Konten dari Pengguna

Melihat Dunia dari Jendela yang Retak: Bahagia, Tapi Bukan Aku

Masni
Mahasiswa ilmu Al-Qur'an dan tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30 Juli 2025 9:08 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Melihat Dunia dari Jendela yang Retak: Bahagia, Tapi Bukan Aku
Kisah tentang seseorang yang ingin bahagia seperti orang lain, tapi terhalang oleh realita hidup, tanggung jawab, dan keterbatasan finansial.
Masni
Tulisan dari Masni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
 Foto AI original.
zoom-in-whitePerbesar
Foto AI original.
Setiap hari, aku menyaksikan dunia dari balik jendela kecil kamarku. Bukan pemandangan indah, hanya langit yang sama dan jalan kecil yang biasa. Tapi dari sanalah aku melihat mereka—orang-orang yang tampaknya begitu mudah tertawa, bepergian, memanjakan diri, menikmati hidup. Dan saat itu juga aku sadar, ada jarak yang tak kasatmata antara mereka dan aku. Jarak bernama “realita”. Aku ingin seperti mereka. Ingin liburan ke tempat tenang. Ingin sesekali makan enak tanpa hitung-hitung sisa uang. Ingin membeli hal kecil tanpa merasa bersalah. Tapi keinginan itu selalu kandas saat kenyataan mengetuk: aku belum bisa. Aku masih di sini, menghitung hari, menyusun strategi hidup dengan anggaran pas-pasan. Bukan karena aku tak berusaha, tapi karena aku punya beban yang mungkin tak dimiliki semua orang. Ada tanggung jawab untuk membantu keluarga, ada kebutuhan yang tak bisa ditunda, dan ada mimpi yang terus ditunda. Media sosial kerap membuat luka itu menganga. Saat melihat teman-teman sebaya tertawa tanpa beban, berbagi pencapaian dan “healing” mereka yang mewah, aku hanya bisa scroll sambil menarik napas panjang. Bukan iri, hanya… sedih. Karena aku juga ingin, tapi tidak bisa. Tapi hidup tidak selalu bisa dipilih. Ada orang yang memang lahir dalam kenyamanan, ada yang harus berjuang dari nol. Dan aku, mungkin bagian dari yang kedua. Tapi itu bukan berarti aku kalah. Aku belajar menemukan bahagia dalam bentuk lain. Dalam tawa ibu saat aku pulang membawa oleh-oleh sederhana. Dalam suara adik yang mengabari lulus ujian. Dalam secangkir kopi sore, hasil menabung receh. Bahagia versiku tak seindah postingan Instagram, tapi nyata. Jendela di kamarku memang retak, seperti hidup yang tak selalu utuh. Tapi justru dari retaknya itu aku bisa melihat dunia dari sudut yang berbeda. Bukan untuk mengeluh, tapi untuk terus melangkah. Karena mungkin, bahagia itu bukan tentang seberapa sering kita tersenyum di foto—melainkan seberapa kuat kita bertahan dalam diam. Dan kalau hari ini kamu juga merasa “tertinggal”, percayalah: kamu tidak sendiri. Kita hanya menempuh jalan yang berbeda, dengan langkah yang mungkin lebih berat. Tapi bukan berarti kita tidak akan sampai.
Trending Now