Konten dari Pengguna
Suara Hati Santriwati di Kota Metropolitan
27 Juni 2025 14:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Suara Hati Santriwati di Kota Metropolitan
Kisah nyata perjuangan santriwati dalam menjaga identitas dan nilai Islam saat kuliah di kota besar. Narasi ini mengajak pembaca merenungi pentingnya prinsip hidup di tengah godaan zaman. Masni
Tulisan dari Masni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusan untuk kuliah di kota besar akan membawa pertarungan batin sedalam ini. Bukan karena tugas kuliah yang menumpuk, melainkan perjuangan menjaga jati diri sebagai seorang santriwati di tengah dunia yang serba bebas dan nyaris tanpa batas.
Dunia yang Tak Lagi Sama
Aku tumbuh di lingkungan pesantren putri yang cukup ketat. Hidup sederhana, makanan seadanya, pakaian longgar, dan hampir tidak mengenal media sosial—kecuali untuk dakwah. Hari-hariku diisi dengan hafalan Al-Qur’an, membaca kitab kuning, dan berdiskusi soal agama. Di sana, aku merasa tenang, utuh, dan cukup.
Namun, ketika tiba di kota, semuanya berubah. Tak ada aturan soal jam malam, tak ada pengawasan terhadap pakaian, tak ada kewajiban mengikuti kajian. Semua serba bebas.
Barulah aku menyadari, kebebasan itu bisa jadi jebakan yang manis. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis, “Jiwa yang dibiarkan bebas tanpa pengawasan akan condong kepada syahwat dan melupakan tujuan akhir.” Dan aku mulai merasakannya sendiri.
Godaan Bukan Lagi Soal Cinta
Banyak orang mengira godaan terbesar santriwati di kota adalah soal lawan jenis. Tapi kenyataannya, godaan paling berat justru datang dari dalam: saat kamu mulai berkompromi dengan prinsip.
Ketika kamu berkata, “Gak apa-apa buka sedikit, kan cuma nongkrong sebentar.” Atau, “Nonton konser sekali-kali gak dosa, kan?” Itu bukan sekadar pilihan ringan—itulah awal dari kebocoran iman.
Iman tidak turun secara drastis. Ia bocor perlahan—dari cara bicara, cara berpakaian, cara memilih teman, hingga cara memandang hidup.
Aku mulai kehilangan arah. Bukan kehilangan barang , tapi kehilangan diri. Shalatku mulai bolong. Tilawah mulai jarang. Aku sibuk mengejar nilai dan pengakuan sosial. Hingga suatu malam, aku menangis sendirian di kamar kos. Bukan karena stres kuliah, tapi karena aku tidak lagi mengenali siapa diriku.
Rindu yang Menampar
Dalam keheningan malam, aku teringat sesuatu: rindu. Rindu pada adzan subuh yang membangunkan. Rindu pada lantunan Al-Qur’an dari kamar ke kamar. Rindu pada ustadzah yang menegur dengan lembut tapi menenangkan. Rindu itu menjadi penyelamat. Aku sadar, meskipun aku jauh dari pondok, aku tidak boleh jauh dari nilai-nilainya.
Aku mulai membenahi diri. Perlahan, tapi pasti. Aku susun ulang rutinitas ibadah. Aku cari komunitas kajian di kampus. Aku mulai menulis jurnal harian agar tetap sadar akan prosesku.
Aku belajar dari kisah para muslimah tangguh seperti Sumayyah binti Khayyat—perempuan pertama yang syahid demi mempertahankan iman, meskipun harus menanggung siksaan hebat. Mereka tidak menyerah pada keadaan, dan aku pun tak ingin menyerah.
Menjadi Santriwati Bukan Sekadar Tempat
Hari ini, aku tinggal di tengah gemerlap Jakarta. Tapi hatiku sudah kembali tenteram. Bukan karena lingkungan berubah, tapi karena aku sudah tahu bahwa:
Menjadi santriwati bukan soal tempat, tapi soal prinsip.
Identitas ini tidak tergantung pada seragam atau pagar pesantren. Ia tinggal di hati, dan harus dijaga dengan kesadaran. Aku tidak ingin jadi “biasa” hanya demi diterima. Aku ingin tetap kuat, meski harus sendiri. Karena seperti kata Ali bin Abi Thalib:
Dari perkataan Ali bin Abi Thalib ini benar bahwa lebih baik sendiri di jalan kebenaran daripada ramai di jalan yang salah. Karena ini juga adalah salah satu jalan untuk mempertahankan jati diri kita dalam dunia yang serba permisif ini.

