Konten dari Pengguna

Krisis Integritas Akademik dan Orientasi Nilai Sistem Pendidikan

Aida Nur Himayati
Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
10 Desember 2025 10:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Krisis Integritas Akademik dan Orientasi Nilai Sistem Pendidikan
ulisan ini berisi refleksi pribadi tentang makna nilai akademik dalam dunia pendidikan. Saya membagikan pengalaman bahwa angka A bukanlah segalanya. Ada nilai yang lebih penting untuk dibangun: kejuju
Aida Nur Himayati
Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://unsplash.com/photos/s9CC2SKySJM
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/photos/s9CC2SKySJM
Sejak awal kuliah, saya selalu percaya bahwa nilai adalah cerminan dari kerja keras dan kecerdasan. Saya mengejar huruf A di setiap mata kuliah, disitupun saya berpikir bahwa jika IPK tinggi, maka jalan hidup yang dihadapi akan terasa lebih mudah. Tapi seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa huruf-huruf di transkip nilai tidak selalu menggunakan apa yang sebenarnya kita pahami apalagi seberapa besar usaha yang telah kita keluarkan.
Di banyak kampus, proses belajar sering kali dikerdilkan menjadi sekedar angka. Dosen menjelaskan rencana pembelajaran di awal semester, dan mengatakan bahwa keaktifan dan kedisiplinan akan berpengaruh pada nilai. Namun, kenyataanya, penentu utama tetaplah hasil ujian akhir (UTS/UAS). Mahasiswa yang biasanya aktif berdiskusi, berpikir kritis dan mengemukakan pendapat sering kali memeperoleh nilai serupa, bahkan lebih rendah, di banding mereka yang sekedar menghafal atau hadir saat absen saja.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Pendidikan tinggi kita benar-benar menilai proses belajar, atau hanya menghargai hasil akhir? Ketika sistem lebih mengutamakan hasil ujian dibanding perjalanan memahami ilmu, maka makna belajar perlahan terkikis.
Saya pernah berada dalam posisi itu, rela begadang berhari-hari menjelang ujian, menghafal teori tanpa benar-benar mengerti maknanya. Begitu ujian selesai, semua hafalan lenyap begitu saja. Nilai A memang saya dapat, tapi Ketika ditanya ulang beberapa minggu setelah ujian, saya bahkan tak ingat apa-apa. Nilai yang tinggi ternyata tak selalu sebanding dengan kualitas pemahaman.
Tekanan untuk selalu berprestasi akhirnya membuat banyak mahasiswa kehilangan arah. Kita belajar bukan karena ingin memahami, tapi karena takut nilainya jelek. Sistem penilaian yang menomorsatukan hasil menciptakan generasi yang berpikir instan belajar cepat, lupakan cepat. Parahnya lagi, banyak yang akhirnya menempuh jalan pintas dengan menyontek, bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sistem menuntut hasil tanpa mempedulikan proses.
Sayangnya fenomena ini bukan hanya terjadi di kampus saya. Kasus joki UTBK 2025 yang terungkap di beberapa kampus juga memperlihatkan hal serupa. Dalam pemberitaan nasional, beberapa peserta bahkan membayar mahal untuk “dibantu” lolos ujian masuk perguruan tinggi. Ini bukan sekedar kasus pelanggaran individu, melainkan gejala sosial bahwa kita hidup dalam sistem yang terlalu menekankan hasil akhir, bukan proses dan kejujuran.
Disisi lain, pemerintah Tengah membahas Revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasioanl (RUU Sisdiknas) yang menekankan pentingnya Pendidikan berbasis karakter dan kompetensi, bukan sekedar akademik. Tujuan besarnya adalah menciptakan lulusan yang adaptif, berintegritas dan siap menghadapi dunia kerja. Namun, dalam praktik di kampus, paradigma lama masih kuat, nilai dan IPK tetap menjadi patokan utama.
Dari pengalaman pribadi saya, saya belajar bahwa sistem penilaian yang tidak adil dapat membunuh semangat belajar. Ketika mahasiswa aktif dan berkontribusi sama dihargainya dengan mereka yang hanya hadir tanpa berkontibusi di kelas,motivasi untuk berkembang perlahan hilang. Banyak teman saya akhirnya menjadi apatis. Mereka sering berkata ”buat apa aktif kalau hasilnya sama saja?” padahal, kampus seharusnya menjadi tempat menumbuhkan semangat berpikir kritis dan kejujuran akademik.
Saya juga belajar bahwa dosen bukan musuh. Mereka pun terikat pada sistem dan kebijakan kampus yang kadang kaku. Namun, saya berharap, ke depan, sistem Pendidikan kita bisa lebih manusiawi untuk menghargai usaha, proses, dan kejujuran. Karena dunia nyata nanti tidak akan menilai kita dari IPK, melainkan dari cara kita berpikir, bersikap, dan menyelesaikan masalah.
Krisis integritas akademik yang ramai dibahas di media hari ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua. Jika kita terus menilai mahasiswa berdasarkan angka semata, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai mencari jalan pintas tapi miskin karakter. Padahal, Pendidikan sejati bukan tentang siapa yang mendapat nilai tertinggi, melainkan siapa yang mampu belajar terus meski tanpa tepuk tangan.
Saya tidak bisa mengubah sistem secara instan, tapi bisa mengubah cara saya melihatnya. Sekarang saya belajar bukan untuk nilai, tapi untuk pemahaman. Saya tidak lagi menghafal teori untuk UTS/UAS, tapi mencoba memahami konsep agar bisa menjelaskan dengan kata-kata sendiri. Saya belajar menghargai proses, meski hasilnya tidak selalu sempurna.
Dari pengalaman ini, saya menemukan nilai yang lebih berharga dari angka A yaitu: kejujuran,konsistensi dan ketulusan dalam belajar. Nilai bisa naik turun tapi, karakter adalah hal yang akan kita bawa seumur hidup. Karena itu, bagi saya,“belajar nilai” berarti belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Belajar bersikap jujur meski kadang hasilnya tidak sesuai harapan.
Dan mungkin, di masa depan, Ketika sistem Pendidikan benar-benar berubah Ketika proses dinilai sama pentingnya dengan hasil,kita bisa berkata bahwa kita sudah memerdekakan belajar, bukan hanya mengejar angka.
Pada akhirnya, isu tentang “nilai menjadi segalanya” bukan sekedar persoalan mahasiswa atau dosen, melainkan cerminan dari arah Pendidikan kita sebagai bangsa. RUU Sisdiknas yang Tengah dibahas seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan ruh Pendidikan kepada esensinya, mendidik manusia seutuhnya, bukan sekedar pengumpul angka. Jika sistem dan budaya akademik mampu menghargai proses, kejujuran, dan usaha, maka integritas akan tumbuh alami dalam diri pelajar.
Trending Now