Konten dari Pengguna

Laptop Refurbish: Solusi Ekonomis dan Lingkungan dalam Ekonomi Sirkular

Rian Wirya
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret
27 Mei 2025 16:56 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Laptop Refurbish: Solusi Ekonomis dan Lingkungan dalam Ekonomi Sirkular
Di tengah tuntutan zaman untuk menggunakan perangkat digital. Laptop refurbish dapat menjadi solusi sementara dalam mengisi celah kekosongan kebutuhan masyarakat.
Rian Wirya
Tulisan dari Rian Wirya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gambar perakitan barang elektronik. sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar perakitan barang elektronik. sumber: freepik.com
Laptop telah menjadi perangkat esensial di Indonesia karena didorong oleh peningkatan literasi digital dan kebutuhan masyarakat multifungsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penggunaan komputer bervariasi dari 18,89% di DKI Jakarta hingga 6,28% di Riau. Kesenjangan ini menuntut solusi teknologi yang lebih terjangkau terutama bagi pelajar dan mahasiswa untuk tugas dan kelas daring. Sensitivitas harga konsumen di Indonesia, di mana harga yang rendah berperan meningkatkan niat beli menjadikan laptop yang terjangkau jadi opsi utama. Di era sekarang sudah banyak influencer yang menyarankan konsumen mencari RAM 8GB, dan SSD sebesar 256 GB dengan kualitas tahan banting. Perangkat refurbish dapat menjadi jembatan dalam mengatasi kesenjangan digital serta memberikan akses teknologi esensial bagi daya beli terbatas. Penekanan prioritas pada fungsional dan bukan performa yang mutakhir membuka peluang bagi perangkat refurbish yang dulunya barang premium masih dapat terlihat memiliki nilai lebih.
Fenomena laptop refurbish berkembang pesat sebagai respons kebutuhan pasar yang lebih sustainable. Pasar global refurbish diproyeksikan tumbuh dari USD 17,856.6 juta (2024) menjadi USD 39,405 juta (2032). Pendorongnya adalah kekhawatiran e-waste yang makin meningkat. Di Indonesia telah menghasilkan 2 juta ton e-waste pada 2021 termasuk 10 juta unit laptop/PC pada 2020. Refurbish selaras prinsip ekonomi sirkular (Refuse–Rethink–Reduce–Reuse–Repair–Refurbish–Remanufacture–Repurpose–Recycle). Dengan memperbaharui laptop lawas dapat mengurangi permintaan bahan baku baru dan emisi CO₂, dibandingkan manufaktur yang baru yang menyumbang 70-80% emisi seumur hidup perangkat, sementara refurbish dapat mengurangi emisi karbon hingga 70%. Krisis e-waste ini juga dapat berubah menjadi peluang ekonomi serta menciptakan lapangan kerja yang memerlukan keahlian reparasi dan daur ulang. Laptop refurbish juga ekonomis karena 20-50% lebih murah dari perangkat baru. Diiringi dengan program refurbish resmi merek besar yang dapat melegitimasi pasar dan mengatasi skeptisisme konsumen mengenai produk refurbish.
Beberapa merek internasional aktif dalam program refurbish bersertifikat. Lenovo memiliki "Lenovo Certified Refurbished" dengan inspeksi, pembersihan data, perbaikan suku cadang asli, dan garansi 1-3 tahun. Merk HP menawarkan "HP Renew Solutions" dengan pengujian fungsional, penghapusan data, suku cadang OEM, dan garansi 1 tahun. Apple memiliki toko "Certified Refurbished" global dengan penghematan hingga 15% dan garansi satu tahun. Namun, Apple Indonesia tidak menjual iPhone refurbish resmi, sehingga pembelian non-resmi berisiko kualitas tidak terjamin, tanpa garansi, dan rentan akan penipuan. ASUS memiliki "GreenCycle" di Indonesia, yang berfokus pada daur ulang dan perbaikan komponen. Dell dan Acer juga memiliki programnya sendiri, namun belum ada kabarnya yang jelas sehingga penting bagi konsumen untuk hati-hati dalam membeli dan memperhatikan garansi.
Meskipun banyak keuntungan, laptop refurbish memiliki kekurangan bagi konsumen dan lingkungan. Konsumen biasanya hanya punya garansi lebih pendek (90 hari-1 tahun) dan potensi masa pakai total lebih singkat belum lagi kalau beli di toko yang tidak resmi secara online, berdasarkan pengamatan penulis menemukan ada toko yang hanya memberi garansi selama 30 hari. Cacat minor secara fisik sudah pasti ada serta kondisi baterai yang perlu diperhatikan (idealnya memiliki batery health sekitar 80%). Komponen lebih tua juga memengaruhi performa. Risiko terbesar dari penjual tidak resmi, dapat menyebabkan kualitas tidak terjamin, komponen palsu atau data belum terhapus sehingga risiko ini tidak hanya pada produk, tetapi juga pada sumber pembelian. Dari sisi lingkungan, proses refurbish membutuhkan energi, namun konsumsinya jauh lebih rendah yaitu sekitar 5x lebih kecil daripada manufaktur produk baru. karena manfaat lingkungan terbesar berasal dari penghindaran manufaktur awal yang banyak memakan sumber daya. Kerugian lingkungan juga biasanya hanya terjadi jika proses tidak bersertifikat yang bisa menyebabkan kebocoran bahan berbahaya. Manfaat lingkungan yang bersih dari perpanjangan masa pakai perangkat merupakan bagian dari dampak kecil proses refurbish yang bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, fenomena laptop refurbish di Indonesia adalah perpaduan kebutuhan ekonomis dan kesadaran lingkungan. Pasar ini menawarkan solusi terjangkau yang mendukung ekonomi sirkular dengan memperpanjang masa pakai perangkat serta mengurangi limbah dan jejak karbon. Konsumen perlu cermat memilih dari sumber resmi dan bersertifikat untuk meminimalkan risiko kualitas, garansi, dan keamanan data. Dengan pilihan yang tepat, laptop refurbish bisa menjadi opsi cerdas bagi konsumen Indonesia yang mencari sisi fungsional dan ingin lebih sustainable.
Trending Now