Konten dari Pengguna
Farmasi Alam yang Terlupakan
7 Desember 2025 0:24 WIB
·
waktu baca 12 menit
Kiriman Pengguna
Farmasi Alam yang Terlupakan
Analisis kritis tentang pudarnya farmasi alam nusantara di tengah gempuran modernitas. Bagaimana tradisi pengobatan ribuan tahun terancam punah di negeri sendiri.Vincent Kristianto
Tulisan dari Vincent Kristianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda memperhatikan berapa banyak anak muda sekarang yang lebih hafal nama Paracetamol ketimbang khasiat temulawak? Atau berapa banyak keluarga yang langsung membeli obat flu di apotek tanpa memikirkan bahwa jahe merah di dapur mereka bisa mengatasi masalah yang sama? Inilah potret Indonesia hari ini. Negara dengan kekayaan hayati luar biasa justru semakin jauh dari akarnya sendiri.
Fenomena tersebut menunjukkan hilangnya identitas kesehatan bangsa yang telah dibangun selama ribuan tahun. Farmasi alam yang dulu menjadi tulang punggung kesehatan masyarakat kini terpinggirkan oleh dominasi obat-obatan modern. Ironinya terjadi di negara yang seharusnya bangga dengan warisan pengobatan tradisionalnya.
Generasi yang Terputus dari Akarnya
Coba tanyakan kepada remaja saat ini apa itu kunyit asam atau wedang uwuh. Kemungkinan besar mereka akan mengangkat bahu atau justru tertawa karena menganggapnya kuno. Bagi mereka, obat datang dalam bentuk tablet berwarna-warni dengan kemasan menarik, bukan racikan bubuk kuning yang harus direbus. Kesembuhan identik dengan antibiotik, bukan dengan ramuan daun sirih atau sambiloto.
Pergeseran tersebut terjadi masif dalam beberapa dekade terakhir. Industri farmasi modern dengan gencar memasarkan produk mereka melalui iklan televisi, media sosial, hingga endorsement selebriti. Hasilnya sangat efektif. Masyarakat urban kini lebih percaya pada produk dengan label berbahasa Inggris dan sertifikasi internasional ketimbang ramuan warisan nenek moyang yang telah terbukti ratusan tahun.
Gaya hidup instan turut memperparah situasi. Siapa yang mau repot merebus temulawak selama dua jam kalau bisa langsung menelan kapsul dalam hitungan detik? Siapa yang sempat mencari daun kumis kucing di pasar tradisional kalau apotek buka 24 jam dan menerima pembayaran digital? Modernitas menawarkan kemudahan, dan kita semua tergoda untuk mengambilnya tanpa berpikir panjang tentang apa yang kita korbankan.
Lebih memprihatinkannya lagi, banyak orang tua yang dulu mengandalkan jamu kini justru melarang anak-anak mereka mengonsumsinya. Alasannya klise namun mencerminkan krisis kepercayaan diri budaya sendiri. Mereka menganggap jamu itu tidak higienis, tidak terstandar, bahkan berbahaya. Padahal obat modern yang mereka konsumsi juga punya efek samping yang tidak main-main. Bedanya, efek samping obat modern ditulis rapi dalam leaflet berbahasa medis yang tidak pernah mereka baca.
Rumah Sakit Tanpa Ramuan, Dokter Tanpa Etnobotani
Sistem kesehatan Indonesia saat ini hampir sepenuhnya mengadopsi model Barat. Dari Sabang sampai Merauke, rumah sakit dan klinik menyediakan layanan yang seragam dengan obat-obatan yang sama. Paracetamol untuk demam, Amoxicillin untuk infeksi, Omeprazole untuk maag. Tidak ada ruang untuk temulawak, sambiloto, atau daun sirsak dalam resep dokter.
Kurikulum pendidikan kedokteran turut berkontribusi pada kondisi tersebut. Mahasiswa kedokteran menghabiskan bertahun-tahun belajar farmakologi modern, anatomi, patologi, dan berbagai disiplin ilmu Barat, tetapi hampir tidak mendapat porsi pembelajaran tentang farmakognosi atau etnofarmakologi. Hasilnya, dokter yang lulus tidak paham dan tidak tertarik mengeksplorasi potensi pengobatan tradisional.
Sikap skeptis seperti ini menciptakan lingkaran setan. Dokter tidak merekomendasikan herbal karena menganggapnya tidak ilmiah. Masyarakat yang percaya pada dokter kemudian meninggalkan herbal. Industri farmasi tradisional kehilangan pasar dan tidak punya modal untuk melakukan riset lanjutan. Tanpa riset, tidak ada bukti ilmiah baru yang diterima komunitas medis. Dan siklus ini terus berulang, semakin memperdalam jurang antara tradisi dan modernitas.
Hal yang lebih ironis, banyak dokter dengan mudah meresepkan suplemen vitamin impor yang harganya selangit, tetapi mengernyitkan dahi ketika pasien menanyakan tentang khasiat daun kelor atau sambiloto. Padahal jika kita jujur, bukti ilmiah untuk banyak suplemen komersial tidak lebih kuat daripada bukti empiris tanaman obat yang telah digunakan berabad-abad.
Hutan Terbakar, Pengetahuan Punah
Sementara generasi muda semakin jauh dari tradisi, hutan Indonesia yang menjadi sumber farmasi alam terus terkikis. Setiap tahun, ribuan hektar hutan tropis hilang untuk perkebunan sawit, tambang, dan pembangunan. Ketika hutan itu musnah, musnahlah pula ribuan spesies tanaman obat yang bahkan belum sempat kita kenali. Lebih menyedihkannya lagi, kita kehilangan tanaman-tanaman itu bukan untuk kepentingan kesehatan rakyat, melainkan untuk komoditas ekonomi jangka pendek.
Tapi, kehilangan yang paling tragis adalah punahnya pengetahuan lokal. Di berbagai pelosok nusantara, para sesepuh yang menyimpan ribuan resep pengobatan tradisional satu per satu meninggal dunia. Ketika mereka pergi, perpustakaan hidup itu ikut terkubur. Anak-anak mereka yang bermigrasi ke kota tidak tertarik mewarisi pengetahuan tersebut karena menganggapnya tidak relevan dengan kehidupan modern.
Bayangkan seorang tabib di pedalaman Kalimantan yang hafal ratusan jenis tanaman obat beserta khasiat dan cara pengolahannya. Pengetahuan itu diperoleh dari ayahnya, yang diperoleh dari kakeknya, dalam rantai transmisi oral yang telah berlangsung berabad-abad. Tetapi cucunya yang sekolah di kota justru bercita-cita menjadi dokter modern, bukan penerus tradisi. Tidak ada yang salah dengan cita-cita itu, tetapi mengapa harus memilih salah satu? Mengapa tidak bisa keduanya?
Kita kehilangan warisan intelektual yang tak ternilai harganya karena menganggapnya primitif. Padahal, pengetahuan etnobotani yang dimiliki masyarakat adat adalah hasil riset empiris selama ribuan tahun. Mereka melakukan trial and error, mencatat tanaman mana yang efektif dan mana yang beracun, mengembangkan metode pengolahan yang tepat, semua itu jauh sebelum laboratorium modern ada. Namun kita lebih memilih mengabaikannya demi mengejar standar validitas Barat.
Dikotomi Palsu antara Tradisional dan Modern
Salah satu masalah terbesar dalam diskursus farmasi alam adalah penciptaan dikotomi palsu antara pengobatan tradisional dan modern. Seolah-olah kita harus memilih salah satu dan menolak yang lain. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Banyak obat modern yang kita konsumsi sehari-hari sebenarnya berasal dari tanaman.
Aspirin yang menjadi andalan jutaan orang untuk mengatasi nyeri dan demam awalnya diekstrak dari kulit pohon willow. Morfin yang digunakan untuk meredakan nyeri hebat berasal dari bunga opium. Digoxin untuk penyakit jantung ditemukan dalam tanaman foxglove. Bahkan kemoterapi untuk kanker banyak yang berbasis senyawa dari tanaman. Jadi, apa bedanya dengan mengonsumsi tanaman langsung jika memang efektif?
Perbedaannya sebenarnya lebih pada kemasan, branding, dan siapa yang mendapat keuntungan ekonomi. Ketika perusahaan farmasi multinasional mengisolasi senyawa aktif dari tanaman, mensintesisnya di laboratorium, dan menjualnya dengan harga mahal, itu disebut obat modern yang ilmiah. Tetapi ketika masyarakat tradisional mengonsumsi tanaman asli dengan cara yang sama seperti yang dilakukan nenek moyang mereka, itu dianggap kuno dan tidak ilmiah. Logika macam apa ini?
Hal yang kita butuhkan adalah integrasi yang bijaksana. Ada kondisi medis yang memang memerlukan intervensi farmasi modern seperti antibiotik untuk infeksi berat atau insulin untuk diabetes. Tetapi ada juga banyak keluhan ringan hingga sedang yang sebenarnya bisa ditangani dengan pendekatan herbal yang lebih aman dan minim efek samping.
Masuk angin tidak selalu butuh antibiotik. Wedang jahe bisa jadi solusi yang lebih baik. Gangguan pencernaan ringan tidak harus langsung minum antasida kimia. Temulawak atau kunyit asam mungkin lebih tepat. Insomnia tidak perlu langsung mengandalkan obat tidur yang bikin ketergantungan. Teh chamomile atau daun pegagan bisa menjadi alternatif yang lebih aman.
Ketergantungan yang Membahayakan Kedaulatan
Indonesia saat ini sangat bergantung pada impor obat dan bahan baku farmasi. Sebagian besar obat yang beredar di pasaran diproduksi atau menggunakan bahan baku dari luar negeri. Ketika terjadi gangguan rantai pasokan global seperti saat pandemi kemarin, kita kebingungan. Harga obat melambung, beberapa jenis obat langka di pasaran, dan sistem kesehatan kita terancam kolaps.
Ironinya, negara lain justru memanfaatkan kekayaan hayati kita untuk kepentingan mereka. Banyak tanaman obat asli Indonesia yang diteliti, dikembangkan, dan dipatenkan oleh perusahaan asing, lalu dijual kembali kepada kita dengan harga mahal. Hal tersebut adalah bentuk pencurian intelektual modern yang terjadi karena kita sendiri tidak menghargai aset yang kita miliki.
Bayangkan saja jika kita serius mengembangkan industri farmasi berbasis tanaman lokal. Kita bisa mandiri dalam menyediakan obat-obatan untuk rakyat, menciptakan lapangan kerja bagi petani dan peneliti, mengurangi ketergantungan impor, dan yang paling penting, melestarikan warisan budaya yang hampir punah. Tetapi semua itu membutuhkan political will yang kuat dan perubahan paradigma yang fundamental.
Sayangnya, pemerintah masih setengah hati dalam mendukung pengembangan farmasi alam. Anggaran penelitian untuk tanaman obat sangat kecil dibanding subsidi untuk industri farmasi modern. Regulasi untuk produk herbal jauh lebih ketat dan berbelit dibanding obat sintetis. Petani tanaman obat tidak mendapat insentif memadai sehingga lebih memilih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Globalisasi yang Menggerus Identitas Lokal
Globalisasi membawa banyak manfaat, tetapi juga membawa ancaman serius terhadap keberagaman budaya dan pengetahuan lokal. Dalam konteks kesehatan, globalisasi telah menghadirkan homogenisasi praktik medis di seluruh dunia. Model kedokteran Barat menjadi standar universal yang harus diikuti semua negara, terlepas dari konteks budaya, sejarah, dan kearifan lokal mereka.
Indonesia dengan begitu mudahnya menerima standar ini tanpa mempertanyakan relevansinya dengan kondisi kita. Kita mengadopsi sistem kesehatan yang dikembangkan di negara-negara beriklim sedang untuk diterapkan di negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang jauh berbeda. Kita meniru pola konsumsi obat negara maju padahal struktur penyakit dan daya beli masyarakat kita sangat berbeda.
Yang lebih parahnya, globalisasi juga membawa masuk hegemoni korporasi farmasi multinasional yang punya kepentingan ekonomi sangat besar. Mereka tidak akan senang jika masyarakat Indonesia lebih memilih menanam jahe di halaman rumah ketimbang membeli obat flu buatan mereka. Mereka tidak akan mendapat untung jika dokter meresepkan temulawak ketimbang obat liver impor yang harganya puluhan kali lipat lebih mahal.
Lobby korporasi tersebut sangat kuat dalam mempengaruhi kebijakan kesehatan, kurikulum pendidikan medis, bahkan persepsi publik tentang apa yang dianggap pengobatan yang sah dan tidak. Melalui iklan masif, sponsorship event kedokteran, dan berbagai strategi marketing lainnya, mereka berhasil menciptakan narasi bahwa obat modern adalah satu-satunya solusi yang legitimate, sementara pengobatan tradisional adalah tahayul yang harus ditinggalkan.
Menengok Negara Lain yang Lebih Bijak
Sementara Indonesia semakin meninggalkan tradisinya, negara lain justru berlomba mengembangkan pengobatan tradisional mereka. Tiongkok dengan Traditional Chinese Medicine sudah mendunia dan menjadi industri bernilai triliunan rupiah. Pemerintah Tiongko bahkan memasukkan TCM ke dalam kurikulum sekolah kedokteran dan membangun rumah sakit khusus TCM di berbagai negara.
India dengan sistem Ayurveda-nya juga tidak mau kalah. Mereka mendirikan kementerian khusus untuk pengobatan tradisional, membangun pusat-pusat riset, dan mengekspor produk herbal ke seluruh dunia. Jerman, negara yang sangat maju dalam teknologi medis, justru memiliki regulasi yang jelas dan mendukung penggunaan obat herbal. Bahkan ada komisi khusus yang mengevaluasi keamanan dan efikasi tanaman obat dengan standar ilmiah yang ketat.
Apa yang membuat negara-negara ini berhasil? Mereka tidak melihat tradisional dan modern sebagai dua hal yang bertentangan. Kemudian, mereka berinvestasi serius dalam riset untuk membuktikan efikasi pengobatan tradisional dengan metode ilmiah modern. Lalu, mereka bangga dengan warisan budaya mereka dan tidak merasa inferior dibanding Barat.
Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik. Kita punya keanekaragaman hayati yang jauh lebih kaya, kita punya tradisi pengobatan yang beragam dari berbagai suku, kita punya sejarah panjang dalam penggunaan jamu dan ramuan. Tetapi semua potensi itu tidak akan berarti apa-apa jika kita sendiri tidak percaya dan tidak mau mengembangkannya.
Saatnya Bangkit dari Amnesia Kolektif
Kita sedang mengalami semacam amnesia kolektif sebagai bangsa. Melupakan siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa yang membuat kita unik. Dalam konteks kesehatan, kita melupakan bahwa nenek moyang kita telah bertahan hidup selama ribuan tahun dengan mengandalkan farmasi alam. Mereka tidak punya antibiotik tetapi mereka punya sambiloto. Mereka tidak punya antasida tetapi mereka punya temulawak. Mereka tidak punya obat penurun panas sintetis tetapi mereka punya jahe dan kunyit.
Tentu saja, kita tidak bisa dan tidak perlu kembali sepenuhnya ke cara hidup nenek moyang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi medis modern telah membawa banyak manfaat yang tidak bisa diabaikan. Tetapi kita juga tidak perlu membuang semua warisan berharga hanya karena ingin terlihat modern dan maju.
Hal yang kita butuhkan adalah keseimbangan. Menghormati tradisi sambil merangkul inovasi. Menggunakan teknologi modern untuk memvalidasi dan mengembangkan pengetahuan tradisional, bukan untuk menggantikannya. Memberikan ruang bagi farmasi alam untuk hidup berdampingan dengan farmasi modern dalam sistem kesehatan nasional.
Generasi muda perlu dididik untuk menghargai warisan ini. Bukan dengan cara memaksa mereka minum jamu pahit setiap pagi, tetapi dengan memberikan pemahaman tentang mengapa tradisi ini penting, apa manfaatnya, dan bagaimana relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Pendidikan tentang etnobotani dan farmakognosi harus masuk ke kurikulum sekolah, bukan hanya sebagai pengetahuan tambahan tetapi sebagai bagian integral dari literasi kesehatan.
Kebun sebagai Apotek Masa Depan
Bayangkan jika setiap keluarga Indonesia kembali menanam tanaman obat di pekarangan rumah mereka. Jahe, kunyit, temulawak, daun sirih, kumis kucing, lidah buaya, daun salam, sereh, dan puluhan tanaman lain yang mudah ditanam. Ketika ada anggota keluarga yang sakit ringan, solusi pertama bukan lari ke apotek tetapi ke kebun sendiri.
Hal tersebut adalah langkah praktis menuju kedaulatan kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Dengan menanam sendiri, kita tahu persis apa yang kita konsumsi, tanpa pestisida berbahaya, tanpa bahan kimia tambahan. Kita juga menghemat biaya kesehatan yang terus membengkak. Hal yang terpenting adalah kita memutus rantai ketergantungan pada sistem yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
Pemerintah seharusnya mendorong gerakan tersebut dengan menyediakan bibit gratis, pelatihan budidaya tanaman obat, dan edukasi tentang pengolahan yang benar. Sekolah-sekolah bisa membuat program taman obat keluarga di mana siswa belajar menanam dan merawat tanaman obat. Puskesmas dan posyandu bisa menjadi pusat edukasi penggunaan herbal untuk keluhan kesehatan ringan.
Tentu saja, untuk penyakit serius seperti kanker, jantung, atau infeksi berat, kita tetap membutuhkan intervensi medis modern. Tetapi untuk mayoritas keluhan kesehatan sehari-hari yang ringan hingga sedang, farmasi alam bisa menjadi lini pertama yang aman, efektif, dan terjangkau.
Warisan yang Hampir Lenyap
Kita berdiri di persimpangan sejarah. Satu jalan menuju kepunahan total warisan farmasi alam nusantara. Jalan lain menuju kebangkitan dan revitalisasi tradisi dengan sentuhan modernitas. Pilihan ada di tangan kita semua, bukan hanya pemerintah atau akademisi, tetapi setiap individu yang peduli dengan masa depan kesehatan bangsa.
Setiap kali kita memilih membeli obat kimia untuk keluhan ringan yang sebenarnya bisa diatasi dengan ramuan tradisional, kita memberikan suara untuk kepunahan farmasi alam. Setiap kali kita menertawakan jamu sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, kita meludahi kebijaksanaan nenek moyang. Setiap kali kita membiarkan tanaman obat di halaman rumah mati karena tidak terawat, kita kehilangan satu lagi akses menuju kesehatan mandiri.
Sebaliknya, setiap kali kita memilih menyeduh jahe ketimbang langsung minum obat flu, kita menyelamatkan tradisi. Setiap kali kita menanam satu pohon kelor atau temulawak, kita menanam harapan. Setiap kali kita berbagi pengetahuan tentang khasiat tanaman obat kepada generasi muda, kita memperpanjang umur warisan yang hampir punah.
Farmasi alam adalah filosofi kehidupan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup harmonis dengan alam, tidak mengeksploitasi tetapi bersimbiosis. Ia adalah pengingat bahwa solusi untuk banyak masalah kita sebenarnya sudah tersedia di sekitar kita, jika saja kita mau membuka mata dan hati.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton pasif dalam drama kepunahan warisan sendiri. Sudah saatnya kita mengambil kembali kendali atas kesehatan kita, tidak menyerahkannya sepenuhnya kepada sistem yang tidak selalu punya kepentingan terbaik untuk kita. Sudah saatnya kebun kembali menjadi apotek, dan tradisi kembali menjadi bagian dari modernitas, bukan musuhnya.

