momen terakhir. Momen-momen itu berlalu begitu saja, dan baru saat menoleh ke belakang, kau sadar mereka telah usai. Bahkan saat kesadaran itu datang, hatimu masih perlu waktu untuk menerima.
Maka, di tengah tawa, tangis, dan kekacauan hari ini, luangkan waktu untuk hadir sepenuhnya. Ingatlah, momen-momen ini bagaikan butir pasir dalam jam waktu—terbatas dan berharga. Suatu hari, kau akan merindukan kehangatan pelukan mereka, tawa saat menyanyikan lagu konyol, atau sentuhan tangan kecil mereka dalam genggamanmu.
Peluk mereka sedikit lebih lama hari ini. Nyanyikan satu lagu lagi, bacakan satu cerita lagi. Karena suatu saat, kau akan mengharapkan satu hari lagi untuk merasakan semua itu—untuk satu kali terakhir.

