Konten dari Pengguna

Dosen Mengajar vs Dosen Pencetak Masa Depan: Mana yang Perlu Dipertahankan?

Yudhistira Ardana
Dosen Program Studi Ekonomi Syariah, UIN Jurai Siwo Lampung
29 Agustus 2025 12:07 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dosen Mengajar vs Dosen Pencetak Masa Depan: Mana yang Perlu Dipertahankan?
Dosen seperti apa yang benar-benar kita butuhkan dan harus pertahankan? Apakah yang "sekadar mengajar" atau yang berorientasi "mencetak masa depan"? #userstory
Yudhistira Ardana
Tulisan dari Yudhistira Ardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Dosen Mengajar vs Dosen Pencetak Masa Depan (sumber: generate GPT AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dosen Mengajar vs Dosen Pencetak Masa Depan (sumber: generate GPT AI)
Institusi pendidikan tinggi di Indonesia, dan di seluruh dunia, memiliki peran fundamental dalam membentuk generasi penerus bangsa. Namun, keberhasilan peran tersebut sangat bergantung pada kualitas inti dari setiap perguruan tinggi: para dosen. Pertanyaan mendasar yang perlu kita hadapi adalah, "Dosen seperti apakah yang benar-benar kita butuhkan dan harus pertahankan?" Apakah mereka yang "sekadar mengajar" ataukah mereka yang berorientasi "mencetak masa depan"?
Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini menjadi semakin mendesak mengingat tantangan besar yang dihadapi bangsa ini, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar mampu bersaing di kancah global. Kesenjangan kualitas dosen antarperguruan tinggi, tekanan untuk relevansi kurikulum dengan dunia industri, serta dorongan pemerintah melalui program-program seperti Kampus Merdeka, semuanya menuntut adanya perubahan fundamental dalam peran dan kualitas dosen. Dosen tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai pengajar semata, melainkan sebagai arsitek yang merancang masa depan generasi penerus bangsa, inovator riset, dan penghubung antara dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Oleh karena itu, penentuan jenis dosen yang akan kita pertahankan akan sangat memengaruhi arah dan kecepatan Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan jangka panjangnya. Perguruan tinggi harus memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga mereka yang memiliki keterampilan abad ke-21, seperti pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan yang cepat.
Dosen yang "sekadar mengajar" sering kali diidentifikasi sebagai figur yang hanya bertugas mentransfer informasi kurikulum. Mereka hadir, menyampaikan materi sesuai silabus, mungkin memberikan tugas, lalu mengakhiri kelas. Interaksi cenderung satu arah, dan fokus utama adalah penyelesaian materi pelajaran. Seperti yang diungkapkan Banwet dan Datta (2003), kualitas perkuliahan yang dirasakan mahasiswa sangat memengaruhi niat mereka pasca-kuliah.
Jika kualitas pengajaran hanya sebatas rutinitas, dampaknya terhadap motivasi dan pengembangan diri mahasiswa pun akan minimal, bahkan dapat dipertanyakan nilai tambah dari perkuliahan itu sendiri dalam kurikulum berbasis masalah (Berkel & Schmidt, 2005). Output yang dihasilkan dari pendekatan ini cenderung lulusan yang hanya menguasai teori, namun kurang memiliki kemampuan berpikir kritis, inovasi, atau adaptasi yang esensial di dunia kerja yang terus berubah.
Sebaliknya, dosen yang "mencetak masa depan" adalah pilar transformatif. Mereka tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menginspirasi, memfasilitasi pembelajaran aktif, dan mendorong mahasiswa untuk berpikir di luar batas. Mereka memahami bahwa peran mereka melampaui ruang kelas, mencakup pembimbingan, pengembangan karakter, dan penanaman nilai-nilai yang relevan.
Dosen-dosen ini terlibat dalam penelitian dan inovasi, menghubungkan teori dengan praktik, serta membekali mahasiswa dengan keterampilan abad ke-21. Asrin et al. (2024) menyoroti kepemimpinan strategis dalam peningkatan kinerja dosen menuju universitas unggul, menegaskan bahwa kualitas performa dosen adalah kunci utama. Dosen seperti ini, dengan dedikasi dan kualitas pengajarannya, mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga kreatif, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Ilustrasi dosen Pria. Foto: Shutter Stock
Kualitas dosen memiliki hubungan langsung dengan keseluruhan output perguruan tinggi, sebagaimana dikaji oleh Thillaisundaram (2003) mengenai pengukuran output pengajaran dan penelitian di pendidikan tinggi. Di konteks Indonesia, kebutuhan akan dosen yang "mencetak masa depan" menjadi sangat mendesak. Output perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kualitas penelitian, inovasi, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Prihandono et al. (2023) menggarisbawahi peran penting pengukuran dampak dalam penciptaan inovasi pendidikan tinggi. Dosen dengan kualitas unggul adalah motor penggerak bagi penelitian yang relevan dan inovasi yang berdampak, selaras dengan bagaimana performa penelitian dan transfer pengetahuan di universitas-universitas global berkorelasi dengan kualitas akademik (Barra et al., 2024; Zhang et al., 2024).
Maka, sudah saatnya bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, manajemen perguruan tinggi, hingga setiap individu dosen, untuk menegaskan prioritas. Kita harus berinvestasi lebih jauh dalam pengembangan profesional dosen, menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi pengajaran, serta memberikan penghargaan yang layak bagi mereka yang mendedikasikan diri untuk benar-benar membentuk masa depan bangsa.
Perguruan tinggi harus berani meninggalkan paradigma "sekadar mengajar" dan secara tegas mempertahankan serta mengembangkan "dosen pencetak masa depan". Inilah satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa institusi pendidikan tinggi kita benar-benar menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing global, bukan hanya sekadar menambah jumlah sarjana.
Trending Now