Konten dari Pengguna
Pergi dari Hubungan Toxic: Akhirnya Aku Memilih Diriku Sendiri
14 Juni 2025 14:11 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Pergi dari Hubungan Toxic: Akhirnya Aku Memilih Diriku Sendiri
Silvia membagikan kisahnya saat ia akhirnya memilih pergi dari hubungan toxic. Bukan karena dia menyerah, tapi karena dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri.silvia nur anggraeni
Tulisan dari silvia nur anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hai, namaku Silvia, dan ini adalah kisahku meninggalkan hubungan yang toxic. Bukan karena aku berhenti mencintai, tapi karena aku akhirnya memilih mencintai diriku sendiri.
Aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang paling aku cintai justru bisa membuatku merasa paling kecil, paling takut, dan paling hilang arah.
Dulu aku kira cinta berarti bertahan sekuat mungkin. Tapi sekarang aku tahu, bertahan dalam luka itu bukan cinta, itu menyiksa diri sendiri.
Dan sekarang, aku ingin cerita. Bukan karena aku sudah sepenuhnya sembuh, tapi karena aku tahu… ada banyak orang di luar sana yang mungkin sedang mengalami hal yang sama seperti aku kemarin.
Semua berawal dari yang manis.
Awalnya, dia seperti cahaya. Perhatian, hangat, selalu ada. Dia tahu cara membuatku merasa spesial atau setidaknya, itulah yang aku rasakan.
Tapi pelan-pelan, semuanya berubah. Kata-kata manis berubah jadi kasar. Perhatian berubah jadi kontrol. Dan aku berubah jadi seseorang yang selalu takut salah, takut dia marah, takut ditinggalkan.
Yang paling menyakitkan? Aku sadar, tapi aku tetap bertahan.
Aku selalu menyalahkan diriku sendiri.
Setiap kali dia bersikap kasar secara emosional, aku membela dia. “Dia cuma lagi capek.” “Mungkin aku yang terlalu sensitif.” Lama-lama aku merasa, mungkin aku memang tidak layak dicintai.
Aku pernah menangis diam-diam.
Di kamar mandi, di perjalanan pulang, di malam hari saat dia tertidur.
Aku bertanya, “Apakah aku pantas diperlakukan seperti ini?”
Tapi aku masih berharap dia akan berubah.
Dan tetap, aku bertahan. Karena aku takut kehilangan. Tapi yang aku lupakan, aku sudah lama kehilangan diriku sendiri.
Sampai aku lelah, benar-benar lelah.
Satu malam, aku duduk sendiri, diam, sambil melihat bayanganku di cermin. Wajahku terlihat asing. Pandanganku kosong. Aku lelah jadi versi diriku yang seperti ini.
Akhirnya aku sadar, kalau aku tidak menyelamatkan diri sendiri sekarang… aku akan semakin kehilangan diriku sendiri.
Aku yang berkali-kali memastikan untuk mengambil keputusan ini, dengan tangan gemetar dan air mata, akhirnya aku bilang padanya: “Aku nggak bisa lagi.”
Dan aku pergi.
Hari-hari setelah itu hampa. Ada rasa rindu. Ada rasa bersalah. Tapi di sela-sela semua itu, ada satu hal kecil yang tumbuh pelan-pelan: rasa lega.
Aku mulai mengenal kembali diriku. Aku mulai belajar tertawa tanpa rasa takut. Aku mulai melakukan hal-hal yang aku suka tanpa rasa bersalah. Aku mulai menemukan kembali diriku yang dulu hilang.
Aku sadar, cinta yang sehat tidak membuatmu mempertanyakan harga dirimu setiap hari.
Kalau kamu lagi mengalaminya juga, aku cuma mau bilang: Kamu tidak lemah. Kamu tidak berlebihan. Kamu cuma sedang terluka. Dan kamu berhak sembuh.
Pergi bukan berarti kamu menyerah. Itu berarti kamu mulai memprioritaskan dirimu sendiri. Dan itu adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa kamu berikan, pada dirimu.
Kalau aku bisa peluk diriku yang dulu, aku akan bilang: “Terima kasih sudah memilih pergi. Karena dari situlah langkah awal hidupmu mulai berubah.”
Dan untuk kamu yang lagi menunggu kapan harus pergi, mungkin ini saatnya. Percayalah, meninggalkan hubungan toxic bukan kelemahan, tapi kekuatan.
Jangan tunggu sampai dirimu hancur seluruhnya. Kamu pantas bahagia. Kamu pantas dicintai tanpa luka.
Aku sudah pergi. Sekarang, giliranku untuk hidup.

