Konten dari Pengguna
Energi, Waktu, dan Pilihan
25 Mei 2025 13:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Energi, Waktu, dan Pilihan
refleksi tentang waktu dan energi, terinspirasi dari teori kekekalan energi einsteinMuhamad Faiz Al Afify
Tulisan dari Muhamad Faiz Al Afify tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muhamad Faiz Al Afify
Alumni Pondok Modern Darussalam KBB
Pengepul ilmu di UIN Bandung
Setiap manusia hidup dalam kerangka yang sama: 24 jam sehari dan sumber energi yang terbatas dalam dirinya. Meski waktu dan kapasitas dasar energi tampak merata, hasil hidup, makna dan karya setiap individu berbeda-beda. Ada yang menggunakan energinya untuk kebaikan, ada yang larut dalam keburukan, dan tak sedikit yang menghabiskannya dalam hal-hal yang sia-sia, habis tak bermakna. Jika manusia diumpamakan sebagai wadah dengan energi 100%, maka bagaimana ia membaginya akan menentukan kualitas hidup dan bahkan makna eksistensinya.
Dalam ilmu fisika, Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat bertansformasi atau berubah bentuk. Energi dalam tubuh manusia pun demikian. Ia berasal dari sari-sari makanan, dari alam, dari interaksi sosial, dan dari spiritualitas. Energi itu bisa menjadi tindakan baik yang membangun, bisa juga menjadi keburukan yang merusak, atau sekadar terbuang dalam aktivitas tanpa arah.
Albert Einstein menegaskan hubungan erat antara materi dan energi melalui rumus terkenalnya *E=mc²*, yang membuka mata dunia bahwa energi adalah substansi yang sangat mendasar dalam eksistensi semesta. Jika semua yang ada adalah bentuk dari energi, maka manusia, sebagai makhluk sadar, memiliki tanggung jawab etis dan moral atas bagaimana energi dalam dirinya digunakan.
Dalam filsafat, pemikiran ini senada dengan pandangan para filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre, yang menyatakan manusia adalah makhluk bebas yang ditakdirkan untuk memilih. Kebebasan itu datang bersama tanggung jawab: bagaimana manusia menggunakan waktunya, dan ke mana ia mengarahkan tenaganya. Sartre percaya bahwa keberadaan kita ditentukan oleh tindakan kita, dan setiap pilihan adalah pernyataan nilai.
Sementara itu, filsuf dan sufi Muslim seperti Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya niat dan kesadaran (niyyah dan muraqabah) dalam setiap amal. Dalam perspektif tasawuf, energi manusia bukan hanya biologis, tetapi juga spiritual. Membuang waktu tanpa tujuan atau tanpa ingat kepada Allah adalah bentuk kerugian eksistensial. Al-Ghazali mengajak manusia untuk senantiasa menimbang setiap aktivitas: apakah itu mendekatkan kepada Allah atau menjauhkan.
Abu Hasan Al Asy'ari salah satu dari dua ulama rujukan utama ahlussunnah pun berkata begitu, manusia bukan makhluk yang terpaksa beramal di dunia ( Jabariyah), tidak pula ia memiliki kehendak mutlak dalam bertindak (Qadariyah), tapi manusia memiliki *Haqqul Ikhtiyar* Hak untuk memilih, yang karena itu pulalah manusia dihisab di akhirat nanti.
Di zaman modern, konsep ini tampak dalam teori manajemen waktu dan produktivitas, namun sedikit yang menyentuh dimensi ontologisnya: bahwa waktu dan energi adalah aset spiritual. Bila setiap manusia memiliki "100%" energi, maka menjadi bijaklah dalam penggunaannya. Seorang yang menggunakan 50% untuk kebaikan yang halal, Sunnah atau mubah (menolong, belajar, mencipta), 25% untuk keburukan yang haram ataupun makruh(mencela, menipu, membunuh dll), dan 25% untuk hal sia-sia (scrolling tak bermakna, mengeluh), pada akhirnya akan melihat hasilnya dalam dirinya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita punya cukup energi, tetapi: *ke mana energi itu kita arahkan?*

