Konten dari Pengguna

Doi Moi Vietnam: Lompatan Transformasi Besar dari Sawah ke Sekolah

ARINAFRIL
Pemerhati Pendidikan Tinggi / Doktor Biogeografi Lulusan University of Saarbruecken, Jerman / Dosen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya / Dosen Tamu University of Agriculture and Forestry, Thai Nguyen, Vietnam.
28 Oktober 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Doi Moi Vietnam: Lompatan Transformasi Besar dari Sawah ke Sekolah
Doi Moi mempercepat pertumbuhan Vietnam, yaitu sistem perekonomian yang semakin terbuka dan lebih kompetitif di pasar global, pertanian semakin produktif, dan pendidikan semakin terbuka dan inklusif.
ARINAFRIL
Tulisan dari ARINAFRIL tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang polisi berjaga di sebuah jalan yang sibuk di pusat kota Hanoi, Vietnam (2/12/2003). Foto: Hoang Dinh Nam/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang polisi berjaga di sebuah jalan yang sibuk di pusat kota Hanoi, Vietnam (2/12/2003). Foto: Hoang Dinh Nam/AFP
Pada tahun 1986, Vietnam meluncurkan kebijakan Doi Moi, yaitu sebuah reformasi ekonomi yang mengubah total wajah negara dari ekonomi terpusat menjadi ekonomi pasar sosialis. Hampir empat dekade kemudian, transformasi ini bukan sekadar cerita sukses kebangkitan pasca-perang, melainkan bukti nyata bagaimana reformasi struktural yang berani dapat mengangkat sebuah bangsa dari krisis menuju kemakmuran.
Menurut EmitenNews.com, pertumbuhan ekonomi Vietnam mengalami peningkatan yangat signifikan dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Data World Bank menunjukkan bahwa 10 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,05%, dan akan tetap tumbuh dari 6,7 hingga 7% pada tahun ini, dan ini juga didukung oleh prediksi World Bank sebesar 6,8%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir hanya mencapai 4,21%
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam tumbuh 7,85 %, angka yang begitu mengesankan. PDB per kapita USD 4.017 pada tahun 2024 dan diperkirakan oleh Voice of Vietnam akan mencapai USD 5.020 di akhir tahun 2025, menegaskan momentum ekonomi yang tetap kuat meski menghadapi ketidakpastian perdagangan global.
Yang lebih mengesankan menurut CNBC Indonesia, Vietnam bisa menempati salah satu posisi tertinggi di Asia dan terbesar di Asia Tenggara, prestasi luar biasa untuk negara yang empat dekade lalu hampir hancur karena perang dan embargo ekonomi. Kesuksesan ini tidak datang dari kebetulan, melainkan dari dua pilar kuat yang dibangun sejak era Doi Moi: Pertanian dan Pendidikan.

Pertanian: Dari Kolektif ke Produktif

Sebelum Doi Moi, petani Vietnam terbelenggu dalam sistem koperasi negara yang mematikan inisiatif. Lahan dikelola secara kolektif, harga ditentukan pemerintah, dan insentif kerja nyaris tidak ada. Akibatnya, produksi pangan menurun drastis dan Vietnam terancam kelaparan massal. Bayangkan ironi sebuah negara agraris yang harus mengimpor beras untuk menghidupi rakyatnya sendiri.
Reformasi pertanian mengubah segalanya secara dramatis. Pemerintah memberikan hak pengelolaan lahan kepada petani melalui kontrak jangka panjang. Harga komoditas dilepas ke mekanisme pasar, dan petani diberi kebebasan penuh untuk menjual hasil panen. Hasilnya? Revolusi hijau yang spektakuler. Vietnam berubah dari pengimpor beras menjadi salah satu eksportir terbesar dunia, bersaing ketat dengan Thailand dan India.
Tahun 2024 menjadi tahun bersejarah bagi sektor pertanian Vietnam. Ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai rekor 62,4 miliar dolar AS, naik 18,5 persen dari tahun sebelumnya. Surplus perdagangan sektor ini mencatat angka fantastis: 18,6 miliar dolar AS, melonjak 53,1 persen. Ekspor beras saja mencapai 9 juta ton senilai 5,7 miliar dolar AS, dengan harga rata-rata menembus rekor di atas 600 dolar per ton.
Diversifikasi komoditas turut memperkuat posisi Vietnam. Kopi, di mana Vietnam adalah produsen robusta terbesar dunia, terus mendominasi pasar global dengan proyeksi produksi 31 juta karung (masing-masing 60 kg) untuk tahun 2025/26. Durian, buah yang relatif baru dalam portofolio ekspor Vietnam, kini menjadi komoditas andalan dengan permintaan tinggi dari Tiongkok. Lada, kacang mete, dan buah-buahan tropis lainnya melengkapi daftar produk unggulan yang menjadikan Vietnam sebagai dapur pangan Asia.
Dampaknya terhadap ekonomi sangat nyata dan terukur. Sektor pertanian menyerap lebih dari 40 persen tenaga kerja nasional, mengurangi kemiskinan pedesaan secara signifikan, dan menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Pertanian Vietnam bukan lagi sektor subsisten yang terbelakang, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi modern yang terkoneksi dengan rantai nilai global.

Pendidikan: Tidak Hanya Menyusul, Tetapi Juga Melampaui

Ilustrasi sekolah di kota Hanoi, Vietnam, saat pandemi. Foto: AFP/MANAN VATSYAYANA
Jika pertanian adalah tulang punggung ekonomi, maka pendidikan adalah investasi masa depan. Berdasarkan pengalaman penulis selama hampir 15 tahun hingga saat ini sebagai Dosen Tamu di Vietnam, pemerintah memahami ini dengan sangat baik. Reformasi pendidikan dimulai serius sejak 2013, dengan tujuan menyelaraskan sistem pendidikan dengan tuntutan industrialisasi dan globalisasi. Kurikulum baru menekankan kompetensi abad ke-21: berpikir kritis, ketrampilan masa depan, pengembangan literasi yang masif dan terstruktur, penerapan Ekosistem Pembelajaran (Learning Ecosystem) pemecahan masalah, pembelajaran berbasis siswa, bukan sekadar menghafal, dan penerapan miskonsepsi atau refutation yang intensif.
Sekolah diberi otonomi untuk berinovasi sesuai konteks lokal, namun tetap dalam kerangka standar nasional yang ketat. Pemerintah menekankan penguasaan literasi, numerasi, dan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, serta keterampilan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Investasi pada pelatihan guru menjadi prioritas, dengan pemahaman bahwa kualitas pendidikan bergantung pada kualitas pengajar.
Hasilnya terlihat jelas dalam Programme for International Student Assessment (PISA), tes standar global untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun. Meski hasil PISA 2022 menunjukkan sedikit penurunan dibanding periode sebelumnya, sebuah tren global pasca-pandemi, Vietnam tetap konsisten sebagai pemain teratas di Asia Tenggara dan di antara negara-negara berpenghasilan menengah. Yang lebih mengesankan: 34 persen siswa Vietnam yang mengikuti PISA 2022 berasal dari latar belakang sosio-ekonomi paling kurang beruntung, namun skor rata-rata mereka dalam matematika termasuk yang tertinggi untuk kelompok siswa dengan latar ekonomi serupa di seluruh dunia.
Bandingkan dengan Indonesia. Dalam PISA 2022, skor Indonesia masih jauh tertinggal dari Vietnam. Kesenjangan ini bukan karena Vietnam lebih kaya, PDB per kapita kedua negara tidak terlalu berbeda jauh. Ini tentang prioritas, konsistensi kebijakan, dan eksekusi yang disiplin. Vietnam membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, negara berkembang bisa mencapai prestasi pendidikan kelas dunia tanpa harus menunggu menjadi negara maju terlebih dahulu.
Ini bukan cerita tentang sekolah-sekolah elit di Hanoi atau Ho Chi Minh City. Ini tentang bagaimana sistem pendidikan Vietnam berhasil mengangkat siswa dari desa-desa terpencil, memberikan mereka akses dan kualitas yang hampir setara dengan siswa perkotaan. Ekuitas dalam Pendidikan, sesuatu yang masih menjadi mimpi di banyak negara berkembang, adalah kenyataan di Vietnam.
Menurut EmitenNews.com, tercatat sejak tahun 2020 skor Human Capital Index (HCI) Vietnam sebesar 0,69 atau tertinggi di antara negara berkembang lainnya di Asia Tenggara. Semakin tinggi angka ini menunjukkan bahwa anak-anak telah mencapai kondisi ideal baik di indikator survival, kualitas pendidikan, dan Kesehatan.

Rahasia di Balik Kesuksesan

Apa yang membuat Doi Moi begitu efektif? Pertama, keberanian untuk melepas dogma ideologis demi kepentingan rakyat. Pemerintah Vietnam tidak ragu mengadopsi mekanisme pasar ketika melihat sistem terpusat gagal. Kedua, konsistensi jangka panjang. Reformasi tidak berhenti di satu generasi pemimpin, tetapi terus diperkuat oleh pemerintahan berikutnya. Ketiga, fokus pada sektor yang berdampak langsung pada rakyat: pangan dan pendidikan.
Vietnam juga menghindari jebakan yang dialami banyak negara berkembang: ketergantungan berlebihan pada satu sektor atau komoditas. Diversifikasi ekonomi—dari pertanian tradisional ke manufaktur, dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tambah tinggi—membuat ekonomi Vietnam lebih resilient terhadap guncangan eksternal.
Yang tak kalah penting adalah investasi pada modal manusia. Vietnam menyadari bahwa sumber daya alam akan habis, teknologi akan berubah, tetapi manusia terlatih dan terdidik adalah aset abadi. Karena itu, anggaran untuk pendidikan dan kesehatan dijaga tetap tinggi bahkan di masa-masa sulit.

Tantangan yang Tersisa

Vietnam bukan tanpa masalah. Pertumbuhan ekonomi yang pesat menghadirkan tantangan baru: kesenjangan ekonomi antar wilayah, tekanan lingkungan dari industrialisasi, dan perlunya reformasi institusi politik untuk mengimbangi kemajuan ekonomi. Namun, rekam jejak empat dekade Doi Moi memberikan kepercayaan bahwa Vietnam memiliki kapasitas untuk beradaptasi.
Dalam pendidikan, meski prestasi PISA mengesankan, Vietnam juga sedang menghadapi tantangan untuk menggeser dari pembelajaran berbasis hafalan ke kreativitas dan inovasi, yaitu keterampilan yang dibutuhkan ekonomi berbasis pengetahuan. Reformasi kurikulum terus berlangsung, dengan fokus pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Dari Sawah ke Masa Depan

Vietnam hari ini adalah suatu negara yang bisa bercerita tentang sebuah bangsa yang menolak menjadi korban sejarah. Dari reruntuhan perang yang menghancurkan, dari embargo ekonomi yang melumpuhkan, Vietnam bangkit—bukan dengan keajaiban, tetapi dengan kerja keras, strategi yang tepat, dan keberanian untuk berubah.
Doi Moi membuktikan bahwa transformasi besar membutuhkan lebih dari sekadar niat baik atau slogan politik. Ia membutuhkan reformasi struktural yang berani, eksekusi yang disiplin, dan konsistensi jangka panjang. Dari sawah yang dulu terancam kelaparan, kini Vietnam memberi makan dunia. Dari sekolah-sekolah yang dulu tertinggal, kini Vietnam menghasilkan siswa yang bersaing di panggung global.
Secara keseluruhan, reformasi Doi Moi telah membawa transformasi signifikan dalam pembangunan Vietnam, terutama melalui revitalisasi sektor pertanian dan peningkatan kualitas serta akses pendidikan.
Indonesia, dengan segala potensi dan tantangannya, berdiri di persimpangan yang sama seperti Vietnam empat dekade lalu. Pertanyaannya bukan apakah kita bisa, tetapi apakah kita berani. Berani mengubah struktur yang tidak efisien, berani konsisten dengan arah jangka panjang, berani mengukur diri dengan standar global.
Pelajaran terpenting dari Vietnam: tidak ada yang terlambat untuk berubah, selama keberanian untuk memulai selalu ada di dada.
Trending Now