Konten dari Pengguna
Haji Kocak 2025: Sebuah Catatan Santai Penuh Hikmah dan Kentut
16 September 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Haji Kocak 2025: Sebuah Catatan Santai Penuh Hikmah dan Kentut
Cerita nyata haji 2025: kisah inspiratif, penuh humor, refleksi, dan hikmah. Sebuah catatan ringan yang mengingatkan makna sabar, syukur, dan ikhlas dalam ibadah hajiIntan Cahya Wulan
Tulisan dari Intan Cahya Wulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2025 bulan Mei sampai Juni kemarin, Masyaallah… akhirnya aku berangkat haji! Setelah menunggu 12 tahun dan sempat tertunda karena COVID-19, akhirnya tiket undangan VIP dari Allah SWT ini sampai juga di tanganku. Aku sangat bersyukur bisa berhaji di usia yang cukup muda, bersama suami, dan tubuh masih sehat sehingga ibadah haji insyaallah bisa maksimal karena memang ibadah haji itu ibadah fisik dan mental.
Yang bikin tambah seru, aku berangkat bareng tiga teman sekantor: Mbak Lina, Mbak Sinta, dan Mbak Sarah. Plus ada 1 orang lagi teman sebangku saat SMP, Ani, yang saat ini sudah jadi dokter spesialis THT. Jadi rasanya kayak reuni akbar, tapi versi Tanah Suci.
Awalnya rencana sudah rapi: kami mau sekamar, sekalian nostalgia dan ngobrol sampai ketawa-tawa kayak zaman di kantor. Tapi, ternyata Allah SWT punya plot twist yang bikin skenario kami buyar. Aku malah dipisah kamarnya. Jujur, awalnya sempat bengong, “Lho, kok bisa?” Tapi cepat-cepat aku sadar: “Eh, ini kan undangan dari Allah SWT. Bisa sampai sini aja udah anugerah luar biasa. Mau tidur di manapun, yang penting ibadah jalan!” Jadi aku jalani dengan hati lapang dan niat kuat untuk tetap happy.
Dan ternyata… Masya Allah, hikmahnya banyak banget. Kalau sekamar sama geng kantor, ya tiap hari juga ketemu di kantor. Tapi kali ini aku dapat teman sekamar baru yang benar-benar berwarna, bikin perjalanan haji ini jadi lebih kaya cerita.
Mbak Suci – Si Pawang Nenek
Pertama, ada Mbak Suci. Dari segi pendidikan, dia memang bukan profesor, tapi hatinya… Masyaallah, bersih dan tulus sesuai namanya. Dia sampai dijuluki “Pawang Nenek-nenek” karena setiap nenek yang dekat sama dia pasti langsung lengket. Rahasianya? Simpel tapi efektif: kasih Hajar Regal sama susu. Selesai urusan.
Yang bikin aku terkagum, dia sampai mencucikan baju nenek yang bahkan nggak dia kenal, membantu nenek mandi di Mina, sampai antriin toilet. Semua dilakukan dengan ikhlas. Aku jadi merasa malu, karena kadang sama orang tua sendiri saja sabarku pas-pasan.
Safira – Muda, Bijaksana, dan Tegar
Lalu ada Safira. Umurnya masih muda, tapi sudah sampai Tanah Suci. Cobaan hidupnya berat: suaminya divonis kanker. Tapi dengan izin Allah SWT dan usaha, termasuk banyak sedekah, suaminya sembuh. Suaranya merdu banget kalau ngaji, tartilnya rapi, tajwidnya mantap.
Kami punya kesamaan: sama-sama cinta banget sama Rasulullah SAW. Ngobrol sama Safira tuh serasa ikut seminar Sirah Nabawiyah gratis, lengkap dengan bonus tawa. Dia benar-benar membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk bijak dan sabar.
Bu Indah – Dosen Santuy
Ada juga Bu Indah. Penampilannya cantik, anggun, suaranya lembut, plus profesor di universitas ternama. Aku banyak belajar tips menulis artikel ilmiah dari beliau. Tapi, ternyata beliau punya sisi komedi tak terduga.
Suatu hari, aku mau masuk kamar mandi. Tanpa sadar, pintunya nggak dikunci. Saat kubuka, ternyata Bu Indah lagi… ya, kalian tahu lah. Kalau orang normal kan akan kaget, menutup diri, atau teriak. Tapi beliau cuma menatap datar dan berkata, “Ehhhh…ada kamu toh..” Itu saja. Aku yang panik, beliau santai. Aku sampai mikir, “Ini beliau ngantuk ya, atau memang sudah level zen tertinggi?”
Bu Zakia – Ratu Menahan Kentut
Lanjut, Bu Zakia. Beliau sosok yang sangat menjaga citra diri. Katanya, nggak pernah kentut di depan suami, apalagi di depan orang lain. Waduh. Sementara aku, Safira, dan Mbak Suci? Ya… kalau mau kentut, kentut aja. Kadang aku mikir, “Nggak pegal ya nahan gas berhari-hari?” Tapi itulah prinsip beliau, dan kami hormati.
Nenek Neli – The Real Wonder Woman
Terakhir, ada Nenek Neli. Usianya 80 tahun, tapi energinya ngalahin anak muda. Masih kuat jalan jauh sambil bawa tas Armuzna yang segede gaban, isinya perlengkapan camping di Mina. Aku yang masih muda aja ngos-ngosan, beliau santai seperti habis jalan ke warung.
Perjuangan Toilet di Mina
Nah, ini salah satu episode komedi tak terlupakan: antri toilet di Mina. Nikmat yang sering kita lupa syukuri adalah… bisa BAB dan BAK dengan tenang tanpa antri! Di Mina? Antriannya ngalahin beli tiket konser K-pop.
Lucunya, di tengah antrian, orang di belakang akan tanya dengan ekspresi serius penuh investigasi: “Ibu mau pipis, mandi, atau BAB?” Kalau udah ditanya gitu, refleks jawab, “Enggak kok, cuma pipis sebentar.” Padahal niat awalnya mau BAB tapi auto masuk lagi gegara ditanya begitu. Hahaha! Dan kalau kamu masih muda, siap-siaplah mengalah untuk yang sudah sepuh.
Refleksi Diri
Meski perjalanan ini penuh tawa, ada kalanya aku merenung. Kadang muncul rasa takut: jangan-jangan hajiku hanya jadi formalitas, sekadar titel “Haji” tanpa benar-benar memperbaiki diri. Sholatku belum selalu khusyuk, kadang pikiranku melayang saat tawaf.
Astaghfirullah… padahal teman-teman dan keluargaku melihat dan memuji aku karena ibadah haji di usia muda seolah aku orang saleh. Astaghfirullah… semoga Allah SWT menerima ibadah ini dan membimbingku.
Aku teringat doa yang sering diucapkan Sayyidina Abu Bakar r.a. ketika dipuji orang. Doa yang mengajarkan kerendahan hati, kejujuran pada diri sendiri, dan pengakuan bahwa hanya Allah yang tahu siapa kita sebenarnya:
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنِّي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ
Benar-benar aku merasa Allah SWT menghadirkan orang-orang luar biasa di sekelilingku untuk jadi pengingat, guru, sekaligus teman ketawa. Haji ini bukan hanya perjalanan ibadah, tapi juga perjalanan hati dari tawa, perjuangan, sampai doa yang menundukkan hati.
Kita tidak pernah tau apa yang membuat haji kita mabrur (secara bahasa artinya baik). Bisa jadi karena menolong nenek-nenek mandi, memberi obat pada teman, membantu mengepel lantai jemuran di hotel Makkah, ikhlas menerima ketentuan Allah SWT, menahan diri dari berselisih, berbagi ilmu dengan teman dan sebagainya…maka jangan meremehkan hal kecil yang dilakukan saat haji, bisa jadi hal kecil itu membuat hajimu mabrur. Tapi jangan pula sombong jika sudah melakukan kebaikan besar dan angkuh karena sudah bertitle haji bisa jadi hajimu tertolak.
Kesimpulannya?
Haji itu bukan cuma tentang ibadah yang khusyuk, tapi juga tentang belajar sabar, syukur, ikhlas, berbagi tawa, dan… menghargai nikmat kecil seperti bisa ke toilet tanpa antri panjang. Dan tentu saja, tentang menemukan keluarga baru di Tanah Suci yang kentutnya pun bisa jadi kenangan manis.
Kalau dibaca santai, ceritaku ini memang agak campur aduk antara hikmah dan komedi, tapi begitulah perjalanan hajiku: penuh warna, penuh cerita, dan penuh rasa syukur.

