Konten dari Pengguna

Jadi Dewasa Itu Nggak Mudah, Tapi Selalu Bisa Dipelajari

Livelyna Qoniah
Mahasiswi Institut Agama Islam SEBI
4 September 2025 15:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jadi Dewasa Itu Nggak Mudah, Tapi Selalu Bisa Dipelajari
Menjadi dewasa bukanlah hal yang sederhana. Kedewasaan bukan hal yang datang tiba-tiba, tapi dapat dibangun dan dipelajari melalui pengalaman, refleksi, serta usaha untuk terus berkembang. #userstory
Livelyna Qoniah
Tulisan dari Livelyna Qoniah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber: pixabay.com / @Pexels
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pixabay.com / @Pexels
“Dewasa itu bukan soal umur, tapi soal cara berpikir dan bertindak”.
Saat hidup dipenuhi berbagai pilihan, kita sering merasa bingung harus melangkah ke arah mana. Ada kalanya muncul keinginan untuk dapat memutar waktu, kembali ke masa kecil yang sederhana. Saat kecil, kita tak sabar ingin beranjak dewasa, membayangkan betapa menyenangkannya untuk bebas menentukan jalan hidup sendiri.
Nyatanya, ketika benar-benar beranjak dewasa, kerinduan justru muncul pada masa kecil yang penuh kebebasan tanpa beban. Kenangan itu membuat kita sadar bahwa realita tak selalu seindah ekspektasi.
Menjadi dewasa bukan hanya soal kebebasan, melainkan juga tentang menghadapi berbagai rintangan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Terutama peralihan dari masa remaja ke dewasa, banyak hal baru yang terjadi pada kehidupan kita. Pada rentang usia 18-25 tahun, kita mulai sibuk mencari jati diri dan peran (Robbins & Wilner, 2001).
Tantangan menjadi dewasa antara lain yaitu tanggung jawab yang semakin besar, belajar mandiri dan tidak terus bergantung, menghadapi ketidakpastian masa depan, juga menjaga mental dan emosi di tengah kegagalan atau kehilangan. Semua tantangan ini menciptakan atmosfer di mana masa muda bukan semata tentang mengejar mimpi, tapi juga bagaimana menghadapi realita dan berjuang untuk mandiri secara finansial, emosional, dan karier, sambil terus membangun identitas diri.
Ilustrasi ayah dengan anak perempuannya yang sudah dewasa. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock
Dalam proses menjadi dewasa, ada banyak hal yang sebenarnya dapat dipelajari secara bertahap. Pertama, mengelola emosi dengan sehat, karena tidak semua hal harus ditanggapi dengan marah atau panik. Belajar tenang di situasi sulit justru menunjukkan kedewasaan kita. Kedua, menerima kegagalan sebagai pelajaran. Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Selanjutnya, penting untuk melatih konsistensi lewat langkah kecil karena kedewasaan bukan tentang melakukan hal besar sekali saja, tapi tentang kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Selain itu, kita juga perlu menghargai orang lain dan menjaga relasi karena cara kita memperlakukan orang lain biasanya mencerminkan tingkat kedewasaan kita. Terakhir, jangan lupa membiasakan diri untuk refleksi, menilai apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki agar terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Kedewasaan itu adalah sebuah proses panjang, bukan garis finish yang harus segera dicapai. Setiap orang punya jalannya masing-masing, dengan ritme dan waktunya sendiri. Tidak ada yang benar-benar “siap” menjadi dewasa karena pada akhirnya kita semua sedang belajar sambil berjalan.
Hari-hari berat yang kita alami bukan tanda kelemahan, tapi bagian dari proses tumbuh yang membentuk diri kita menjadi lebih kuat. Jadi, jangan takut merasa jatuh atau tertinggal. Selama kita terus bergerak maju, sekecil apa pun langkahnya, kita sedang menjalani proses bertumbuh menuju versi terbaik dari diri sendiri.
Trending Now