Konten dari Pengguna

Kemiskinan di Balik Angka Stunting: Gizi Buruk yang Tak Terlihat

Valentinus Chandra
Siswa Sekolah SMA Citra Berkat Tangerang
14 Agustus 2025 14:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kemiskinan di Balik Angka Stunting: Gizi Buruk yang Tak Terlihat
Menurut survei, meski relatif dekat dengan fasilitas yang memadai, namun masyarakat di perkotaan juga berisiko mengalami gizi buruk dan stunting, salah satunya karena faktor ekonomi. #userstory
Valentinus Chandra
Tulisan dari Valentinus Chandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
Gizi buruk adalah masalah kesehatan yang terus berlanjut di masyarakat. Gizi buruk merupakan suatu kondisi anak yang memiliki gizi yang sangat buruk atau sangat kurang, ditandai dengan berat badan yang terlalu rendah dibandingkan tinggi badannya. Gizi buruk, biasanya rawan dialami oleh para balita atau anak-anak karena masih dalam fase pertumbuhan yang membutuhkan banyak gizi dan nutrisi.
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), pravalensi stunting di Indonesia akibat adanya gizi buruk pada tahun 2024 adalah 19,8%, atau menurun dari 21,5% pada tahun 2023. Hal ini membawa perubahan yang cukup baik, tetapi apakah solusi yang sudah diterapkan dapat berkelanjutan hingga mencapai tingkat serendah-rendahnya.
Persentase tersebut masih sangat banyak dibanding jumlah seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, kita masih membutuhkan solusi yang lebih efisien dan berdampak dengan cakupan yang lebih luas.
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), mengungkapkan bahwa sekitar 60% anak-anak Indonesia hidup di garis kemiskinan, yang berdampak langsung pada kualitas asupan gizi mereka. Bank dunia mencatat pendapatan orang tua di bawah Rp2 juta per bulan sebagai indikator utama keterbatasan akses keluarga terhadap makanan bergizi. Ternyata tingkat ekonomi seseorang juga dapat mempengaruhi asupan gizi seseorang yang membuat masalah ini memiliki banyak akar.
Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, pervalensi stunting di perkotaan masih tinggi, mencapai 23,4%. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun dekat dengan fasilitas yang lebih memadai, kelompok masyarakat di perkotaan tetap berisiko mengalami gizi buruk dan stunting karena berbagai faktor. Salah satunya adalah kondisi ekonomi yang membatasi akses terhadap makanan yang sehat dan kaya akan gizi.
Tantangan utama di perkotaan bukan hanya tentang ekonomi dan ketersediaan pangan, namun juga didominasi oleh makanan yang siap saji dan mi instan. Data BPS pada 2024 menunjukkan konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 79,3% dari total konsumsi bahan makanan dalam seminggu.
Ilustrasi dihasilkan oleh Al melalui ChatGPT - Open Al, atas permintaan penulis
Gizi buruk adalah masalah yang harus diselesaikan dengan penanganan tepat karena berkaitan dengan keberlanjutan kualitas generasi muda. Salah satu penanganannya bisa dengan menggabungkan edukasi gizi yang sederhana, pembuatan makanan yang bergizi dengan harga yang murah, dan juga pemanfaatan media sosial. Dimulai dari mengadakan workshop skala kecil di sekolah-sekolah atau di pasar dengan tujuan memilih bahan makanan yang memiliki harga terjangkau dan tips memasaknya serta memberikan informasi tentang pentingnya sarapan.
Memilih bahan berperan penting dalam kondisi gizi dan ekonomi seseorang. Resep yang digunakan harus dirancang agar hasil makanannya memiliki gizi yang baik dan tentunya memiliki harga yang terjangkau, kurang lebih Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi serta bisa kita berikan sampel saat melakukan workshop. Dengan melakukannya workshop dan memberikan resep, kita bisa akhiri langkah kita dengan membagikan konten edukasi di sosial media agar cakupan target nya lebih luas dan dapat berdampak di berbagai penjuru.
Gizi buruk dan kemiskinan adalah masalah yang memiliki hubungan satu sama lain dan saling berkaitan. Banyak masyarakat di perkotaan yang memiliki ekonomi yang mencukupi tapi kurang dalam hal edukasi kesehatan tentang pertumbuhan anak. Hal ini pastinya akan memicu gizi buruk sebagai tanda awalnya hingga mencapai tahap stunting jika tidak ada tindakan yang menanggulangi hal tersebut.
Oleh sebab itu, pentingnya kita mengetahui tentang tumbuh kembang anak sebagai upaya mencegah adanya dan berkembangnya masalah gizi buruk di sekitar kita.
Trending Now