Konten dari Pengguna

Natal yang Sama, Pertanyaan yang Berbeda

Vincent Kristianto
Vincent Kristianto, kelahiran Bandung 2009. Siswa kelas XI SMA Trinitas. Menulis untuk melatih kata-kata karena ia bisa membangun dan menghancurkan.
14 Desember 2025 3:40 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Natal yang Sama, Pertanyaan yang Berbeda
Ketika natal datang dengan wajah familiar, kita duduk di tengah pertanyaan tanpa jawaban. Tentang Tuhan, hidup, dan kekosongan yang dipoles dengan dekorasi meriah setiap Desember.
Vincent Kristianto
Tulisan dari Vincent Kristianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://www.pexels.com/photo/close-up-shot-of-red-and-white-christmas-bauble-14548693/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/photo/close-up-shot-of-red-and-white-christmas-bauble-14548693/
Setiap Desember tiba dengan wajah yang familiar. Lampu berkedip di sudut jalan. Lagu yang sama diputar di setiap mal. Natal datang seperti tamu lama yang kita sudah tahu akan mengetuk pintu, membawa senyum sopan dan ucapan yang telah dihapal di luar kepala.
Dan entah kenapa, tahun ini seperti tahun lalu. Tahun lalu seperti tahun sebelumnya. Kita duduk di Gereja yang sama, menyanyikan lagu yang sama, mendengar khotbah tentang bayi di palungan yang sama. Pulang ke rumah, makan bersama, tertawa sopan, lalu tidur. Besok seperti kemarin. Besok lusa seperti hari ini.
Mungkin bukan natalnya yang membosankan. Mungkin kita yang sudah terlalu lelah untuk heran.
Ada yang aneh dengan cara kita merayakan sesuatu yang seharusnya luar biasa. Kita bicara tentang Tuhan yang turun menjadi manusia, tentang yang tak terbatas masuk ke dalam tubuh yang terbatas, tentang pencipta langit dan bumi yang memilih lahir di kandang hewan. Itu cerita yang seharusnya membuat kita jatuh terduduk, gemetar, atau minimal bertanya dengan keras.
Tapi kita tidak. Kita hanya mengangguk. Menyanyikan lagu. Makan kue nastar. Pulang.
Apakah karena kita sudah terlalu sering mendengarnya sampai cerita itu kehilangan keajaibannya? Seperti melihat matahari terbit setiap pagi sampai kita lupa bahwa itu sebenarnya pemandangan yang mustahil. Bola api raksasa di langit, menghidupi seluruh planet, dan kita cuma lewat sambil memegang kopi.
Atau mungkin kita takut untuk benar-benar memikirkannya. Takut kalau kita mulai bertanya, pertanyaannya akan terlalu besar untuk dijawab.
Kalau Tuhan benar-benar ada dan benar-benar peduli, kenapa dunia masih seperti ini? Kenapa ada anak yang kelaparan di hari natal yang sama ketika kita mengeluh tentang kalkun yang terlalu kering? Kenapa ada orang yang mati sendirian sementara kita berfoto untuk instagram dengan filter salju yang lucu?
Dan kalau natal adalah tentang kedatangan juru selamat, kenapa rasanya tidak ada yang berubah? Kenapa kita masih bangun dengan kegelisahan yang sama, pertengkaran yang sama, kesepian yang sama? Kenapa keselamatan terasa seperti konsep yang indah di lagu rohani tapi tidak pernah benar-benar menyentuh bagian dalam diri kita yang masih rusak?
Mungkin kita tidak bertanya karena kita takut jawabannya adalah keheningan.
Atau lebih buruk lagi, mungkin kita takut jawabannya adalah bahwa kita sendiri yang tidak mau diselamatkan. Bahwa kita lebih nyaman dengan rutinitas natal yang aman daripada transformasi yang menakutkan.
Di luar sana, di kegelapan luar angkasa yang dingin dan tak berujung, miliaran galaksi berputar tanpa mengenal hari raya. Bintang-bintang meledak dan mati. Planet-planet berputar di orbit yang sunyi. Lubang hitam melahap segala sesuatu tanpa ampun.
Dan di satu planet kecil berwarna biru, di satu benua, di satu kota, di satu Gereja, kita menyalakan lilin dan bernyanyi tentang damai di bumi. Kita berpura-pura bahwa alam semesta peduli dengan ritual kecil kita ini.
Tapi mungkin justru di situ letak keajaibannya. Atau kegilaannya.
Bahwa di tengah ketidakpedulian kosmos yang luas ini, kita masih memilih untuk percaya. Masih memilih untuk menyalakan lilin meskipun kegelapan begitu besar. Masih memilih untuk bernyanyi meskipun suara kita terasa begitu kecil.
Apakah itu iman atau delusi? Apakah ada bedanya?
Hal yang paling mengganggu dari natal mungkin bukan tentang apa yang dirayakan, tapi tentang apa yang tidak terjadi setelahnya. Kita merayakan Tuhan yang berbicara, tapi kemudian Dia diam. Kita merayakan Tuhan yang datang, tapi kemudian Dia pergi. Atau mungkin Dia tidak pernah benar benar ada di sini sejak awal.
Ada orang yang berdoa setiap malam dan tidak pernah mendapat jawaban. Ada orang yang percaya dengan sepenuh hati dan tetap kehilangan segalanya. Ada orang yang sudah melakukan semua yang benar dan hidupnya tetap hancur.
Dan kita duduk di Gereja pada malam natal, menyanyikan tentang Immanuel, Tuhan yang beserta kita. Tapi apakah Dia benar-benar bersama kita? Atau kita hanya bernyanyi untuk menutupi keheningan yang menakutkan?
Mungkin natal terasa sama karena kita sudah terbiasa dengan ketidakhadiran yang dipoles dengan dekorasi dan lagu. Kita sudah terbiasa dengan Tuhan yang lebih nyaman sebagai ide daripada sebagai realitas yang mengganggu.
Di penghujung tahun, di tengah perayaan yang meriah, merasa kosong. Tidak berani mengakuinya dengan keras karena semua orang terlihat bahagia. Tidak berani bertanya karena pertanyaannya terasa terlalu gelap untuk malam yang penuh cahaya.
Tapi mungkin justru ketiadaan harap itu yang paling jujur.
Mungkin orang yang paling dekat dengan kebenaran natal bukan mereka yang bernyanyi paling keras atau tersenyum paling lebar, tapi mereka yang duduk di belakang Gereja dengan mata kosong, bertanya dalam hati apakah semua ini ada artinya.
Mungkin pertanyaan yang tidak terjawab lebih berharga daripada jawaban yang terlalu cepat. Mungkin keraguan lebih mulia daripada kepastian yang palsu. Mungkin ketiadaan harap adalah awal dari harapan yang sejati, harapan yang tidak dibangun di atas ilusi tapi di atas kesediaan untuk menghadapi kegelapan.
Jadi natal datang lagi. Dengan lagu yang sama, dekorasi yang sama, ritual yang sama. Dan kita masih di sini, masih bertanya, masih bingung, masih mencari sesuatu yang mungkin tidak ada atau mungkin terlalu besar untuk kita pahami.
Mungkin natal tidak seharusnya terasa istimewa. Mungkin natal hanya cermin yang menunjukkan bahwa kita sudah terbiasa dengan keajaiban sampai kita tidak lagi melihatnya. Atau mungkin tidak pernah ada keajaiban sejak awal, hanya kita yang sangat ingin percaya ada sesuatu yang lebih besar dari kehampaan ini.
Tapi kita tetap datang. Tahun ini seperti tahun lalu. Menyalakan lilin. Bernyanyi. Bertanya dalam hati. Pulang dengan pertanyaan yang sama.
Dan mungkin itu sudah cukup. Atau mungkin tidak akan pernah cukup.
Kita tidak tahu. Dan mungkin tidak apa.
Trending Now