Konten dari Pengguna

Idul Adha: Menyembelih Keterikatan, Merayakan Tajrid

Muhamad Faiz Al Afify
Pengepul ilmu di UIN SGD Bandung Santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Bandung Barat
6 Juni 2025 9:49 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Idul Adha: Menyembelih Keterikatan, Merayakan Tajrid
Qurban dalam pandangan asbab dan tajrid sebagai manhaj fikr
Muhamad Faiz Al Afify
Tulisan dari Muhamad Faiz Al Afify tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
freepik.com/Kurban
zoom-in-whitePerbesar
freepik.com/Kurban
Muhamad Faiz Al Afify
Santri Darussalam Bandung Barat
Pengepul ilmu UIN Bandung
Idul Adha, lazimnha bagi sebagian besar umat Islam, adalah tentang kurban: menyembelih hewan sebagai simbol ketakwaan, mengenang pengorbanan agung Nabi Ibrahim. Tapi jika kita mencoba menyelam lebih dalam, Idul Adha bukan sekadar ritual daging dan darah, bukan sekedar pembagian daging, apalagi sekedar nyate. Ia adalah panggilan jiwa untuk melepaskan keterikatan terhadap segala perkara yang secara lahiriah tampak mulia. Mungkin inilah pelajaran besar yang bisa kita pahami lewat kaca mata tasawuf, khususnya dari kearifan Ibnu ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī.
Ibnu ‘Aṭā’illah, dalam kitab al-Ḥikam, berulang kali mengajarkan tentang dua maqām (kondisi) batin: asbaab dan tajriid. Asbaab adalah dunia sebab—tempat kita bekerja, berikhtiyar, berusaha, berkeluarga, dan membangun harapan.
Sementara tajriid adalah ketelanjangan spiritual, saat seseorang dilepaskan dari sebab-sebab dunia dan hanya bergantung kepada Allah.
Tapi terkadang banyak orang salah paham. Menganggap orang yang berada di jalur asbaab lebih rendah dari yang bertajrid. Yang menentukan bukan maqam-nya, melainkan sikap hati.
“Keinginanmu akan tajriid padahal Allah menempatkanmu dalam asbaab,” kata Ibnu ‘Aṭa’illah, “adalah syahwat yang tersembunyi.” Ia menegur mereka yang berpura-pura zuhud, tapi hatinya penuh hasrat untuk tampil suci. Sebaliknya, orang yang menerima maqām asbāb—dan tetap sadar bahwa semua itu fana—telah berada di tangga tajriid sejati.
Mari kita kembali ke kisah kurban. Nabi Ibrahim tidak hanya menyembelih Ismail. Lebih dari itu, ia sedang menyembelih keterikatannya sebagai ayah. Ia tidak mengorbankan daging, melainkan rasa memiliki. Ia berada di puncak tajriid, saat seluruh asbaab—anak, keluarga, bahkan dirinya sendiri—ditanggalkan demi tunduk total kepada kehendak Tuhan. Ia tidak menyandarkan diri pada peran atau ikatan, hanya pada Allah yang Maha Mewujudkan segalanya.
Dalam semangat itu, Idul Adha seharusnya tidak hanya menghadirkan deretan kambing dan sapi, tapi juga pertanyaan kontemplatif: apa yang masih terlalu kita genggam? Anak, pasangan, pekerjaan, status sosial, atau bahkan amal saleh? Bisa jadi itu semua adalah asbaab yang kita pertuhankan secara halus. Padahal seharusnya, seperti Ibrahim, kita belajar melepas. Bukan berarti menolak nikmat dunia, tapi tidak terseret oleh ilusi kepemilikan atasnya.
Jalaluddin Rakhmat, pernah menulis bahwa tasawuf adalah jalan menyucikan batin dari ego, bukan sekadar menarik diri dari dunia. Ia mengajarkan kita bahwa yang harus dikurbankan adalah rasa ‘aku’ dan keinginan Peng'aku'an, bukan hidup itu sendiri. Inilah resonansi kuat antara pemikiran Jalal dan Ibnu ‘Aṭa’illah. Keduanya sepakat: tajrīd bukan pelarian dari kenyataan, tapi pembebasan dari kelekatan terhadapnya.
Maka di hari raya ini, mari kita bertanya, bukan hanya: “sudahkah saya berkurban?” tapi juga: “sudahkah saya rela melepaskan?” Sebab barangkali, yang lebih sulit dari menyembelih kambing adalah menyembelih keinginan untuk memiliki dan mengontrol segalanya.
Dan saat itulah, kurban kita menjadi sah. Bukan karena darahnya, tapi karena jiwa kita kembali suci dan bebas dari keterikatan dunia, namun tetap bertanggung jawab di dalamnya. Itulah makna sejati dari tajrīd di tengah asbāb.
Trending Now