Konten dari Pengguna

Peran Konseling : Mengatasi Masalah Kesehatan Mental Gen Z

Lubna Arkandia Ghinasya
Mahasiswi Universitas Sebelas Maret
29 Oktober 2024 21:08 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Peran Konseling : Mengatasi Masalah Kesehatan Mental Gen Z
Peran Konseling dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Mental Gen Z
Lubna Arkandia Ghinasya
Tulisan dari Lubna Arkandia Ghinasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh Antoni Shkraba: https://www.pexels.com/id-id/foto/duduk-kamar-pembicaraan-dalam-ruangan-7579174/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Antoni Shkraba: https://www.pexels.com/id-id/foto/duduk-kamar-pembicaraan-dalam-ruangan-7579174/
Kesehatan mental generasi Z kini menjadi perhatian utama, dengan data yang menunjukkan lonjakan angka kecemasan dan depresi dalam kelompok ini. Menurut laporan American Psychological Association (2020) mencatat bahwa 91% dari generasi Z mengalami tingkat stres tinggi, dan 58% di antaranya merasakan kecemasan yang berlebihan. Penelitian yang dilakukan Williams (2020) menyebutkan bahwa generasi ini lebih rentan terhadap gangguan mental dibandingkan generasi sebelumnya, dengan faktor risiko utama berupa kecanduan media sosial dan kecenderungan isolasi akibat pola hidup digital. Perubahan sosial ini menggarisbawahi pentingnya konseling sebagai pendekatan penanganan kesehatan mental yang holistik bagi generasi Z. Saya berpendapat, melalui konseling, mereka tidak hanya memperoleh dukungan psikologis, tetapi juga dilatih mengelola stres dan kecemasan, serta mengurangi dampak buruk media sosial terhadap diri mereka. Oleh karena itu, investasi dalam program konseling yang berkelanjutan menjadi langkah krusial untuk memastikan generasi Z memiliki alat dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan mental di era digital.
Menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMUS) survei kesehatan mental nasional pertama yang fokus pada remaja berusia 10โ€“17 tahun di Indonesia. Hasil survei tersebut mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja didiagnosis dengan gangguan mental dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Temuan ini menunjukkan angka yang signifikan, setara dengan sekitar 15,5 juta remaja yang membutuhkan perhatian psikologis khusus dan 2,45 juta di antaranya memenuhi kriteria diagnostik dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5), pedoman utama dalam penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia. Data ini menekankan pentingnya akses terhadap layanan kesehatan mental yang inklusif dan dukungan profesional untuk mengatasi krisis kesehatan mental di kalangan remaja (Lee, M., & Harris, J. 2023). Dalam konteks ini, saya berpendapat pemerintah dan lembaga terkait harus berkolaborasi untuk memperluas jangkauan layanan konseling, sehingga setiap remaja dapat memperoleh bantuan yang diperlukan tanpa hambatan.
Penelitian terbaru McKinsey & Company (2023) menunjukkan sekitar 35% Generasi Z menghabiskan lebih dari dua jam per hari di media sosial dikaitkan dengan meningkatnya tingkat kecemasan dan stres. Standar kecantikan, kesuksesan, dan popularitas yang ditampilkan di media sosial menimbulkan tekanan sosial yang memicu perasaan tidak aman dan ketidakpuasan diri. Ekspektasi sosial yang tidak realistis ini dapat mengganggu kesehatan mental remaja, menghambat perkembangan mereka, dan memperburuk ketidakstabilan emosional. Oleh karena itu, diperlukan intervensi untuk menjaga keseimbangan penggunaan media sosial serta dukungan konseling demi kesejahteraan mental mereka. Menurut saya, dengan mengedukasi remaja tentang cara menggunakan media sosial secara sehat, kita dapat membantu mereka membangun perspektif positif yang dapat mengurangi dampak negatif dari ekspektasi sosial.
Menurut Anguyo, M., et al. (2023), program konseling yang fokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan mental Generasi Z. Program ini tidak hanya membantu remaja mengembangkan pola pikir yang lebih positif, tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap tekanan sosial dari teman sebaya dan ekspektasi yang ditetapkan oleh media sosial. Melalui bimbingan konselor, remaja diajarkan untuk mengenali batasan dalam penggunaan media sosial dan teknologi, sehingga mereka dapat menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan offline. Selain itu, konselor juga memberikan edukasi tentang risiko informasi yang tidak akurat dan dampak negatif dari cyber bullying, yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental mereka. Dari sudut pandang pribadi saya, program konseling tidak hanya berfungsi sebagai solusi jangka pendek, tetapi juga membekali remaja dengan keterampilan yang dapat mereka gunakan sepanjang hidup mereka.
Kesehatan mental Generasi Z seringkali terganggu oleh masalah seperti kecemasan, depresi, dan perasaan isolasi sosial, yang diperburuk oleh paparan media sosial yang berlebihan. Dalam konteks ini, konseling berperan penting sebagai sumber dukungan sosial yang efektif, membantu remaja mengembangkan keterampilan koping yang esensial untuk menghadapi tekanan psikologis di era digital. Program konseling yang komprehensif tidak hanya memberikan alat untuk mengatasi tantangan yang ada, tetapi juga membangun rasa saling memahami di antara remaja. Dengan dukungan yang tepat, Generasi Z dapat lebih siap untuk menjalani kehidupan yang seimbang dan sehat, meskipun dalam lingkungan yang penuh tekanan. Konseling bukan hanya sekadar pengobatan, tetapi juga suatu investasi dalam masa depan yang lebih sehat dan bahagia bagi generasi mendatang.
Disusun oleh: Lubna Arkandia Ghinasya dan Prof. Dr. Andayani, M.Pd.
Trending Now