Konten dari Pengguna

Dari Sering Menangis Hingga Jadi Pemimpin: Perjalanan Berharga Saya di Pesantren

Aida Nur Himayati
Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
22 Juni 2025 13:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Sering Menangis Hingga Jadi Pemimpin: Perjalanan Berharga Saya di Pesantren
Cerita ini mengisahkan perjuangan seorang santri yang awalnya merasa tertekan dan hampir menyerah saat menjalani kehidupan di pesantren. Dari rasa tidak betah, air mata yang jatuh hampir setiap malam,
Aida Nur Himayati
Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://chat.openai.com/
zoom-in-whitePerbesar
https://chat.openai.com/
Perjalanan hidup setiap orang memiliki lika-liku tersendiri. Begitu pula dengan saya. Cerita ini dimulai setelah saya menyelesaikan pendidikan di tingkat SMP, tepatnya di MTs Al-Adhar, Cikeusal Kidul—desa yang penuh kenangan dan ketulusan.
Setelah lulus, saya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA. Namun bukan SMA biasa yang saya pilih, melainkan sebuah pondok pesantren. Keputusan itu saya ambil dengan harapan bisa menimba ilmu agama lebih dalam sekaligus membentuk pribadi yang lebih baik.
Tentu, keputusan itu tidak lepas dari pertimbangan. Saya bicarakan dengan orang tua, dan mereka menyetujui dengan satu syarat: saya harus serius dan betah. Wajar saja, karena sebelumnya saya pernah mondok selama tiga bulan namun memilih pulang karena tidak kuat menghadapi kehidupan pesantren. Tapi kali ini saya ingin membuktikan bahwa saya telah siap secara lahir dan batin.
Beberapa minggu kemudian, saya dan ibu mendaftarkan diri ke Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 di Benda, Bumiayu. Tanggal 26 Juni 2021 menjadi awal mula babak baru dalam hidup saya. Perasaan saya saat itu campur aduk—antara senang, cemas, dan haru. Tapi siapa sangka, tiga bulan pertama menjadi masa paling sulit.
Saya merasa sangat tidak betah. Setiap malam saya menangis. Rasa rindu rumah, tekanan lingkungan baru, dan kurangnya dukungan dari teman sebaya membuat saya merasa terasing. Ketika hendak naik ke kelas dua, saya bahkan berniat untuk keluar. Saya menghubungi orang tua, namun mereka memberi saya tanggung jawab penuh untuk mengurus semuanya sendiri. Ketika saya mencoba meminta izin kepada pihak pondok dan sekolah, saya tidak mendapat restu. Hati saya semakin terpuruk.
Namun, hidup memberi saya kejutan. Suatu hari, saya ditunjuk sebagai bendahara santri dalam kepengurusan pondok. Saya merasa tertekan karena merasa belum pantas. Tapi pelan-pelan, saya belajar menerima amanah itu dengan ikhlas. Ternyata, di situlah titik awal perubahan besar dalam diri saya.
Setahun kemudian, amanah lebih besar datang. Saya dipercaya menjadi ketua pondok. Saya sangat terkejut dan sempat merasa tidak sanggup. Namun ketika Ibu Nyai, pengasuh pondok, menyampaikan langsung permintaan itu, saya tidak bisa menolak. Tugas ini menuntut saya memimpin ratusan santri dengan beragam latar belakang dan karakter.
Empat bulan pertama menjadi masa tersulit. Saya sering menangis setiap malam, bahkan sempat mengalami stres berat. Tapi di tengah keputusasaan itu, Ibu Nyai memberikan nasihat yang sangat menyentuh hati:
"Semakin tinggi derajat seseorang, semakin besar pula ujiannya."
Kalimat itu menampar sekaligus membangkitkan saya. Sejak saat itu, saya mulai menjalani amanah ini dengan lebih sabar dan bijaksana. Saya belajar memimpin dengan hati, mendengarkan dengan empati, dan bertindak dengan tanggung jawab. Saya tidak lagi melihat kesulitan sebagai beban, tetapi sebagai proses pendewasaan diri.
Tiga tahun telah berlalu. Masa-masa sulit itu perlahan saya lewati. Kini saya sadar, jika dulu saya menyerah, mungkin saya tidak akan menjadi pribadi yang sekuat ini. Dunia pesantren telah mengajarkan saya arti kesabaran, keikhlasan, disiplin, dan keteguhan hati.
Ketika hari ini saya menghadapi berbagai tantangan hidup, saya sudah lebih siap. Tidak mudah goyah, tidak mudah mundur. Saya bersyukur pernah melewati masa-masa itu. Dari sanalah saya belajar menjadi manusia seutuhnya.
Dan bagi siapa pun yang hari ini sedang berjuang di pondok pesantren, percayalah—proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.
terimakasih,semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
Trending Now