Konten dari Pengguna

Utang Erros Djarot kepada Generasi Mendatang

Yuyun Wardhana
Certified Coach Master Trainer EFT
15 September 2025 16:30 WIB
·
waktu baca 20 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Utang Erros Djarot kepada Generasi Mendatang
Pandangan penulis terhadap sosok seniman, budayawan dan politisi Errors Djarot
Yuyun Wardhana
Tulisan dari Yuyun Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Erros Djarot ekspresikan kecintaan kepada Indonesia lewat lagu Indonesiaku. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Erros Djarot ekspresikan kecintaan kepada Indonesia lewat lagu Indonesiaku. Foto: Dok. Istimewa
Suatu malam di alun-alun selatan Yogyakarta, sekitar tahun 1990-an, saat itu saya sedang “bekerja” membantu sahabat karib saya membuat video dokumentasi (behind the scene) sebuah produksi film iklan produk rokok internasional yang sangat megah. Film iklan itu disutradari oleh sutradara asal Malaysia dan koreografinya dibuat oleh alm. Bagong Kussudiardja, seorang maestro seni asal Yogya.
Tiba-tiba datang beberapa orang yang seingat saya terdiri dari beberapa wartawan, di antaranya ada kakak kelas saya, Arif Afandi. Di antara rombongan itu, ada sosok yang saya asing, tapi cukup membuat saya terkesan. Ya, sosok itu adalah Erros Djarot. Saya tahu dari beberapa bisik-bisik di sekitar saya yang menyebut nama Mas Erros. Memang nama Erros Djarot tidaklah asing bagi saya, karena saya sempat nonton film "Tjoet Nja’ Dhien" yang bagi saya waktu itu, sebagai mahasiswa komunikasi Fisipol UGM, membuat saya kepincut dengan kualitas film itu. Saya merasa seperti tidak menonton film karya anak bangsa.
Dan di dalam film itu, nama Erros Djarot disebut dalam beberapa posisi, antara lain tentu saja sutradara. Malam itu, kunjungan Mas Erros di set shooting sangat sebentar, tidak lebih dari 15 menit, saya pun juga tidak mendekat karena mereka jauh levelnya di atas saya. Dan malam itu berlalu.
Di awal tahun tahun 1993, saya berkunjung ke kos-kosan sahabat saya Roichatul Aswidah. Roy, begitu panggilannya, adalah sahabat saya di kampus yang sering sekali saya mintai contekan kalau ujian. Ternyata, di kos-an Roy, ada Sulak atau A.S. Laksana, teman saya yang juga seangkatan satu jurusan bareng Roy, yang ternyata mau ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan di tabloid DëTIK yang dipimpin oleh Erros Djarot. Saya waktu itu belum dekat dengan Sulak.
Saya spontan bilang pingin ikut, padahal tidak ada bayangan apa-apa tentang bekerja di dunia pers. Waktu itu, saya menekuni dunia fotografi secara agak serius, meskipun masih amatiran. Keinginan saya waktu itu, semata-mata hanya ingin dapat kesempatan memotret gratis karena fotografi adalah hobi yang mahal.
Dan Sulak kemudian menghubungi Jakarta untuk nembungke (memintakan izin) saya. Beberapa hari setelah itu, Sulak mendatangi rumah saya untuk ngobrol dan melihat beberapa lembar foto hasil karya saya. Dan tidak lama kemudian, saya dapat kabar agar segera berangkat ke Jakarta. Rupanya keinginan saya motret “gratis” akan terkabul.
Dengan berat hati, alm. bapak dan ibu melepas saya, karena waktu itu saya belum lulus, bahkan masih banyak SKS yang harus diambil, seperti KKN dan tentu saja skripsi yang belum diselesaikan. Tapi keputusan saya sudah bulat, karena saya ingin menekuni fotografi lebih serius lagi, dan ini saya anggap batu loncatan agar nanti saya bisa bekerja di koran Bernas Yogya, atau majalah Tempo, sesederhana itu saja niat saya.
Hari pertama masuk kantor tabloid DëTIK saya shock, karena isinya orang-orang “pinter” semua. Mayoritas adalah aktivis yang ngomongnya politik dan berbagai hal yang saya tidak mengerti. Saya ini cuma fotografer biasa dan saya juga pemain band. Jadi pergaulannya sama sekali berbeda dengan awak tabloid DëTIK waktu itu. Hari itu hari Senin, kalau tidak salah di bulan Januari atau Februari 1993, adalah hari rapat redaksi tabloid DëTIK.
Di rapat itu, saya kembali bertemu dengan Mas Erros yang kemudian menjadi bos saya. Saya ingat betul, Mas Erros sendiri yang memperkenalkan saya dan Yayan Sopyan yang pada hari itu juga masuk di hari pertama kepada rekan-rekan wartawan yang lain. Dan mulai hari itulah “siksaan” demi “siksaan” saya alami selama mengawali profesi sebagai wartawan foto jurnalistik yang saya kira gampang.
Ilustrasi wartawan fotografi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Waktu berangkat ke Jakarta, saya merasa ilmu fotografi saya sudah cukup. Namun ternyata, saya bertemu dengan bos yang pernah menjadi photographer contributor di media National Geographic. Alhasil, tidak ada satu pun foto saya yang dianggap layak, bagus, baik secara pesan maupun visual! Saya sempat sakit setelah beberapa hari bekerja, dan di kemudian hari saya baru tahu kalau sakit saya itu ternyata stres, mengetahui kenyataan bahwa saya ini bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di dunia fotografi.
Meskipun Mas Erros terus “menyiksa” saya dengan kritikan-kritikan tentang hasil foto saya, tapi saya masih ingat bahwa Mas Erros selalu memompa saya dengan gempuran-gempuran yang membuat saya jadi semangat untuk belajar dan ingin mencapai hasil terbaik dari setiap karya saya. Saya sadar, waktu itu saya telah sangat mengecewakan Mas Erros sebagai fotografer, tapi Mas Erros tidak memecat saya, dan saya harus menjawab tantangan-tantangannya untuk menghasilkan foto yang bagus. Bahkan, Mas Erros sering ngasih contoh-contoh foto dan memberikan tips-tips bagaimana mesti membuat framing dalam fotografi, teknik-teknik pengambilan gambar, dan lain sebagainya. Sampai sekarang, semua itu saya simpan di otak setiap saya berkarya.
Di luar dugaan, tabloid DëTIK ternyata kemudian meledak, menjadi tabloid politik terkemuka waktu itu. Bahkan, posisinya bisa dikatakan menjadi kompetitor bagi media-media nasional yang waktu itu sudah mapan. Keputusan saya ternyata tidak salah. Saya mendapatkan banyak sekali kesempatan memotret berbagai peristiwa sosial, politik, dan objek foto, terutama tokoh-tokoh politik, karena waktu itu tabloid DëTIK menampilkan banyak tokoh politik dalam setiap penerbitannya.
Dan, ini yang saya senang, saya bahkan sampai tiga kali naik gaji dalam satu tahun. Dari yang tadinya nggak mikir tentang uang, kemudian saya jadi tukang “belanja”. Bersama-sama dengan para jomblowan waktu itu, Sulak, Najib, Dalipin, Agung, dan almarhum Bowo, waktu itu kami sering menikmati masa-masa pasca-deadline.
Kawasan yang menjadi tujuan wisata kami adalah Jalan Sabang, di mana kami sering membeli kaset atau baju baru. Sungguh sebuah kebahagiaan yang sederhana pada waktu itu. Tetapi, kebahagiaan itu rupanya tidak berlangsung lama. Di tanggal 21 Juni 1994, pemerintah Orde Baru melalui Departemen Penerangan di bawah kepemimpinan Harmoko sebagai Menteri Penerangan, mencabut SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).
Tentu saja kami semua shock dan down. Tapi kami terus melawan. Bahkan kemudian Mas Erros kembali membeli SIUPP penerbitan lain, yaitu koran mingguan Simponi. Di bawah kepemimpinan Erros Djarot, Simponi terbit satu kali dan besoknya kembali diberedel dengan alasan yang tentunya dibuat atas dasar subjektivitas pemerintah waktu itu.
Setelah kami semua “nganggur”, beberapa di antara kami, menginap (baca: numpang) di rumah Mas Erros di Jalan Deplu Raya. Seingat saya, waktu itu ada alm. Bowo, Sulak, Najib, Agung, Ibnu Antok, dan Saifullah Yusuf. Saat itu, Mas Erros tidak tinggal diam, Mas Erros selalu mengajak kami untuk berdiskusi kreatif dan bahkan kemudian mengarang lagu tentang pemberedelan. Nah, ini yang saya suka.
Karena background saya pemain band kampus, tentu ini saya tunggu-tunggu. Sebenarnya, saya justru tidak begitu tahu kalau Mas Erros ini adalah komposer hebat yang merupakan sosok di balik lahirnya album Badai Pasti Berlalu. Beberapa lagu yang dinyanyikan alm. Chrisye di album itu memang sangat kuat di memori saya, tapi saya tidak tahu kalau yang melahirkannya adalah Mas Erros.
Di proses pembuatan lagu itu, saya mendapatkan ilmu baru, yaitu bagaimana menciptakan lagu dan kemudian merekamnya. Di dalam dapur rekaman pun, saya juga masih sangat minim pengalaman. Karena meskipun saya pernah melakukan rekaman sewaktu jadi pemain band di Yogya, tetapi rekaman dengan Mas Erros sangat berbeda.
Di proses ini saya baru mengenal komposisi, aransemen, dan harmoni. Saya merasakan, energi Mas Erros ketika sedang menciptakan sebuah lagu sangat luar biasa. Di mata saya, Mas Erros tidak sedang mengarang lagu, melainkan sedang “berkata-kata” dengan lagu. Proses penciptaannya itu, saya beberapa kali melihat di setiap tempat, terkadang di mobil, di rumah, bahkan di kamar hotel. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Ada sebuah lirik dalam salah satu ciptaan Mas Erros tentang pembreidelan yang tertancap dalam benak saya.
Liriknya adalah:
Lirik lagu itu mengingatkan kita pada detak jarum jam yang terus bergerak detik demi detik. Ada salah satu ucapan Mas Erros yang dilontarkan dalam sebuah diskusi kita, yaitu: “Kita jangan berhenti di satu titik. Kita harus terus bergerak menjalani detik demi detik untuk terus berkarya.”
Dan kalimat itu benar-benar tanpa saya sadari menjadi believe system dalam diri saya. Saya tidak pernah puas dengan satu pencapaian, saya selalu ingin melakukan satu hal dan lain hal. Banyak hal yang saya kuasai, dan celakanya hal ini membuat saya tidak pernah fokus di satu bidang. Inspirasi dari Mas Erros membuat saya selalu terdorong untuk mencoba hal baru yang saya temui, termasuk kemudian saya menekuni dunia pemberdayaan diri melalui Self Healing Terapi Tapping saat ini.
Sayang, kemudian Mas Erros tidak bisa berbuat banyak, karena waktu itu tekanan dari pemerintah Orde Baru memang menyulitkan gerak langkah Mas Erros. Bahkan album Detik yang kami bangga-banggakan pun ditolak oleh semua label dan produser untuk diedarkan dengan alasan mereka takut dengan penguasa Orde Baru yang sedang lucu-lucunya saat itu.
Saya pun kemudian kembali ke Yogya menyelesaikan amanah dari alm. bapak saya untuk menyelesaikan kuliah. Tapi ternyata, setelah pulang ke Yogya, saya tidak juga terus menyelesaikan kuliah, karena saya kemudian diajak oleh alm. Ersa Siregar, wartawan RCTI, untuk menjadi kameraman koresponden RCTI. Dan sejak saat itu, secara rutin saya mengisi berita televisi Seputar Indonesia di RCTI. Konon, saya dengar dari sahabat saya Ibnu Antok, bahwa suatu sore, Mas Erros sengaja ingin melihat Seputar Indonesia karena ingin melihat hasil liputan saya. Tentu saja ini membuat saya semakin tertantang untuk membuat karya yang bisa dinikmati secara visual, tidak sekadar video liputan saja.
Erros Djarot dalam proses pembuatan lagu Ulurkan Tangan. Foto: Dok. Istimewa
Selama saya di Yogya, Mas Erros beberapa kali datang ke Yogya dan menghubungi saya untuk minta diantar ke beberapa tempat. Saya memahami, waktu itu Mas Erros memang sedang gerilya membantu Mbak Mega (Megawati Soekarnoputri) memperjuangkan hak politiknya. Saya menjemput Mas Erros di Bandara Adi Sucipto dengan mobil Mitsubishi Lancer ’82 warna hijau metalik yang kemudian menjadi kendaraan kami berkeliling ke beberapa tempat, di mana Mas Erros kasak-kusuk politik.
Bahkan suatu saat, Mas Erros datang bersama Mbak Mega dan saya mengantar mereka untuk melakukan manuver-manuver konsolidasi politik dan ziarah ke makam-makam tokoh di seputar Yogya, Wonosari, Solo, dan Klaten. Dalam sebuah kesempatan, ketika menginap di sebuah hotel di Solo, Mas Erros pernah bertanya, “Aku jane pantes ora to dadi menteri ki?” (Aku sebenarnya apakah pantas jadi menteri?), kami pun tertawa terbahak-bahak dengan pertanyaan itu. Saat itu memang ada yang menawari Mas Erros untuk menjadi menteri di era Orde Baru. Dan itu tentu saja menjadikan bahan olok-olok bagi kami yang saat itu mungkin masih naif di bidang politik.
Mas Erros juga datang ke Yogya bukan hanya untuk urusan politik saja. Mas Erros bahkan hadir di acara pengukuhan alm. bapak saya menjadi Guru Besar Pendidikan di IKIP Negeri Yogyakarta. Kehadiran Mas Erros di acara pengukuhan tersebut, tentu menjadi sebuah hal yang sangat kami banggakan sekeluarga. Kami tidak pernah menyangka, sosok dengan nama besar seperti Erros Djarot berkenan hadir di pengukuhan yang sangat bersejarah bagi keluarga kami.
Waktu berlalu, kemudian akhirnya saya berhasil menyelesaikan kuliah. Dan orang pertama yang saya telepon adalah Mas Erros. Saya mengabarkan bahwa saya sudah lulus jadi sarjana UGM. Dan setelah itu, saya kemudian sempat bekerja menjadi reporter di sebuah televisi swasta nasional, tapi tidak lama, hanya sebulan kemudian pindah ke sebuah production house yang bergerak di bidang periklanan dan kebetulan juga pernah bekerja sama dengan Mas Erros.
Waktu itu, sekitar tahun 1997, mungkin adalah saat-saat di mana Mas Erros benar-benar ditekan sehingga tidak bisa berbuat banyak. Beberapa kali, saya datang berkunjung ke rumah Mas Erros di Jalan Deplu Raya. Bagi saya, rumah Mas Erros sudah seperti rumah kedua. Di rumah itu memberikan kehangatan bagi kami yang waktu itu masih sangat muda. Ada Mbak Dewi yang sudah seperti ibu dan kakak saya sendiri, ada Bebe atau Sekar Putih yang waktu itu masih kelas 6 SD yang minta diajarin mengerjakan PR matematika, ada Banyu Biru yang saat itu masih SMA dan senang nonton film melalui laser disk yang kala itu masih langka dan mahal, ada juga Mak Asih yang sangat menyayangi kami teman-teman eks-DëTIK, ada alm. Bustaman, sopir Mas Erros asal Aceh yang unik.
Ada suatu peristiwa yang saya tidak akan pernah lupakan. Waktu itu, hari Minggu sore, saya berkunjung ke rumah Mas Erros. Saya menemui Mas Erros sedang menyemir sepatu. Ya, nyemir sepatu! Mas Erros sambil tersenyum mengatakan kepada saya, “Yun, kowe ngerti to nek aku wis ngene iki?”(Kamu tahu kan kalau aku sudah begini?) Memang Mas Erros setahu saya tidak pernah bisa “diam”. Dia akan melakukan apa saja agar ada yang bisa dilakukan. Bermain musik, menggambar, dan berbagai aktivitas lain Mas Erros lakukan semata-mata agar menjaga agar etos kreatif tidak pernah pergi dari jiwanya, saat sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Tahun 1998, Soeharto tumbang! Waktu itu saya masih bekerja di Square Box, sebuah production house milik kakak beradik Joe Seow dan Stella Seow. Di awali dengan kerusuhan Mei 1998, di mana saya waktu itu sedang melakukan post production di Eltra Studio, di Kedoya, Jakarta Barat. Saya kemudian bergabung dengan bos saya, di Hotel Mandarin menyaksikan Jalan Sudirman dan Bundaran HI yang lengang karena terjadi kerusuhan di seluruh penjuru Jakarta.
Kemudian, tidak ada tempat lain selain Jalan Deplu Raya yang saya tuju. Di sana ada Mas Erros dan beberapa teman yang membahas kerusuhan ini. Saya sempat diajak Mas Erros ke rumah Arifin Panigoro, di mana sudah hadir beberapa tokoh di rumah itu, dan saya melihat Mas Erros memberikan briefing ke para tokoh. Kesan Mas Erros yang humble, terkadang lucu, sama sekali tidak nampak.
Di pertemuan itu, saya melihat Erros Djarot adalah sosok pemimpin di balik layar yang cukup disegani oleh berbagai kalangan. Duduk di samping saya adalah Bambang Subianto. Beliau waktu itu mengusulkan kepada Mas Erros agar menyusun rencana untuk memperbaiki perekonomian yang porak-poranda akibat krisis moneter. Dan Mas Erros waktu itu meminta Bambang Subianto untuk membuat draft-nya. Ketika kemudian Presiden Habibie mengumumkan jajaran menteri, saya melihat Bambang Subianto menjadi menteri keuangan.
Tidak berhenti di situ, masih di tahun 1998, Mas Erros kembali menghidupkan tabloid. Tapi kali itu namanya sudah lagi bukan DëTIK, melainkan DëTAK. Saya resign dari Square Box dan kemudian bergabung dengan DëTAK. Di tabloid ini, saya kemudian menikah dengan istri saya tercinta yang waktu itu juga bekerja sebagai sekretaris redaksi. Di waktu pernikahan kami di Tasikmalaya, Mas Erros menyempatkan hadir mengajak rekan-rekan di tabloid DëTAK untuk menghadiri pernikahan saya dengan menyewa bus dan datang ramai-ramai di pernikahan kami yang sederhana. Hal ini sangat mengharukan sekaligus menggembirakan saya dan istri.
Saya merasa mendapatkan kehormatan dengan Mas Erros berkenan menjadi saksi dari pernikahan yang alhamdulilah sudah berjalan 27 tahun. Saya ingat betul pesan Mas Erros, “Yun, kamu harus bisa menjalani dan menyelesaikan lima tahun pertama pernikahan, kalau kamu bisa melewati lima tahun pertama, Insya Allah selanjutnya kamu tinggal nerusin saja”. Begitu wejangan pernikahan dari sang Maestro ini yang disampaikan secara pribadi kepada saya, di suatu kesempatan sebelum saya menikah.
Di tahun 2000, saya kemudian keluar dari DëTAK, karena saya diajak sahabat saya mendirikan production house yang akan memproduksi program televisi, sebuah bidang yang saya sangat sukai. Dengan berat hati, terpaksa saya pamit ke Mas Erros waktu itu di Jalan Deplu Raya. Saya tahu Mas Erros kecewa, tapi saya tidak punya pilihan lain karena kebutuhan hidup semakin mendesak, dan media cetak sudah tidak se-seksi dulu lagi seperti zaman DëTIK. Saat itu, semua media nasional seperti lepas dari kurungan, sehingga tabloid DëTAK hanya salah satu media yang kritis.
Berbeda sekali dengan zaman tabloid DëTIK yang mungkin bisa dikatakan sangat kritis terhadap Orde Baru. Saya ingat, keluar dari rumah di Jalan Deplu Raya dengan air mata menetes karena harus berpisah dengan teman-teman di DëTAK, dan tentu saja dengan Mas Erros yang sudah memberi banyak warna dalam perjalanan hidup saya saat itu. Saya seperti melihat film, bagaimana pertama kali saya datang ketemu Mas Erros dan berbagai peristiwa yang sampai sekarang masih saya ingat.
Di tahun 2016, saya dan teman-teman dari eks-Fisipol UGM menyelenggarakan konser Badai Pasti Berlalu di Yogya. Konser itu mendapatkan perhatian yang luas dari penggemar lagu-lagu Badai Pasti Berlalu di Yogya. Ada alm. Yockie Suryo Prayogo yang menjadi music director di konser itu, dan beberapa penyanyi senior yang terlibat. Konser ini menjadi sebuah kenangan bagi saya, karena saya dan teman-teman berhasil menghadirkan maha karya Mas Erros, yaitu Badai Pasti Berlalu, yang ternyata saya baru tahu bahwa album itu bukan sekadar album musik saja, namun merupakan sebuah perlawanan dan pergerakan yang dilakukan oleh Mas Erros terhadap kualitas musik Indonesia pada saat itu.
Dan album Badai Pasti Berlalu, merupakan tonggak perubahan musik di Indonesia. Majalah Rolling Stone Indonesia bahkan menobatkan album ini menjadi album Indonesia terbaik sepanjang masa. Setelah konser, saya menginap di sebuah hotel di Yogya dan melihat bagaimana Mas Erros tetap Mas Erros yang selalu berkarya di mana saja. Pagi hari sekitar jam 6 pagi, ketika bangun tidur, saya melihat Mas Erros sudah duduk di meja dengan memegang alat perekam suara dan menyenandungkan lagu yang mungkin baru terlintas di kepalanya, padahal kami baru tidur sekitar jam 2-3 dini hari. Sebuah kebiasaan yang dulu pernah saya jalani bersama Mas Erros ketika numpang di Jalan Deplu Raya.
Eros Djarot. Foto: Prabarini Kartika/kumparan
Di awal tahun 2020, sebelum masa pandemi, saya diajak Mas Erros untuk membuat Youtube Channel. Saya kemudian menggandeng Yayan Sopyan, sahabat saya sejak di DëTIK untuk menggodog ide itu. Dan channel itu kemudian lahir dengan nama Erros Djarot Creative Corner dan membuat home concert di rumah Mas Erros di Jalan Deplu Raya untuk disiarkan secara live di platform Youtube. Selain Yayan juga ada Jojo yang merupakan DOP dan editor film senior di Sanggar Teguh Karya yang sudah kenyang makan asam garam di dunia sinema nasional. Ada juga Ozi alias Anwar Fauzi yang menjadi arranger lagu-lagu Mas Erros, dan Yadi operator mixer yang sudah hafal dengan gaya mas Erros di studio.
Sayangnya, kemudian terjadi musibah pandemi COVID-19 yang mengakibatkan ide program ini terhambat. Selama pandemi, kami berempat ( bersama Jojo dan Yayan) juga sempat membuat channel podcast yang bernuansa sosial politik yaitu ODEKA, atau singkatan dari Obrolan Orang Merdeka, di mana Mas Erros dan Yayan diskusi membahas perkembangan politik terkini, sementara saya dan Jojo berada di belakang layar memproduksi video podcast ini. Namun, karena kesibukan kita masing-masing, channel ini kurang berkembang. Dan kemudian Mas Erros melanjutkan dengan membuat podcast Bongkar Abis Bersama Lukas Luwarso dan Anthony Budiawan.
Namun, dari home concert ini, saya jatuh cinta dengan lagu Mas Erros yang berjudul "Indonesiaku". Waktu itu, saya ada di studio bersama Ozi dan Mas Erros sedang mengaransemen ulang vokal lagu ini. Di proses ini, saya melihat bahwa Erros Djarot memang seorang maestro. Mas Erros memecah suara dengan suaranya sendiri, yang meskipun memang tidak sempurna, tapi menjadi sebuah harmoni vokal yang sangat indah. Lagu "Indonesiaku" ini selalu berputar terngiang-ngiang di telinga dan kepala saya. Sampai pada suatu saat, di bulan Desember 2023, saya diminta Mas Erros untuk menyusul ke Semarang karena ada sebuah kegiatan.
Di dalam perjalanan kereta menuju Semarang, saya iseng membuka laptop dan membuat dummy video klip lagu Indonesiaku. Dan ketika di Semarang, saat bangun tidur di kamar hotel, saya menunjukkan dummy video klip ini ke Mas Erros. Tujuan saya tadinya, ingin menjadikan lagu ini sebagai sebuah kontribusi dalam kontestasi pemilihan presiden yang pada waktu itu diikuti oleh salah satu teman kami yaitu Ganjar Pranowo. Pesan lagu ini sangat kuat dan saya yakin bisa membantu menggugah rasa kebangsaan warga negara Indonesia untuk lebih mencintai negerinya, dan membantu mengangkat nama GP menjadi sosok yang akan mudah diingat melalui lagu ini.
Di depan saya, Mas Erros sempat menelepon Ganjar dan menyampaikan ide-ide kami, dan GP menjawab dengan meminta agar Mas Erros menyiapkan proposal untuk itu. Tidak tunggu lama, Yayan diterbangkan oleh Mas Erros ke Yogya untuk brainstorming dengan kami, kebetulan di Yogya ada acara pernikahan putri dari sahabat kami, Janoe Arijanto yang merupakan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. Waktu berjalan, rupanya ide membuat video dengan lagu "Indonesiaku" tidak mendapatkan respons positif dan berkelanjutan dari pihak Ganjar. Tapi Mas Erros tidak menyerah, saya sempat mendengar Mas Erros menghubungi salah satu koleganya untuk membantu mendukung ide ini. Tapi sepertinya ide ini seperti tertiup angin dan berlalu begitu saja.
Sampai akhirnya saya ngotot ke Mas Erros agar lagu ini direkam ulang dan kemudian diproduksi videonya untuk dipersembahkan kepada Masyarakat, agar bisa menjadi pemersatu di kalangan anak bangsa yang saat itu sedang terjadi friksi karena pemilihan presiden. Saya tidak peduli dengan budget yang ada, “Berapa pun saya kerjakan Mas!” Begitu saya sampaikan ke Mas Erros dalam perjalanan menuju rumah alm. Bambang Ekalaya, salah satu aktivis yang meninggal dunia untuk melayat di rumah duka di Sawangan Depok setelah melihat acara program debat wapres di Gedung GBN.
Seniman, budayawan, politisi Errors Djarot
Dan alhamdulillah, lagu itu direkam kembali dengan penyanyi Farman Purnama, Gabriel Hartono, Fryda Lucyana, Putu Sastrani, dan Shriyogi Lestari. Saya sangat bersyukur, bisa mewujudkan impian membuat video klip lagu yang sangat indah ini. Saya yakin, suatu saat bangsa Indonesia akan menyanyikan lagu ini dengan penuh kebanggaan. Dan saya sendiri juga merasa sangat bangga turut sedikit berperan melahirkan lagu ini menjadi sebuah karya yang timeless.
Saat ini, hubungan saya dengan Mas Erros masih terus berjalan. Saya merasa Mas Erros dan Mbak Dewi bukan orang lain bagi saya, mereka sudah seperti ayah dan ibu kedua saya di Jakarta. Banyak hal yang saya dapatkan sampai hari ini merupakan manifestasi inspirasi dan dorongan dari Mas Erros dan mbak Dewi. Saat ini, saya menjadi Master Coach Self Healing Terapi Tapping, yang sudah membantu ribuan orang dengan masalah-masalah mereka, mulai dari masalah kesehatan, masalah psikis, keluarga, bahkan masalah rezeki.
Di dunia saya yang “baru” ini, Mas Erros dan Mbak Dewi adalah dua orang yang mendukung dan membesarkan nama saya. Mas Erros membantu saya menerbitkan buku Keajaiban Menerima Dengan Ikhlas & Pasrah yang cukup diminati oleh pembaca buku self development. Dan Mbak Dewi sangat getol mengenalkan saya kepada para teman dan para koleganya untuk mengikuti training-training saya.
Beberapa waktu yang lalu, saya dan Sulak memang punya ide untuk menulis buku tentang Mas Erros, tapi ternyata ide itu sekarang sudah dilakukan oleh Mas Erros sendiri bersama Cak Anis dan teman-teman yang lain. Saya berharap dengan terbitnya buku autobiografi Mas Erros ini, akan membuka banyak mata masyarakat Indonesia, siapa sebenarnya sosok Erros Djarot, khususnya dalam perjalanan sejarah politik Indonesia masa Orde Baru dan Orde Reformasi, sampai Orde “Mulyono”. Erros Djarot bukan sutradara film biasa, Erros Djarot bukan pencipta lagu biasa. Erros Djarot lebih dari itu.
Indonesia butuh sosok seperti Mas Erros, sosok langka yang benar-benar memikirkan agar bagaimana bangsa ini bisa tumbuh dan berdiri tegak sebagai sebuah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan mensejahterakan masyarakat Indonesia. Mas Erros adalah saksi dan pelaku sejarah. Tidak banyak yang tahu bahwa banyak peristiwa penting di tanah air itu ada unsur “cawe-cawe”nya Erros Djarot.
Saya berdoa, Mas Erros diberi keluasan hati dan pikiran untuk menuliskan itu semua, agar kita dan anak cucu tahu apa yang terjadi dengan negeri kita tercinta selama ini. Mungkin Mas Erros akan berutang kepada generasi nanti, jika mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di balik layar hingar bingar politik selama ini. Dan Mas Erros-lah yang harus menceritakannya kepada kita semua.

Riwayat Hidup Penulis

Trending Now