Konten dari Pengguna
Antara Gadget, Anak, dan Pijat
15 September 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Antara Gadget, Anak, dan Pijat
Artikel ini mengulas peran ibu di era digital: menjaga anak dari kecanduan gadget, menjadi teladan, komunikator, hingga menerapkan hypnoparenting agar tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter. Intan Cahya Wulan
Tulisan dari Intan Cahya Wulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era modern ini, kita menghadapi dilema besar bernama teknologi. Ya, kita hidup di zaman yang disebut era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Bahasa kerennya begitu, tapi simpelnya: dunia makin cepat berubah dan kadang membuat kepala “cenat-cenut” apalagi bagi para ibu.
Salah satu tantangan besar para ibu masa kini adalah mendampingi anak belajar di era digital. Belum selesai urusan pembelajaran online dan offline, sudah muncul PR baru: bagaimana menyeimbangkan manfaat edukatif gadget dan risiko kecanduan anak terhadap layar. Ini bukan sekadar perkara tombol on dan off, tapi soal bagaimana seorang ibu bisa menjadi digital guardian tanpa harus berubah jadi “mama galak 24 jam”.
Belum lagi jurang generasi antara anak-anak digital native (yang lahir langsung jago utak-atik gadget) dan para ibu digital immigrant (yang baru paham TikTok setelah diajarkan anaknya). Perkembangan teknologi yang begitu cepat kadang membuat orang tua merasa seperti kejar-kejaran dengan waktu. Anak-anak merasa “nggak gaul” kalau nggak punya gadget. Sementara orang tua pusing dengan kuota, konten, dan kelakuan si kecil di dunia maya.
Nah, di sinilah peran Perempuan khususnya ibu menjadi sangat strategis. Gadget itu seperti pisau bermata dua: bisa melindungi, bisa juga melukai. Maka ibu harus menjadi garda depan yang bukan hanya mengatur penggunaan gadget, tapi juga menjadi pelindung dan pembimbing digital anak-anaknya.
Saya sendiri adalah seorang ibu bekerja, ASN di sebuah instansi pemerintah, dan mengalami tantangan yang sama. Di sini saya ingin berbagi delapan peran ibu dalam mendampingi anak di era gadget, tidak bermaksud menggurui tapi cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi seorang “long life learner” ditambah sedikit bumbu humor agar tidak terlalu tegang.
Yang pertama saya berperan sebagai digital coach (guru digital) zaman now. Saya menemani anak-anak menonton konten edukatif seperti kisah nabi, video sains, dan dokumenter menarik. Tentunya dengan pendekatan menyenangkan, bukan yang membuat mengantuk seperti film jadul. Saya meyakinkan mereka bahwa memilih tontonan harus sesuatu yang mendapatkan manfaat darinya bukan hanya mendapat kesenangan saja.
Saya ajarkan mereka menggunakan AI, tapi tetap dengan pesan penting: “AI itu kayak GPS, membantu menunjukkan jalan, tapi kamu tetap harus bisa menyetir sendiri.” Jangan asal copas, harus paham dulu. Walaupun terkadang dilematis menggunakan AI membuat jawaban cepat dan pintar tapi membuat otak juga jadi malas berpikir. Jika mereka mencari jawaban menggunakan AI mereka harus memastikan mereka mengerti dan paham apa yang ditulis oleh AI jadi tidak hanya copas saja dan mereka harus mencek sumber-sumbernya Apakah valid atau tidak Dan sejauh ini AI lumayan membantu untuk mengerjakan tugas-tugas anak.
Yang kedua saya berperan sebagai digital guardian (Satpam Keluarga Digital). Saya tidak overprotektif, tapi tetap waspada. Aktifkan parental control, batasi akses ke konten negatif, dan ajarkan pentingnya menjaga data pribadi. Saya juga mengajari mereka bahwa tidak semua orang di internet itu baik ada cyberbullying, predator online, dan akun-akun random yang entah dari mana datangnya.
Teman saya bahkan sampai pasang aplikasi pelacak lokasi, Live 360, agar tahu anaknya lagi di mana. Saya? Cukup pasang "GPS emak-emak" alias insting tajam dan sedikit interogasi penuh cinta saat ini, belum tau ke depannya nanti. Sesekali perlu untuk melihat riwayat chat tontonan , dari satpam keluarga menjadi hacker keluarga digital.
Yang ketiga saya berperan sebagai Digital Role Model (Teladan Digital) atau orang tua yang tidak melulu “Nempel” HP. Saya berusaha memberi contoh dan menekankan perlunya keseimbangan: menggunakan gadget untuk hal produktif seperti belajar, bisnis, dan konten edukatif.
Saya ajak anak berenang, memasak, memanah dan banyak mengikutkan mereka kursus di luar dan di dalam sekolahnya sehingga screen time mereka semakin berkurang atau sekadar ngobrol sambil makan-makan diluar. Sesekali bermain medsos, tapi lebih banyak buat “stalking” harga diskon. Ya, walaupun itu sulit ya tapi daripada tidak sama sekali lebih baik dilakukan walaupun sedikit dan semampunya.
Yang keempat saya berperan sebagai Family Communicator ( Pendengar dan Teman Curhat). Saya punya tiga anak perempuan: dua ABG (13 dan 14 tahun) dan satu SD (6 tahun). Teori psikologi dan hadis nabi menyebutkan: 0–7 tahun perlakukan anak seperti raja, 7–15 tahun seperti tawanan (dalam arti diajari disiplin), dan setelah itu jadi sahabat. Anak kecil saya suka game dan video.
Saya terkadang ikut terlibat dan bertanya dengan antusias supaya dia terbuka. Anak ABG? Wah, itu tantangan tersendiri. Tapi saya terkadang mengajak mereka mengobrol, bukan menggurui. Bahasa yang santai, tidak judgmental. Intinya, jadi teman curhat yang nggak bikin ilfeel walau tetap harus tegas tapi tidak kasar. Sulit memang apalagi dengan karakter anak yang berbeda-beda.
Intinya menciptakan ruang yang aman atau space agar mereka mau bercerita dengan bahasa yang akrab mengedukasi bukan menggurui. Karena Kita juga harus paham rasa ingin tahu mereka tentang media sosial sangat tinggi jadi kontrol dengan diskusi bukan dengan larangan
Yang kelima saya berperan sebagai Digital Rhythm Controller (Penjaga Irama Digital) keluarga. Saat ini saya mulai merencanakan untuk “digital detoks” alias sehari tanpa HP di akhir pekan. Tentu dengan diplomasi tingkat tinggi supaya anak-anak tidak protes alias demo. Saya batasi screen time hanya 1–2 jam pada hari sekolah, cukup untuk pelajaran dan sedikit hiburan.
Weekend boleh lebih fleksibel, tapi tetap dengan alternatif kegiatan offline. Saya alihkan dengan aktivitas lain seperti olahraga, hangout dan pengajian Saat makan, salat, tidur, dan family time? Gadget wajib istirahat. Kami juga!
Yang keenam saya menerapkan Hypnoparenting. Yakni afirmasi cinta sebelum tidur dan bangun tidur. Sebagai praktisi hipnoterapi dan mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi, saya menggunakan teknik hypnoparenting. Hubungan antara psikologi komunikasi dan hipnoterapi sangat erat sehingga saya bisa menggunakan ilmu tersebut untuk memasukkan afirmasi positif ke alam bawah sadar anak-anak saya.
Saya memberikan trik untuk bunda-bunda semua agar bisa melakukan hypnoparenting, contohnya saat anak-anak akan tidur, bangun tidur dan saat anak-anak sedang kondisi sangat fokus dan rileks. Saat-saat seperti itu kondisi anak sedang dalam gelombang otak Alfa atau bahkan Theta sehingga sangat mudah dimasuki sugesti dan afirmasi positif. Saat anak bangun dan menjelang tidur, saya tanamkan afirmasi positif.
Misalnya, “Fatimah anak salehah, otaknya pintar, semangat belajar, tubuhnya kuat, dan hari ini akan luar biasa.” Diiringi pelukan dan ciuman, tentu. Ini bukan mantra sihir, tapi teknik komunikasi bawah sadar yang sangat efektif yang akan mempengaruhi psikisnya. Sangat baik jika dibacakan doa Al Fatihah dan ditiupkan ke ubun-ubunnya (silakan disesuaikan dengan agama dan kepercayaan masing-masing).
Yang ketujuh, ini baru rencana dalam benak saya, saya berperan sebagai Digital Agen of Change (Agen Perubahan Digital) untuk komunitas. Perempuan juga bisa menjadi agen perubahan digital di lingkungan. Misalnya, membuat grup WhatsApp wali murid untuk edukasi gadget sehat, menyisipkan tema literasi digital di arisan, majelis taklim, atau sekadar ngobrol bareng tetangga. Tidak perlu jadi ahli IT, cukup jadi ibu yang peduli dan aktif berbagi.
Yang kedelapan dan yang terpenting adalah Doa senjata terkuat para Ibu. Wajib percaya duhai ibu, doa terbaikmu untuk anakmu dengan disertai perbuatan yang baik dan keyakinan kuat InsyaAllah terkabul. Tetap berkata baik walaupun sedang marah karena itu bisa jadi doa dan bisa jadi masuk ke pikiran bawah sadar sang anak yang akan mengafirmasi dan menentukan jadi orang seperti apa dia nantinya.
Demikian sedikit curahan hati dan pengalaman saya sebagai ibu di era gadget dan zaman VUCA ini. Perempuan bukan hanya pahlawan dapur, tapi juga garda depan literasi digital yang bisa mengarahkan keluarga menuju dunia digital yang sehat dan bermanfaat. Sambil tetap waras, tetap lucu, dan tetap kuat meski sesekali butuh pijat.
Salam hangat dari ibu yang (masih) belajar.

