Konten dari Pengguna
Mengikis Hierarki, Membangun Dialog: Jalan Baru Pendidikan Tinggi
1 September 2025 21:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengikis Hierarki, Membangun Dialog: Jalan Baru Pendidikan Tinggi
Analisis mendalam tentang perlunya transformasi pendidikan tinggi dari hierarki kaku ke model dialog. Opini ini mengeksplorasi tantangan global dan relevansinya di Indonesia. #userstoryYudhistira Ardana
Tulisan dari Yudhistira Ardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan tinggi kerap dipandang sebagai mercusuar kemajuan. Namun, di balik citranya, institusi ini masih terperangkap dalam struktur hierarkis yang usang. Kekakuan model ini membatasi potensi sejati universitas untuk menjadi ruang yang inklusif dan transformatif. Oleh karena itu, demi menjaga relevansinya, universitas perlu secara sadar mengikis hierarki tradisional dan membangun budaya dialog yang kuat, menjadikan setiap suara memiliki nilai dan relevansi.
Hierarki institusional, yang menempatkan administrator dan staf pengajar di puncak, menciptakan kesenjangan yang signifikan. Seperti yang diungkapkan oleh Kahyeng Chai (2025) dalam analisisnya tentang insiden kebencian di universitas-universitas neoliberal, struktur ini dapat memicu dan bahkan memperburuk masalah sosial seperti diskriminasi. Hierarki ini juga melanggengkan pandangan hegemonik tentang pengetahuan dan kurikulum, sebuah isu yang digarisbawahi oleh Lewis et al. (2025) dalam konteks akuntansi di mana warisan kolonialisme dan rasisme masih tertanam kuat.
Lingkungan semacam ini gagal melayani semua pemangku kepentingan, terutama mahasiswa yang suara dan pengalamannya sering kali terpinggirkan. Hal ini menciptakan "paradoks kedekatan" di mana persepsi dosen dan mahasiswa terhadap merek institusi sangat berbeda (Rao & Sreeramulu, 2025). Selain itu, hierarki ini juga mengabaikan bentuk-bentuk modal budaya yang dibawa oleh mahasiswa dari berbagai kelas sosial (Wei, 2025), membatasi kesempatan mereka untuk berkembang sepenuhnya.
Pergeseran fundamental dari hierarki menuju dialog merupakan sebuah keniscayaan. Pendekatan ini berfokus pada upaya membangun kembali kepercayaan dalam pendidikan sebagai barang publik (Toukan & Tawil, 2024) di mana setiap anggota komunitas—mulai dari mahasiswa, staf pengajar, hingga administrasi—berkontribusi dalam menciptakan tujuan dan arah bersama.
Penerapan "pendekatan terbalik" terhadap inovasi sosial (Ahmed et al., 2024) adalah contoh nyata dari pergeseran ini di mana ide-ide transformatif mengalir dari bawah ke atas, bukan sebaliknya. Dialog ini tidak hanya terbatas pada interaksi langsung, tetapi juga meluas ke ruang digital. Seperti yang diimpikan oleh Otrel-Cass et al. (2024), pendidikan digital perlu dibayangkan kembali sebagai alat untuk memfasilitasi dialog dan kolaborasi, bukan hanya sebagai saluran satu arah untuk penyampaian informasi.
Pendidikan guru di Finlandia memberikan contoh inspiratif dari sistem yang dibangun di atas prinsip dialog dan profesionalisme, alih-alih hierarki yang kaku (Välimaa, 2025). Di sana, para pendidik diberdayakan dan dipercaya, yang pada gilirannya mendorong inovasi dan kolaborasi tanpa hambatan birokrasi yang berlebihan.
Lingkungan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dapat tumbuh subur ketika para praktisi di garis depan diberikan otonomi dan dihormati sebagai profesional, yang pada akhirnya menempatkan mereka dalam posisi yang lebih baik untuk berdialog dengan siswa dan kolega.
Di Indonesia, meskipun tantangan hierarki masih terasa, beberapa inisiatif telah menunjukkan komitmen terhadap pergeseran ini. Program seperti Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM) adalah langkah maju menuju kurikulum yang lebih fleksibel, yang memungkinkan mahasiswa untuk menentukan jalur belajar mereka sendiri di luar batas program studi yang kaku.
Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi hambatan budaya yang telah lama mengakar, di mana tradisi 'guru-murid' sering kali membatasi ruang untuk inisiatif dan dialog yang setara. Transformasi ini memerlukan lebih dari sekadar kebijakan; hal ini membutuhkan perubahan pola pikir di seluruh ekosistem pendidikan tinggi, mulai dari pimpinan hingga mahasiswa, untuk benar-benar menggerakkan roda dialog yang berkelanjutan.
Untuk memenuhi tantangan abad ke-21, pendidikan tinggi perlu meninggalkan model hierarkisnya yang menghambat. Mengikis hierarki tidak berarti menghapus otoritas, melainkan mendistribusikannya secara lebih adil sambil membangun struktur yang berpusat pada dialog, kolaborasi, dan rasa saling percaya.
Dengan mendengarkan setiap suara, universitas dapat menjadi tempat yang benar-benar inklusif dan inovatif, yang mampu menanggapi kebutuhan masyarakat yang terus berubah dan membangun masa depan pendidikan yang lebih relevan dan bermakna. Jalan baru ini, pada hakikatnya, menempatkan dialog sebagai fondasi utama bagi pertumbuhan dan perubahan.

