Konten dari Pengguna

Siang yang Bertanya

Vincent Kristianto
Vincent Kristianto, kelahiran Bandung 2009. Siswa kelas XI SMA Trinitas. Menulis untuk melatih kata-kata karena ia bisa membangun dan menghancurkan.
23 November 2025 4:10 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Siang yang Bertanya
Refleksi filosofis tentang eksistensi dan kebebasan manusia. Dari kejenuhan rutinitas menuju kesadaran bahwa setiap momen adalah kanvas baru untuk dipilih dan dijalani.
Vincent Kristianto
Tulisan dari Vincent Kristianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber: gambar pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber: gambar pribadi
Siang itu menggantung seperti pertanyaan tanpa jawaban di langit rumahku. Aku duduk di tepi jendela kamar yang menghadap halaman belakang, menatapi daun-daun mangga yang bergetar lemah ditiup oleh angin. Cahaya matahari memecah dirinya menjadi ribuan serpihan emas di permukaan lantai keramik, seolah waktu sendiri sedang bercerai-berai di hadapanku.
Mengapa aku berada di sini? Pertanyaan itu muncul tiba-tiba seperti tamu yang datang tanpa diundang. Pertanyaannya bukan tentang lokasi fisik, tetapi tentang keberadaan ini sendiri. Aku ingat pagi tadi sebelum aku memutuskan untuk duduk di sini, aku merasa lelah dengan rutinitas yang terus berputar seperti jarum jam yang tak pernah berhenti. Bangun tidur, mandi, sarapan, sekolah, pulang, tidur lagi. Lalu apa? Siklus itu berulang tanpa pernah bertanya apakah aku menginginkannya atau tidak.
Siapa sebenarnya aku di tengah semua ini? Nama yang tercantum di kartu identitas terasa seperti label yang ditempelkan dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku merasa benar-benar hidup, bukan hanya sekadar menjalani hari. Mungkin saat masih kecil, ketika setiap pagi adalah petualangan baru dan setiap sudut rumah ini menyimpan misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Tapi sekarang, rumah ini hanya dinding yang membatasi, lantai yang menginjak, atap yang melindungi. Bukan lagi dunia.
Di mana sebenarnya kehidupan sejati itu berada? Apakah di luar sana, di antara hiruk pikuk kota yang selalu bergerak cepat? Ataukah justru di sini, di dalam kesunyian siang yang membisu ini? Aku melihat jam dinding di seberang ruangan. Jarum detiknya bergerak seperti kaki lelaki tua yang terus berjalan meski tak tahu ke mana tujuannya. Filsuf Yunani kuno pernah berkata bahwa kita tidak pernah melangkah ke sungai yang sama dua kali, karena air terus mengalir dan kita pun terus berubah. Tapi bagaimana jika yang kurasakan justru sebaliknya? Bagaimana jika aku terjebak dalam sungai yang sama, terus berputar di pusaran yang itu-itu saja?
Kapan semua ini berubah? Atau lebih tepatnya, kapan aku berhenti berubah? Ada masa ketika aku penuh mimpi, ketika aku percaya bahwa dunia ini adalah kanvas kosong yang menunggu goresan kuasku. Tapi entah sejak kapan, aku mulai melukis dengan warna yang sama, garis yang sama, pola yang sama. Takut keluar dari garis. Takut salah. Takut dinilai. Takut hidup.
Debu-debu melayang di udara, tertangkap oleh cahaya matahari yang menerobos masuk. Mereka menari-nari tanpa tujuan, tapi ada keindahan dalam ketidakberaturan itu. Mereka tidak bertanya kemana mereka akan pergi. Mereka tidak khawatir tentang makna. Mereka hanya ada, bergerak mengikuti hembusan angin yang tak terlihat.
Bagaimana caranya hidup seperti debu itu? Bagaimana caranya melepaskan semua beban pertanyaan yang kutumpuk di pundak selama ini? Mungkin jawaban itu tidak pernah ada. Mungkin yang penting bukan menemukan jawaban, tapi terus bertanya. Socrates bilang bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dijalani. Tapi bagaimana jika refleksi itu sendiri yang membuatku lumpuh?
Aku bangkit dari dudukku, berjalan menuju meja di sudut ruangan. Ada secangkir kopi yang sudah dingin, sisa dari pagi tadi. Kopi itu seperti waktu yang tertinggal, cairan cokelat kehitaman yang diam membeku dalam gelasnya. Aku angkat gelas itu, merasakan dinginnya permukaan kaca di telapak tanganku. Ini nyata. Sensasi ini nyata. Mungkin itulah yang perlu kuingat. Bahwa di tengah semua pertanyaan filosofis tentang makna dan tujuan, ada hal-hal sederhana yang nyata. Dinginnya gelas. Hangatnya cahaya matahari. Getaran daun di luar jendela.
Eksistensialisme mengajarkan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kita tidak punya esensi yang ditentukan sebelumnya. Kita menciptakan diri kita sendiri melalui pilihan-pilihan yang kita ambil. Tapi kebebasan itu menakutkan. Lebih mudah mengikuti arus, melakukan apa yang orang lain harapkan, menjalani hidup yang sudah dirancang oleh sistem. Lebih mudah menjadi boneka daripada menjadi dalang.
Tapi siang ini, di rumah yang sunyi ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin ini yang disebut pencerahan kecil. Bukan pencerahan dalam artian pencapaian spiritual yang agung, tetapi sekadar kesadaran sederhana bahwa aku masih bisa memilih. Setiap detik adalah pilihan. Untuk duduk atau berdiri. Untuk diam atau berbicara. Untuk menerima atau menolak. Untuk hidup atau sekadar bertahan.
Waktu terus berjalan seperti sungai Heraclitus itu. Tapi mungkin yang penting bukan menghentikan alirannya atau melawannya, melainkan belajar berenang di dalamnya. Dengan gaya sendiri. Dengan irama sendiri. Bahkan jika sesekali aku tenggelam, setidaknya aku tahu bahwa aku sedang berenang, bukan sekadar terapung-apung dibawa arus.
Jendela di hadapanku kini seperti bingkai lukisan. Langit biru, awan putih bergerak perlahan, daun-daun yang menari. Semua itu indah bukan karena mereka memiliki makna khusus, tetapi karena mereka ada. Keberadaan itu sendiri sudah cukup. Mungkin aku juga begitu. Keberadaanku tidak perlu dibenarkan oleh pencapaian besar atau pengakuan orang lain. Aku ada, maka aku ada. Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada. Tapi lebih dari itu, aku merasa maka aku hidup.
Siang ini akan berlalu. Malam akan datang. Besok akan menjadi hari baru dengan rutinitas yang sama. Tapi mungkin aku akan membawa sesuatu yang berbeda ke dalam rutinitas itu. Kesadaran. Kesadaran bahwa setiap momen adalah pilihan. Setiap napas adalah kesempatan. Setiap detik adalah kanvas baru.
Aku menutup mata, merasakan kehangatan matahari di wajahku. Angin masuk membawa aroma rumput yang baru dipotong. Suara burung di kejauhan. Dunia tidak berhenti bergerak hanya karena aku berhenti untuk merenungkannya. Tapi dengan merenungkannya, aku menjadi bagian yang lebih sadar dari gerakan itu.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan hidup. Bukan hanya tentang menemukan semua jawaban, tetapi tentang tetap bertanya sambil terus berjalan. Bukan tentang mencapai tujuan tertentu, tetapi tentang menghargai setiap langkah dalam perjalanan. Bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi manusiawi dengan segala pertanyaan dan keraguannya.
Dan di siang yang terus bergerak ini, di rumah yang diam ini, aku memutuskan untuk terus hidup. Bukan sekadar menjalani hari, tetapi hidup dengan kesadaran penuh. Dengan semua pertanyaan. Dengan semua keraguan. Dengan semua harapan kecil yang masih bersembunyi di sudut-sudut hati yang sudah lelah ini.
Karena pada akhirnya, itulah satu-satunya hal yang benar-benar kumiliki. Pilihan untuk terus bertanya, terus mencari, dan terus hidup.
Trending Now