Konten dari Pengguna

ASN, Mahasiswi, dan Ibu 4 Anak Melawan Vonis Tuli Mendadak

Darwati
ASN Kota Depok. Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia Maju (UIMA) Jakarta.
4 Desember 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
ASN, Mahasiswi, dan Ibu 4 Anak Melawan Vonis Tuli Mendadak
Kisah Pribadi Penulis tentang ikhtiar dan keyakinan, seorang ASN dan mahasiswi, mengalami tuli mendadak. Tetapi harus segera bangkit untuk mengubah kesunyian menjadi pemicu keberhasilan
Darwati
Tulisan dari Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perempuan penyandang disabilitas Tuli. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan penyandang disabilitas Tuli. Foto: Shutterstock
Tiga bulan. Tiga bulan ini telingaku telah menjadi rumah bagi kesunyian yang tebal. Di tengah bisingnya Ibu Kota, aku adalah seorang ASN di jantung kota Depok, seorang ibu dengan empat pasang mata yang menatap penuh harap. Salah satunya adalah anugerah terindahku yang berkebutuhan khusus selama 20 tahun, dan baginya, ibunya adalah sumber suara dan pelindung.
Aku juga seorang mahasiswi yang haus akan ilmu kesehatan masyarakat. Namun, semua peran dan cita-cita itu tiba-tiba terancam oleh tragedi sunyi. Tragisnya, aku adalah salah satu dari ribuan pegawai yang harus menjalani hari-hari dalam kondisi yang sangat jarang terjadi ini—Tuli Sensorineural Mendadak (SNHL)—menjadikannya perjuangan yang nyaris tak terbayangkan. Aku bukan hanya berjuang untuk diriku, tapi untuk memastikan putraku yang istimewa itu tidak kehilangan jembatan komunikasinya dengan dunia.
Aku ingat betul. Awalnya, ada rasa berputar, dunia seperti tergoncang. Aku rebahkan tubuh sejenak, menanti azan Maghrib berkumandang, suara yang selalu menjadi penanda damai. Tapi, saat aku bangkit, telingaku seolah terkunci rapat. Keesokan paginya, harapan itu benar-benar pupus. Saat berwudhu, gemericik air yang kudamba tak sedikit pun tertangkap. "Apa kabar telingaku?" bisikku dalam hati, sebuah pertanyaan yang hanya bisa kuajukan tanpa bisa kudengar jawabannya.

Kepanikan di Antara Deru Honda Beat dan Jurang Perkuliahan

Perjalanan 15 menit menuju kantor yang biasa kutempuh dengan Honda Beat, kini terasa seperti melintasi ruang hampa. Deru kendaraan terlihat jelas di mataku, tapi tak ada suara yang mampu menembus. Hanya kesunyian.
Kondisi ini menghantam keras peranku sebagai mahasiswi. Ruang kuliah yang seharusnya menjadi pancuran ilmu, berubah menjadi tempat yang mencekam. Sementara teman-teman asyik mencerna penjelasan dosen, aku hanya bisa menatap gerak bibir mereka. Aku merasa tenggelam dalam lautan informasi yang tak bisa kusentuh.
Aku sadar, satu-satunya jembatan penghubungku dengan status mahasiswa adalah materi perkuliahan yang dibagikan dosen secara tertulis. Aku harus bergantung penuh pada materi itu, membaca berulang kali, mencocokkan ekspresi wajah teman-teman, dan berusaha keras agar tak tertinggal. Aku harus berjuang mati-matian, karena penjelasan lisan sang dosen tak lagi sampai di telingaku.
Puncak drama terjadi di kantor. Teman-teman asyik berbagi tawa, sementara aku... terdiam, seperti patung yang hanya bisa melihat gelombang suara tanpa merasakannya. Ketika seorang teman menyapa, aku hanya mampu menatap balik tanpa bisa membalas, tak yakin apa yang ia katakan. Karena tidak ingin terjadi salah paham atau dituduh sombong, akhirnya jemariku bergerak, mengetik pesan di grup WhatsApp: "Teman-teman, tolong lewat pesan WA ya. Kondisi pendengaran ini sedang tidak baik-baik saja, maafkan ya."
Ruangan hening seketika. Wajah-wajah yang tadi tertawa kini berubah cemas. Seorang teman lantas menghambur memeluk, mendesakku segera berobat. Di tengah kepanikan mereka, aku masih berusaha tersenyum, meski hati sudah dipenuhi kegusaran.

Ikhtiar Sunyi Sang Pejuang dan Adaptasi yang Menyakitkan

Berbekal kartu BPJS, aku memulai ikhtiar dari faskes pertama. Namun, karena harus mengejar waktu emas penanganan Tuli Mendadak yang kritis, dan antrean BPJS di rumah sakit rujukan terasa terlalu lama, aku akhirnya nekat mendatangi spesialis di RS dengan biaya sendiri. Langkah kaki terasa berat, pikiranku menebak vonis apa yang akan disampaikan dokter.
Setelah pemeriksaan, telingaku bersih, namun hasil tes fungsi pendengaran menunjukkan kenyataan pahit: penurunan drastis di kedua telinga. Dokter menyarankan konsultasi hiperbarik dan mencari alat bantu dengar. Dibantu suami, aku memulai terapi. Mukjizat kecil mulai menghampiri.
Gemericik air mulai terdengar lagi. Suara teman dapat kucerna, meskipun sangat terbatas, harus dengan tatapan langsung dan membaca gerak bibir. Akhirnya, kuputuskan membeli sepasang alat bantu dengar. Adaptasi ini adalah babak baru yang penuh air mata. Hari-hari berlalu dalam keterbatasan.
Di tengah keramaian, air mata sering menetes karena aku tak mampu menangkap suara. Bahkan saat anak-anak—termasuk putraku yang istimewa yang sangat bergantung pada komunikasi ibu-anak—mengajak bercerita, aku harus menahan tangis karena tidak mendengar jelas apa yang mereka sampaikan. Ada rasa bersalah yang menusuk ketika aku harus meminta mereka mengulang kalimat berkali-kali, seolah telingaku mengkhianati peran ibuku sebagai pendengar utama.

Bangkit Melalui Goresan Kata yang Penuh Makna

Perlahan aku berbenah. Raga ini tidak boleh berlarut dalam lingkaran prasangka buruk. Aku harus segera bangkit. Dukungan luar biasa dari orang-orang sekitar, yang tak memberi ruang sedikit pun untuk terpuruk, adalah penyemangat utama.
Aku memilih untuk menjadikan keterbatasan ini sebagai pemicu keberhasilan. Sesuai saran dokter untuk menjaga otak tetap produktif, aku memilih menulis. Menulis menjadi cara paling ampuhku untuk melatih otak, cara untuk terus menggali kelebihan diri dan mengoptimalkannya. Lebih dari itu, menulis adalah caraku meninggalkan jejak bagi anak-anakku; bukti bahwa Ibu mereka bangkit dari keterbatasan.
Trending Now