Konten dari Pengguna

Kecerdasan Buatan vs Stabilitas Dunia: Kita Sedang Duduk di Atas Bom Waktu?

Vicky Rian Saputra
Founder & CEO Edus.id Mahasiswa S1 Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM
15 Juni 2025 13:48 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kecerdasan Buatan vs Stabilitas Dunia: Kita Sedang Duduk di Atas Bom Waktu?
AI membawa kemajuan, tapi juga ancaman sistemik. Artikel ini membahas potensi kecerdasan buatan sebagai Black Swan yang bisa mengguncang ekonomi dan stabilitas global secara tak terduga.
Vicky Rian Saputra
Tulisan dari Vicky Rian Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar : Angsa Hitam
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : Angsa Hitam
AI dan Ancaman Sistemik terhadap Ekonomi Global
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi simbol kemajuan teknologi abad ke-21. Diadopsi secara masif dalam berbagai sektor dari industri manufaktur, keuangan, hingga pertahanan AI membawa janji efisiensi dan pertumbuhan ekonomi baru. Namun di balik geliat inovasi tersebut, muncul kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan. Ketergantungan global terhadap sistem otomatisasi dan pengolahan data berbasis AI kini mulai menunjukkan potensi gangguan sistemik terhadap tatanan ekonomi dunia.
Dalam konteks global yang semakin saling terhubung, perang melawan dominasi AI bisa memicu ketidakstabilan baru yang bersifat struktural. Artikel ini mencoba mengurai skenario-skenario tersebut dengan menyoroti bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi pemicu krisis ekonomi global yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan secara serius.
Teori Black Swan dan Ketidakpastian Global
Black Swan dikemukakan oleh ekonom Nassim Nicholas Taleb untuk menggambarkan peristiwa langka, tak terduga, namun berdampak besar. Istilah ini berasal dari asumsi lama bahwa semua angsa berwarna putih hingga akhirnya ditemukan angsa hitam di Australia, yang mengubah paradigma dunia.
Dalam konteks perkembangan AI saat ini, muncul potensi bahwa kecerdasan buatan bisa menjadi Black Swan berikutnya sebuah kejutan besar yang membawa dampak global dan mengguncang fondasi ekonomi dunia. Kecerdasan buatan kini berada di titik kritis: antara peluang pertumbuhan dan ancaman disrupsi besar-besaran. Di berbagai sektor, AI telah menggantikan peran manusia dalam proses produksi, pelayanan konsumen, hingga pengambilan keputusan berbasis data. Di sisi lain, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai negara menjadi salah satu dampak langsung dari otomatisasi yang tidak terkendali.
Di Asia, perusahaan-perusahaan raksasa seperti Alibaba dan Tencent mulai memangkas ribuan pekerja sebagai bentuk efisiensi melalui otomatisasi. Di Indonesia sendiri, startup teknologi finansial mulai mengurangi staf customer service karena sudah digantikan chatbot berbasis AI. Fenomena ini menjadi pertanda bahwa AI bukan hanya memodernisasi, tetapi juga secara sistemik mengguncang fondasi ekonomi konvensional. Ketimpangan akses teknologi, lemahnya regulasi, serta dominasi negara-negara tertentu dalam penguasaan AI membuat tantangan ini semakin kompleks.
Hilangnya Lapangan Kerja: Dampak Langsung Revolusi AI
Salah satu dampak paling nyata dari revolusi kecerdasan buatan adalah ancaman terhadap keberlangsungan lapangan kerja manusia. Berbagai sektor industri kini mulai menggantikan peran tenaga kerja dengan sistem otomatis berbasis AI yang dinilai lebih efisien, cepat, dan hemat biaya. Gelombang ini tidak hanya terjadi pada sektor manufaktur atau layanan pelanggan, tetapi juga mulai menyasar bidang-bidang yang sebelumnya dianggap β€œaman” dari otomatisasi, seperti industri kreatif dan komunikasi.
Kehadiran teknologi seperti Google Gemini, yang mampu membuat video iklan profesional hanya dari perintah teks (prompt), menjadi contoh nyata dari disrupsi ini. Proses yang dahulu membutuhkan tim kreatif, mulai dari penulis naskah, sutradara, editor, hingga ilustrator, kini dapat digantikan dalam hitungan menit oleh satu sistem otomatis. Ini tentu memukul sektor pekerjaan kreatif yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi digital, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Untuk meredam dampak negatif dari hilangnya lapangan kerja akibat kecerdasan buatan, diperlukan regulasi yang jelas, progresif, dan adaptif. Pemerintah bersama pemangku kepentingan harus merumuskan kebijakan yang tidak hanya mengatur penggunaan AI secara etis, tetapi juga melindungi hak tenaga kerja yang terdampak. Regulasi ini harus mencakup pembatasan pada otomatisasi total di sektor-sektor tertentu, insentif bagi perusahaan yang tetap memberdayakan tenaga manusia, serta pengembangan program pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan baru di era digital. Tanpa langkah antisipatif ini, disrupsi AI berpotensi memperlebar ketimpangan dan menciptakan instabilitas sosial yang lebih dalam.
Trending Now